Jglek! Pintu barbershop terbuka. Sontak gue terkejut melihat sesosok wanita yang tidak gue sangka-sangka telah datang. “Sonya!” gumam gue, melihatnya berjalan menghampiri gue yang membatu. Suara mesin pencukur masih menyala. Errr… errr… Custumer yang sempat terkantuk-kantuk—kebingungan. “Kenapa, bro?” tanyanya, memastikan kenapa gue berhenti di tengah jalan.
“Oh, maaf-maaf, bro.” Gue lanjut fokus bekerja, sementara Sonya terlihat sedang duduk di kursi tunggu dengan tenang. Sesekali ia tersenyum ke gue yang terlihat dari pantulan kaca, membuat gue salah tingkah dan berimajinasi ke mana-mana.
Beberapa saat kemudian, “Thanks ya, bro. Always the best!” seru costumer gue, sesaat setelah selesai membayar. Kemudian dengan percaya diri ia menghampiri Sonya. “Sori, kita pernah kenalan nggak sebelumnya? Kok rasanya familiar ya?” tanyanya, yang entah hanya basa-basi atau betulan. Tampak Sonya tidak nyaman. “Hmm, kayaknya nggak deh,” jawabnya datar.
“Oh, gitu. Kalo gitu gimana kalo dimulai dari sekarang aja kenalannya? Nama gue, Ben.” Custumer itu menyodorkan tangan, tapi tidak terbalas. Sonya hanya menatap tajam dengan satu alis terangkat. Merasa diabaikan, costumer pria itu tampak hendak mengeluarkan emosinya. Gue yang biasanya tidak suka ikut campur urusan orang, entah kenapa refleks menghampiri mereka, dan…
“Sayaaang, sori ya nunggu lama…” celetuk gue menatap Sonya dengan senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sontak Sonya terkejut, namun langsung menyadari maksud gue. “Ah, iya sayaaang, nggak apa-apa demi kamu.” Sonya tersenyum mengikuti alur. Custumer pria itu mendadak malu. “Oh, dia cewek lo, bro. Sori-sori, gue kirain custumer juga.” Pria itu panik. Gue pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. “Ha? Kenapa?”
“Maaf, ya,” lanjutnya, meminta maaf ke Sonya, dan bergegas pergi. Sonya pun tepuk tangan sesaat setelah pintu tertutup. “Wow, ternyata lo punya bakat acting terpendam ya, dean,” ucapnya bergegas berdiri menatap gue. “Makasih banget ya, udah bisa baca situasi barusan.” Gue menghela napas. “Kebiasaan cowok-cowok kayak gitu. Nggak bisa banget liat cewek nganggur. Dasar buaya rawa!”
Sonya terkekeh kecil, tetapi gue bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikannya, “Oh, ya, Dean. Sori gue ke sini nggak bilang-bilang dulu. Karena gue yakin… kalo gue bilang juga, lo nggak akan mau ketemu gue.” Nada suaranya berubah. Ada getar halus yang membuat dada gue ikut menegang.
“Nya, kita ngobrol di depan aja yuk,” dengan cepat gue berbisik di telinganya. “Di sini CCTV-nya nangkep suara juga soalnya.” Sonya mengangguk, lalu mengikuti gue keluar dari ruangan.