Tujuh bulanan
“Nah, akhirnya dateng juga lo, sob. Lho! Motor siapa lo pake tuh? Bandit mana?” tanya Dimas begitu gue turun dari motor. Ekspresinya mirip emak-emak kehilangan wajan. “Bandit udah gue jual.” Dimas langsung nge-freeze. Kelopak matanya berkedut seperti kodok sesak napas.
“Kenapa dijual? Gue menarik napas panjang, berat, dan penuh kenangan yang masih menempel di kepala. “Ya… ada deh.” Dimas geleng-geleng sambil menepuk keningnya, tampak sedih seolah gue baru saja jual ginjal.
Bandit itu memang bukan sembarang motor; stoknya terbatas, dan kenangannya lumayan membuat sakit hati jika mengingatnya. Tapi demi janji pada mantan suami ibu, terpaksa gue relakan. Setidaknya satu masalah selesai. Satu. Tinggal Sembilan ratus lima puluh tujuh lainnya.
“Si Abay udah dateng?” tanya gue penasaran. “Yah, Abay pake ditanya. Kalo soal makan-makan gratis, detak jantungnya langsung nyambung ke Google Maps. Noh, dia udah di dalem dari tadi, udah nambah 2 piring kali,” jawab Dimas terkekeh. Dan benar saja, di antara puluhan orang yang hadir, cahaya Tuhan seakan turun tepat ke kepala Abay yang sedang makan. Swriiing! Ekspresinya khusyuk, seperti sedang meditasi tapi versi kuliner.
Setelah selesai menyantap hidangan yang disajikan, tiba-tiba Dimas memanggil gue dari kejauhan. “Dra! Sini!” Senyumnya lebar. Tampak mencurigakan. Dengan ragu gue menghampiri. Takut juga, kalo tiba-tiba disuruh kerja bakti.
“Apaan sih?” tanya gue, menatap heran. “Coba tebak, siapa yang dateng?” ucapnya sok misterius. Tiba-tiba Abay keluar dari pintu dengan santainya. “Ah, apaan? Cuma Abay…”
“Bukan! Bukan dia, et—dah.” Dimas menggoyang-goyangkan tangannya. “Nih, sekali lagi—” Pintu kembali terbuka. Seorang wanita melangkah keluar. Gue tertegun dengan kedua mata melotot.
“Lho! Sonya? Kok lo—?” Sonya terkekeh. “Kenapa? Gue nggak boleh juga ada di sini?” ucapnya, bergegas balik badan. “Nggak, bukan itu maksud gue…” Belum sempat gue melanjutkan, tiba-tiba Vero muncul dari belakang. “Dia gue yang ajak. Kenapa? Lo nggak suka? Wleee!” ucapnya sambil melet-melet. Semua orang pun tertawa kecuali gue yang masih loading.
Tiba-tiba perut gue bereaksi. Gruut! Gruut! Persis seperti mesin pengaduk semen yang terus berotasi. Yaelah baru juga makan enak, perut langsung demo! “Aduh guys, gue izin ke belakang dulu ya.” Gue lari kecil. “Eh, ke mana lo, Dra?” tanya Abay penasaran. “Bentar, panggilan alam!” seru gue. “Gue nitip ya,” celetuknya terkekeh.
Dengan kedua tangan menahan perut, gue buru-buru mencari kamar kecil di rumah yang masih asing ini. Begitu berhasil menemukannya, gue langsung merapatkan kaki dan berjalan jinjit mirip kucing cosplay jadi rampok. Tepat sebelum gue masuk, mata gue tertuju pada foto keluarga di dinding. Ada sosok perempuan pakai toga, dan wajahnya mirip seseorang yang gue kenal. “Ah, nanti aja. Perut gue udah berontak.”
Setelah selesai dengan urusan negara. Gue kembali ke foto perempuan itu untuk memastikan. Dan benar saja, gue terkejut melihat wajah yang sangat akrab di kepala ini. “Hmm, agak beda sih. Tapi kalo diperhatiin ya mirip. Apa karena make up-nya?” gumam gue, sambil garuk-garuk kepala.