Aya
“Menurutmu… dengan kondisiku sekarang, apa aku sebaiknya menemui Deandra, Ay?” Suara Joana pecah seperti kaca tipis yang retak tanpa suara. Matanya sembab, meninggalkan jejak malam yang terlalu panjang untuk ditanggung seorang diri. Gerak bahunya naik turun, menahan sesuatu yang lebih berat dari sekadar tangis.
“Awalnya…” aku mulai pelan, “waktu dulu mendengar ceritamu… aku ingin sekali menemukan pria itu untukmu, Jo. Setidaknya… hanya itu yang bisa aku lakukan.” Kata-kataku menggantung di udara. “Tapi dengan situasi kalian saat ini… aku jadi ragu.” Joana mengangkat wajah, tampak rapuh tapi memaksa dirinya untuk tetap bertahan.
“Bukan, Ay. Bukan itu yang mau aku dengar. Aku butuh jawabanmu sebagai sahabatku. Bukan Aya—seorang psikolog,” ujar Joana. Aku terdiam, lalu menarik napas panjang, merelakan kejujuran menembus ruang di antara kami.
Hening. Tapi bukan hening yang tenang—ini hening yang berdenyut, berisik, penuh percakapan yang hanya terjadi di dalam kepalanya. Aku bisa melihatnya: gelombang-gelombang kecemasan yang saling bertabrakan, pikiran yang sibuk membangun dan meruntuhkan kesimpulan dalam hitungan detik.
“Kalau aku menjawab sebagai Aya—”
Aku berpikir sejenak. Pertanyaannya bukan sekadar ingin tahu. Ia ingin izin. Ia ingin pembenaran. Ia ingin seseorang berkata bahwa dunia belum sepenuhnya jahat padanya—“maka jawabanku…” aku menelan getir di tenggorokan, “walaupun mungkin pada akhirnya menyisakan luka, setidaknya ada bab dari masa lalu kalian yang akhirnya… selesai.”
Air mata Joana kembali jatuh—diam, tapi menyakitkan. Aku mendekapnya. Pelukan kami bukan pelukan dua orang yang kuat, tapi dua jiwa yang mencoba bertahan di tengah hal-hal yang tak pernah kami minta.
“Aku bingung, Ay…” suaranya pecah, kali ini tanpa sungkan. “Kenapa harus sekarang? Bertahun-tahun aku mencoba melupakannya. Tapi saat aku hampir bisa berdiri tegak… kenapa takdir malah menarikku kembali ke sisinya?”
Ia menatap langit dari jendela apartemen. Langit abu-abu, mendung, seperti memantulkan seluruh kekacauan dalam dirinya. Angin AC yang dingin membuat kulitnya menggigil, tapi aku tahu—dingin di dalam dirinya jauh lebih menyesakkan.
“Dimulai dari buku yang dulu kuberikan padanya… yang entah bagaimana kembali padaku lewat dirimu.” Napasnya terseret. “Lalu kini dia muncul begitu saja, tepat di hadapanmu. Kalau ini bukan takdir semesta… apa, Ay? Apa yang sedang terjadi pada kami?”
Kata-katanya mengalir seperti sungai yang akhirnya menemukan celah untuk keluar. Bukan marah, bukan kecewa—melainkan rasa kehilangan yang datang lebih cepat dari waktu yang seharusnya ia miliki.
Tapi aku tahu… yang benar-benar mencabiknya bukan kemunculan Deandra. Melainkan kondisi dirinya sendiri—ketakutan bahwa waktu tak lagi memihak. Bahwa kesempatan untuk menghadapi cinta pertamanya bisa saja memudar sebelum ia sempat berdiri di hadapannya.
Aku menggenggam tangannya dengan kedua telapak tangan. Hangatku tak cukup, aku tahu itu. Tapi setidaknya—aku bisa menjadi bukti bahwa ia tidak sendirian.