“Mas Andra. Tadi Non Sonya titip pesan, katanya Mas Andra ke ruang latihan aja dulu. Soalnya Non Sonya masih ada urusan sebentar,” ucap ART Sonya begitu gue sampai di rumah yang megahnya mirip istana kepresidenan ini. Karena udara pagi masih terasa sejuk dan angin bertiup manja, gue memutuskan duduk di kursi taman, memandangi air mancur yang menari seperti sedang audisi Indonesia Mencari Bakat.
“Ah, beginilah cara orang kaya menikmati hidup,” gumam gue sambil menghela napas. “Kurang kopi doang nih.” Di dalam kepala sudah terbayang aroma kopi menyeruak, gue seruput pelan—“Aaah! Nikmatnya.”
Tiba-tiba, “Ehem—ehem!” Gue refleks menengok. Dari kejauhan, sekitar sepuluh meter, seorang pria tua di kursi roda otomatis perlahan meluncur menuju ke arah gue. “Aduh… itu kayaknya ayahnya Sonya deh!” Gue langsung panik. Begitu beliau berhenti tepat di depan gue, gue spontan berdiri tegap persis prajurit baru dilantik. Siap grak!
“Pagi, Om…” sapa gue, setengah matang antara gugup dan niat kabur. Beliau menatap gue dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lama. Pelan-pelan. Tatapannya sukses membuat gue seperti barang lelangan. “Kamu yang akhir-akhir ini latihan sama anak saya kan?” tanya beliau, yang akhirnya bersuara. “I… Iya, Om.” Gue mulai keringat dingin. Rasanya ingin segera teleportasi ke dimensi lain.
“Udah sejauh mana hubunganmu dengan anak saya?” Gue mengedip dua kali. “Ma… Maksud, Om? Jauh… gimana?” Gue bingung, ingin memastikan terlebih dahulu. “Ya, kalian itu temen, kekasih, atau apa itu istilah anak zaman sekarang… yang FBI-FBI itu?” Gue berpikir sejenak. FBI? Sejak kapan Biro Investigasi Amerika ikut ngurus hubungan rakyat sipil?
“Pokoknya yang friend benefit-benefit apalah itu?!” lanjutnya berusaha mengingat. “Oh, FWB—friend with benefit, Om,” ucap gue, tersenyum respect. “Nah, iya itu, CIA!” ujarnya mantap. Spontan gue melirik. “Ada gila-gilanya juga nih orang tua,” gumam gue. “Kami cuma berteman kok, Om.” Mendadak ekspresinya berubah. Dingin. Bibir turun seperti grafik saham saat krisis.
“Kamu ngomong sama orang tua kok matanya nggak keliatan,” tegurnya. “Maaf, Om! Bukan maksud kurang ajar. Saya cuma… gugup aja.” Dahinya langsung mengerut. “Gugup? Emang saya suruh pimpin upacara?!” balasnya tanpa ekspresi. Aduh, niat banget nih bikin deg-degan. “Coba berdiri di belakang saya,” perintahnya kemudian. Gue menelan ludah, lalu menurut.
“Tadi kamu udah sarapan?” Nah, ini nih. Mulai peduli nih. “U—Udah, Om,” jawab gue mulai tenang. “Bagus. Berarti kuat dong dorong Om.” Jiah, ini dia alasan sebenarnya. “Iya… baik, Om.” Sesaat kemudian kami berjalan. Beliau membuka percakapan, “Nama kamu siapa?”
“Nama saya Deandra, Om,” jawab gue sambil mengatur tempo kecepatan. “Oh, Dek Nanda.” Gue langsung menge-rem halus. “Bukan Dek Nanda, Om. Tapi, De-An-Dra! Ada R-nya,” jelas gue membenarkan. “Kamu marah sama saya?” tanyanya sambil menoleh, seakan siap memecat gue dari kehidupan. “Ng—nggak, Om! Ngapain saya marah?” Dalam hati gue sudah guling-guling. Gue jorokin juga nih.
“Motor kamu kok ganti?” tanya beliau mengejutkan gue. “Oh, Om sempet liat ya?” tanya gue penasaran. “Iya, Om kan hafal suaranya. GSF 400 kan?” Beliau memastikan. Gue langsung senyum lebar, seolah baru saja menemukan teman satu frekuensi yang sempat tersesat. “Iya bener, Om!” Beliau ikut tersenyum, bangga. “Gini-gini Om juga anak motor. Sayang aja kondisi Om begini.” Nadanya berat. Tapi terdengar sedih.
Setelah beberapa saat, kami sampai di depan pintu masuk sebuah bangunan yang tampak seperti garasi. “Ini masuk aja, Om?” tanya gue memastikan. “Masuk aja, ada yang Om mau kasih lihat,” jawabnya santai. Gue mulai nyaman ngobrol dengan beliau. Ya, walaupun kadang ada saja pergerakannya yang tidak bisa ditebak, mirip kucing oren baru menang lotre. Random.
Jglek! Pintu terbuka. Ruangannya gelap. Lalu gue tekan saklar lampu sesuai arahannya. Begitu lampu menyala, mata gue terbelalak melihat pemandangan yang tidak pernah gue bayangkan sebelumnya. “Wauw!” Mata gue berbinar. Takjub. “Hehehe…” Terdengar suara tawa kecil yang sepertinya bangga karena melihat reaksi gue. “Hmm, ini sih niatnya mau pamer,” gumam gue dalam hati.
Tapi memang ini layak untuk dipamerkan. Bagaimana tidak? Di ruangan ini telah berkumpul kendaraan-kendaraan klasik legenda yang cuma bisa gue bayangkan lewat mimpi. Edisi terbatas lagi. Ini bukan hanya soal menjadi kaya, tapi soal memiliki keberuntungan. Tidak hanya sekadar ada uang, lalu membeli sportscar atau supercar milyaran begitu saja. Ada hobi, cinta, dan gairah di dalamnya. Kelasnya sudah national treasure.
Seperti halnya kendaraan yang sedang gue lihat saat ini. Holden FC Special Black over Cape Ivory keluaran tahun 1950-an akhir, buatan Holden yang merupakan anak perusahaan GM (General Motors) yang berasal dari negara Australia. Yang unik dari kendaraan ini adalah proporsi warna kendaraannya: setengah ke belakang warna hitam, setengah ke depan warna putih gading.