Tiba-tiba saja, langkah gue mengarah ke kantor Aya. Tanpa janji. Tanpa aba-aba. Seolah ada sesuatu di dalam diri gue yang sedang meminta pertolongan—secara paksa, mendadak, tidak memberikan kesempatan untuk berpikir. Hati gue kacau. Pikiran gue seakan kabut yang berputar tanpa bentuk. Dan setiap helaan napas seperti mengaduk luka yang belum sempat sembuh.
Baru sebentar gue berhasil menyingkirkan bayangan ayah kandung gue, kini masa lalu lain datang mengetuk—suami ibu gue. Pria yang hidupnya runtuh oleh kesalahan yang bukan miliknya. Pria yang harus menggantikan ayah gue dalam sel yang dinginnya tak pernah mengenal belas kasih. Tiga tahun. Tiga tahun yang takkan pernah kembali. Dan setelah bebas, dia bukan dirinya lagi yang dulu.
Semua itu bisa saja gue lemparkan kembali ke ayah kandung gue. Tapi apa artinya sekarang? Apa gunanya mencari pelaku ketika waktu tidak bisa diputar? Terkadang takdir memang terlalu kejam dan tak mau berkompromi. Jadi gue mencoba menghadapi semuanya sendiri—tanpa bayang-bayang gelap yang selama ini menghantui.
Begitu tiba di kantor Aya, lobi depan tampak sepi. Tidak ada petugas yang berjaga. Hanya ada tanda “sedang beristirahat” menggantung lesu di meja informasi. “Oh, pantes. Jam 12, waktunya istirahat,” gumam gue.
Tapi suara dari kejauhan membuat gue berhenti. Terdengar dua wanita saling bersahutan, samar, menyusup keluar dari ruangan Aya. Gue berjalan perlahan menghampiri. Saat sudah sampai di depan pintu, suara itu terdengar semakin jelas. Gue mengetuk dua kali. Tok-tok!
Hening sejenak. “Iya, masuk,” terdengar suara Aya. Gue membuka pintu… dan ekspresi Aya langsung membeku. “A… Andra!” serunya, setengah terbelalak. Wanita di depannya juga tersentak, seolah melihat hantu. Dengan gerakan cepat, ia meraih kacamata hitam dari meja dan menutupi wajahnya sambil menunduk. Siapa dia? Kenapa dia bersembunyi? Ada sesuatu yang aneh di sana.
“Ka—kamu kok tumben ke sini dadakan?” tanya Aya, masih menatap gue dengan heran. “Iya… ada sesuatu yang mau aku omongin. Kebetulan tadi lewat sini.” Gue mencoba membaca situasi. “Tapi kalo ganggu, aku bisa next ti—”
Tiba-tiba wanita itu berdiri. “Eh, Ay! Aku balik dulu ya.” Suaranya agak tergesa. Ia merapikan barang, lalu seperti bayangan melesat melewati gue sambil tetap menutupi wajahnya. Yang tertinggal hanya kilau kalung di lehernya yang menyala halus di bawah cahaya—simbol infinity. Delapan yang tak terputus. Lambang tak terbatas.
“Si… siapa wanita itu, Ay? Tanya gue pelan. “Kok rasanya aku—” Aya tersenyum tipis. “Oh, dia klienku juga.” Sambil berpikir gue berjalan menghampiri Aya. Baru saja pantat gue menyentuh kursi—Dug! Entah kenapa dada gue terasa seperti diremas dari dalam. Sakit, perih, aneh. Jantung gue berdebar tak beraturan. Air mata jatuh begitu saja tanpa peringatan.
“Dra! Kamu kenapa?” Aya panik. “A—Aku… nggak tau.” Tangan gue refleks memukul dada sendiri. Napas gue berat. Seolah tubuh gue mengenali sesuatu yang pikiran gue tidak bisa tangkap. Aya segera memberi gue air minum untuk menenangkan diri. “Makasih, Ay.”
Setelah beberapa saat, gue pun menyeka air mata yang perlahan-lahan mulai berhenti ini. Lalu gue tatap mata Aya dalam-dalam. “Siapa sebenarnya wanita tadi, Ay? Kenapa aku merasa sangat merindukannya. Padahal, aku nggak kenal. Iya kan?” tanya gue, memastikan identitas wanita misterius itu.
Aya mengernyit. Sepertinya ia memang tidak mengetahui apa-apa. “Hmm, dia klienku. Dan kamu tau kan aku nggak bisa memberikan informasi soal klien. Sori, Dra,” ucapnya lembut, tapi tegas. Gue mengangguk. Mencoba menerima. Padahal rasa aneh tadi masih menggantung.
Setelah beberapa saat, “Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Dra?” lanjutnya bertanya. Gue pun menceritakan segalanya—dendam gue kepada ayah kandung, rasa bersalah yang membusuk di dalam diri gue, bayangan masa lalu yang menempel seperti noda tinta, dan perasaan gue terhadap Sonya yang semakin tumbuh seperti sesuatu yang tidak bisa dicegah.
Aya mendengarkan dengan sabar, lalu berkata pelan namun tegas: “Kamu harus berdamai dengan masa lalumu, Dra.” Gue mengangkat alis. “Berdamai gimana?” tanya gue. “Dengan memaafkan… dan merelakan.” Kata-katanya jatuh pelan, seperti tetesan air yang menimbulkan riak panjang di permukaan hati.