Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #35

Eps. 34 Seratus Juta untuk Menghilang

“Ro, bener ada kerjaan lagi?” tanya gue, begitu memasuki butik yang suhunya entah ingin jadi tempat usaha atau penelitian ilmiah di kutub utara. Brr! “Baru dateng yang ditanyain kerjaan. Sekali-kali nanya kabar gue kek, udah makan belom, udah punya pacar belom,” gumam Vero sambil merapikan display pakaian hasil karyanya itu.

“Lah, ada Abay nganggur nggak ditakis-takis,” sahut gue, sebelum refleks menghindar dari sandal yang melayang. Ya, begitulah persahabatan kami: kadang bertukar kabar, kadang bertukar ancaman alas kaki.

“Kali ini kerjaan apaan?” Gue menampilkan senyuman maut ala presenter infotainment. “Sama kayak yang sebelumnya. Cuma ini buat acara launching baju batik gitu,” ucap Vero sambil menyodorkan project request-nya. Gue baca perlahan-lahan, seperti takdir yang tiba-tiba datang di sore yang sibuk. Lalu mata gue terhenti. Menatap satu tulisan yang begitu akrab.

“Lho, ini acaranya di ballroom LH?” Refleks gue tersenyum. “Iya, kenapa?” Vero mengerutkan dahi. “Ini kan tempat kerjanya Diana, Ro.” Lanjut Vero terkejut, lalu menepuk kening gue. Lah! “Oh, iya. Diana kerja di sana ya.”

Setelah beberapa saat, “Oke sip, gue terima ini ya. Thanks banyak, Ro.” Tersenyum lebar gue mendapatkan rezeki di sore hari yang mendadak terasa indah ini.

“Oh, iya. Kali ini nggak buru-buru ya. Jadi ya… buat sekeren yang lo bisa, Dra. Soalnya gue udah naikin harga lo,” bisik Vero, membuat gue tak bisa berkata-kata. Refleks gue memeluknya. Bukan karena terbawa suasana. Hanya saja… terkadang sebuah pelukan menyelamatkan kita dari apa pun yang tidak sempat kita ucapkan.

Setelah urusan gue selesai, gue pun pulang dengan hati yang ringan. Si bandit melaju menembus kemacetan, seolah dunia sedang berbaik hati dengan gue hari ini. Tapi, semua rasa itu hilang seketika begitu gue membuka pagar rumah, dan melihat pemandangan yang ada di depan mata.

Lihat selengkapnya