“Deandra, ini adalah hal yang baik. Sungguh baik. Dan ini bisa saja pertanda dari semesta,” dengan haru, Ibu menatap gue.
“Tanda apa, Ma?” Gue menatapnya. Belum mengerti akan maksud ucapannya. “Tanda jika takdir tidak pernah mempermainkanmu, seperti yang kamu pikirkan selama ini.” Gue tertegun. Di benak ini bertanya-tanya, mengapa Ibu membawa-bawa takdir. Kemudian tanpa gue meminta, “Claire, coba kasih lihat ke Deandra.” Ibu memberi intruksi kepada Claire untuk menunjukkan isi surat tersebut.
Gue membaca setiap baris itu perlahan, satu per satu, seolah setiap kata adalah beban kecil yang harus gue pikul hati-hati. Setiap titik menjadi alasan untuk menarik napas, menenangkan dada yang mulai terasa sesak. Pada paragraf berikutnya, pandangan gue mengabur—ada hangat yang tiba-tiba menggenang di sudut mata. Dan sebelum sampai pada kalimat terakhir, tanpa gue sadari air mata ini jatuh begitu saja, mengalir deras melewati pipi.
“Deandra…” Ibu memanggil pelan, pecah oleh sisa tangis yang bergetar di ujung kalimatnya. “Kamu harus cari Ibu kandungmu. Temui beliau tanpa rasa kebencian.” Suara Ibu tegas, namun penuh luka, seolah ikut merasakan bagaimana kepiluan yang dialami oleh ibu kandung gue. “Ini permintaan Mama,” lanjutnya, menatap mata gue dalam-dalam. “Iya, Ma. Andra ngerti.”
“Siapa sangka, petunjuk penting ini justru datang dari kamu, Claire. Tante benar-benar berterima kasih ya, tindakanmu ini mulia sekali,” ucap Ibu bersyukur. “Iya, Tante. Claire cuma bisa berharap, semoga dengan apa yang Claire lakuin ini, bisa membayar semua kesedihan yang Kak Deandra rasakan selama ini. Walaupun Claire tau ini tidak akan cukup.” Claire menunduk, tampak berat hati.
“Nggak Claire, ini udah lebih dari cukup. Kak Andra justru awalnya tidak berekspektasi apa-apa dari kamu. Namun, nyatanya diam-diam kamu berinisiatif untuk menyatukan kami. Itu sangat luar biasa,” balas gue, merasa bangga kepadanya.
“Oh, ya! Tapi aku penasaran, gimana caranya kamu bisa dapetin alamat rumah ini?” lanjut gue, yang dari tadi berusaha memikirkan segala kemungkinan yang ada. Karena gue tidak ingat jika pernah memberitahunya soal rumah ini. “Oh, itu…” Claire tersenyum. Lalu ia menunjukkan sebuah kertas kecil bertuliskan beberapa angka yang sulit terbaca—seolah-olah ditulis terburu-buru. “Ini apa?” Gue penasaran.
“Ini nomor temen Kakak yang waktu itu ikut Kakak ke rumah,” jawabnya datar. Gue dan Ibu saling bertukar pandangan. “Si Abay maksud kamu?” tanya Ibu memastikan. Claire mengangguk. “Hah! Kapan ngasihnya? Aku nggak liat,” heran gue langsung mengingat-ingat. Claire tersenyum semakin lebar.
“Temen Kakak tuh genit banget tau. Godain Claire terus setiap ada kesempatan.” Mendengar itu, rasanya kedua telinga gue akan mengeluarkan asap amarah yang masih tersisa. Bukan karena ia genit ke adik tiri gue, tapi karena tindakannya yang—sempat-sempatnya curi-curi peluang di saat kondisi gue saat itu sedang… ah, sudahlah. Abay! Tunggu pembalasan gue!
“Kamu pasti lelah sekali beberapa hari ini. Jangan buru-buru pulang dulu ya, cobain masakan Tante dulu,” lanjut Ibu, sambil bergegas ke arah dapur. Sementara gue merasa canggung karena hanya berduaan dengan Claire. “Sekali lagi makasih ya Claire. Kamu udah effort banget untuk cari Kakak, padahal kamu punya pilihan untuk diam dan cuek,” ucap gue, berterima kasih dengan tulus.
“Iya Kak. Selain untuk Kakak, aku juga ngelakuin ini untuk diri sendiri. Karena jika aku berada di posisi Kakak, pasti aku juga sangat membutuhkan jawaban dari keberadaanku,” balasnya, menatap dan mendekat ke arah gue. Lalu tampak ragu-ragu, ia berkata dengan lembut, “Kak, boleh aku peluk Kakak?” Suaranya bergetar di akhir. Ternyata, seorang Claire pun memiliki lukanya sendiri. Gue tersenyum, dan menyambutnya dengan hangat.
Kami berpelukan.