“Nya, lo tau soal ini?” tanya gue, sambil menunjukkan buku tahunan sekolah kami. Sonya tidak bereaksi apa-apa. Matanya hanya menatap sampul buku dengan wajah kebingungan. “Apa maksud lo, Dean?” Ia mengambil buku itu pelan-pelan. Diperhatikannya sejenak. Sepertinya ia teringat akan sesuatu. “I… Ini bukannya buku tahunan sekolah gue ya? Kok lo bisa punya juga?”
Gue terdiam. Berpikir di kepala. Apa Sonya benar-benar tidak mengetahui jika ternyata kami bersekolah di sekolah yang sama? Atau ia hanya berpura-pura.
“Jadi… lo beneran nggak tau, Nya?” Sekali lagi gue memastikan. “Tau apa, Dean. Jelasin dong,” ucapannya terlihat meyakinkan. Gue pun luluh, percaya bahwa mungkin semesta yang telah mengatur pertemuan kami lagi.
“Coba lo buka deh. Terus langsung skip ke halaman kelas III-5. Dan lo cek satu per satu nama anak laki-laki di sana.” Sonya menurut dan mengikuti intruksi yang gue berikan.
“Hah?” Ekspresi wajahnya berubah. Matanya melebar, kedua alisnya berusaha menyatu. “I… Ini elo, Dra?!” Sonya langsung menatap gue. Membandingkan dengan apa yang sedang dilihatnya di buku. “Iya, itu gue. Ternyata kita satu sekolah dulu, cuma beda kelas aja.” Tampak ia tersenyum lebar. Masih tersisa kecurigaan di hati, tapi gue bungkam untuk sementara ini.
“Oh, ya? K—kok bisa sih?!” Sonya geleng-geleng kepala tidak percaya. “Reaksi gue juga sama, Nya. Nggak percaya.” Mungkin karena terlalu senang, Sonya menggenggam kedua tangan gue dan mengayun-ayunkannya sesaat. Namun ia segera menghempaskannya begitu menyadari jika dirinya telah melewati batas lagi. “Oh, sori-sori, Dean,” ucapnya kikuk. Gue hanya tersenyum kecil sambil mengusap rambut.
“Dulu, di saat itu… kita pernah ngobrol nggak ya?” tanyanya kemudian. Gue berpikir sejenak. “Hmm, kayaknya nggak deh. Dulu gue nggak bertemen sama siapa pun. Di sekolah ya sendirian aja,” jawab gue, mengingat-ingat masa lalu yang sudah tampak samar itu.
“Oh, ya? Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Saat itu gue bukan diri gue sendiri aja. Dan banyak ingatan yang ingin gue hapus dari masa itu,” jelas gue, menatap kosong udara di halaman rumahnya. Tampak Sonya tersenyum kecil, memberikan sebuah tatapan yang seolah-olah sedang merindukan seseorang. Gue jadi salah tingkah dibuatnya.
“Tapi lo masih inget penjaga sekolah kita kan? Yang— bla… bla—” Tiba-tiba Sonya membahas segala sesuatu yang entah kenapa masih gue ingat. Mungkin karena yang dibahas adalah sesuatu yang umum, seperti kantin sekolah, fasilitas umum, guru-guru yang galak, dan lain-lainnya.
Tanpa kami sadari, kami bernostalgia lebih dari satu jam lamanya. Padahal niat gue ke rumahnya, selain untuk memastikan soal buku tahunan itu—adalah untuk memulai latihan boxing lagi yang sempat tertunda.