“Ah, kita kalah lagi. Lo sih, Bay! Gerakan lo kurang luwes,” protes Vero sambil mengerutkan dahi. Tangannya memukul-mukul ranjang seperti sedang mencari nada. “Kurang luwes gimana? Gue udah kayak ubur-ubur breakdance gini!” sewot Abay, bergerak asal ke sana kemari.
“Oke, saatnya kita kasih paham mereka, Dra,” seru Dimas penuh percaya diri. “Gue yang nebak, lo yang meragain, ya?” Gue memastikan. Dimas mengangguk mantap, mirip atlet profesional masuk final turnamen—padahal kami cuma main tebak profesi dari gerakan.
Malam ini, entah apa yang terjadi dengan semesta, semua teman dekat gue bisa berkumpul di kamar tercinta ini. Awalnya cuma Vero yang datang mau memberi oleh-oleh dari luar kota. Lalu Dimas menyusul dengan niat menginap karena permintaan istrinya yang sedang ngidam aneh: tidak mau melihat suaminya untuk sementara waktu. Abay ikut belakangan dengan alasan simple, “Feeling gue malam ini bakal seru.” Dan ternyata… benar.
“Yaelah, kemarin masih kayak di pojokan Ikea, bersih. Sekarang udah kayak kapal pecah lagi—berantakan,” gumam gue pasrah, melihat kondisi kamar yang tak sempat menyelamatkan diri dari ke-chaos-an ini.
Permainan kami pun terus berlanjut hingga larut malam. Dan akhirnya, dengan penuh kejayaan (dan sedikit hoki), tim gue dan Dimas keluar sebagai pemenang. Di sudut kamar, Vero menatap Abay dengan tatapan penuh pertanyaan, kekesalan, dan sedikit rasa mau lempar bantal. Abay sibuk membela diri, tapi debat mereka lama-lama makin pelan… makin lirih… sampai akhirnya, tanpa sadar, semuanya tumbang di tengah kamar yang sudah menyerah pada nasibnya ini.
Pagi hari, gue terbangun karena mimpi. Tampak Vero tidur sendirian di atas ranjang kesayangan gue. Sementara gue, Abay, dan Dimas terkapar manis di atas karpet yang ditumpuk matras dan bedcover—setup khas pria yang sanggup tidur di mana pun asal bisa rebahan.
Tak lama, Vero terbangun. Rambutnya mekar mirip ekor burung merak kena hairdryer dunia lain. Dia meregangkan badan, menguap panjang, “Hoaaaahem…” lalu pindah ke kursi. Kesempatan emas! Gue langsung berguling ke kasur, menikmati sensasi empuk yang menopang tubuh ini. Ah, nikmatnya…
“Lo bangun jam berapa?” tanya Vero tiba-tiba, sambil mengumpulkan nyawa. “Barusan kok, nggak lama sebelum lo,” jawab gue dengan mata terpejam. “Oh, ya, Dra. Gimana lo sama Sonya? Udah baikan?” Duar! Mata gue langsung terbuka. “Hah! I… Iya, udah kok,” jawab gue terbata-bata, teringat akan Sonya yang akhir-akhir ini sering menginap juga di kepala gue.
Vero maju mendekat. Ekspresinya serius. Padahal otak gue masih booting belum siap. “Dra, gue tau awal lo nggak percaya cinta karena ditinggal pergi sama cinta pertama lo.” Vero menatap dalam-dalam. Gue tidak nyaman. Matahari aja belum meniup terompet pagi, tapi masa lalu gue sudah dipanggil untuk upacara pagi.