Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #31

Eps. 30 Kenangan yang enggan pergi

“Deandra! Ini kamar atau posko penampungan bencana alam!” suara Ibu menggema begitu pintu kamar gue terbuka. Ibu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi campuran antara kaget, pasrah, dan ingin menyerah untuk hidup. Dengan mata yang baru terbuka satu mili senti, gue menatap Ibu sambil mengumpulkan nyawa.

“Haa? Apa, Ma? Bencana? Gempa?!” refleks gue lompat dari kasur seperti orang persiapan lompat indah, hap! Gue panik, cari-cari barang paling berharga untuk diselamatkan—scrapbook, kamera polaroid, dan… itu saja.

Tiba-tiba, “Iih!” suara Ibu mengerang. Lalu sebuah jeweran langsung mendarat di telinga gue. Arrgh! Ma!

“Ini kamarmu kayak habis diguncang gempa sepuluh skala Ritcher, berantakan!” Ibu mulai ceramah maraton. “Baju kotor di mana-mana, piring bekas makan bukannya dibalikin ke dapur. Ini lagi… sampah udah numpuk bukannya dibuang malah dikoleksi! Kamu pikir ini museum daur ulang?!”

Gue cuma bisa diam mematung menerima serangan omel Ibu. “Pokoknya hari ini harus diberesin! Mumpung libur kan?” lanjutnya sebelum membanting pintu kamar. Gubrak!

Ya, beginilah kondisi gue saat ini. Karena banyaknya hal yang menghantam akhir-akhir ini, gue jadi tidak sempat untuk mengurus diri sendiri—apalagi kamar ini. Wajar jika Ibu gue bereaksi seperti itu. Gue sendiri juga tidak habis pikir bisa tidur di ruangan se-chaos ini.

Setelah menyantap sarapan buatan Ibu yang entah kenapa terasa seperti ‘makanan terakhir’ sebelum turun ke medan perang, gue menghela napas panjang. Oke, waktunya mulai proses evakuasi benda-benda asing di kamar. Baca: sampah.

Gue pakai sarung tangan agar tidak tercemar kotoran dan kuman yang menyebar. Gue pakai juga sarung kaki agar terlindungi dari benda-benda berserakan—lalu masker kecantikan, kacamata renang, helm pemusnah ketampanan, dan terakhir… sepatu futsal. Ini mau beres-beres atau ikut lomba cosplay orang stres!

Gue mulai proses exorcise ini dengan mengumpulkan semua sampah ke satu kantong besar. Lalu gue keluarkan satu per satu benda yang tidak seharusnya ada di kamar ini, termasuk peralatan makan bekas pakai semalam—ingat! Bukan malas, tapi sibuk (pembelaan). Ada pisau dapur, talenan, adonan, telur, terakhir tabung gas 3 kilogram. Ini gue makan apa cari sampingan jual martabak sih!

Setelah itu, gue kembalikan setiap benda yang berceceran ke tempat seharusnya berada. Sisanya tinggal memasukkan pakaian kotor ke keranjang laundry. “Ah, akhirnya… tampak normal,” gumam gue, yang hanya menghabiskan waktu kurang dari lima belas menit untuk membersihkannya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, “Nah, gini dong. Kan enak diliha—huwaaahaha!” Syok Ibu mirip orang kehabisan napas. Matanya melotot melihat outfit gue. Padahal gue hanya berdiri kaku di pojok ruangan. “Kamar udah bersih, kamunya yang berantakan!” Gubrak! Ibu banting pintu lagi. “Hadeh, pria emang tempatnya salah…”

Di saat semua barang-barang sudah kembali tertata dengan baik, tiba-tiba mata gue menangkap sekotak kardus kecil tergeletak di atas lantai dekat ranjang, seperti anak hilang lupa dijemput. “Yaelah masih ada satu,” gumam gue, menghampiri kotak yang berisi benda-benda dari masa sekolah gue dulu. Karena sudah lama tidak melihat benda-benda itu, gue pun membuka tutupnya dan membongkarnya satu per satu.

Lihat selengkapnya