Beberapa minggu belakangan ini gue beraktivitas bagaikan zombie—bukan zombie versi film yang jalannya patah-patah dan suka ngeluh “arrggh,” tapi zombie multitasking yang kerjanya sambil melamun, minum kopi terasa air putih, dan cuma off ketika akhirnya kepala gue mendarat di atas keyboard komputer.
Ada beberapa faktor yang membuat gue ngegas sekeras ini. Salah satunya: gue ingin hidup nyaman di hari tua dengan melakukan hobi yang gue suka. Inspirasi gue? Ayahnya Sonya. Pria pensiunan yang hidupnya tenang, damai, dan fokus sama kesenangan pribadi—bukan omongan orang lain.
Untuk menuju ke sana, gue harus mulai merapikan masa depan dari sekarang. Di balik itu semua, ada alasan lain yang sebenarnya lebih… gelap, yaitu semacam pembuktian diri ke ayah kandung gue. Bukan supaya dia bangga, tapi supaya gue tidak terus dihantui oleh rasa bersalah hanya karena asal-usul kelahiran sendiri.
“Bay, buat acara batik besok udah aman kan? Apa masih ada yang belom jadi?” tanya gue memastikan, terkait pekerjaan yang diberikan oleh Vero. “Aman. Ini gue mau final check lagi ke sana,” jawab Abay, si manusia andalan yang tak pernah panik kalau urusan pekerjaan.
“Oh, ya. Mumpung ngomongin ini… lo udah tau kan, Dra, kalo event yang kita garap itu venue-nya sebelahan sama acara reuni sekolah kita?” lanjut Abay, seolah-olah itu adalah informasi santai.
“Hah!, serius?!” terbelalak gue. Abay mengangguk dengan tenang seperti menyampaikan berita cuaca. Gue masih bengong seperti baru saja menemukan plot twist di episode terakhir drama Korea.
“Jadi gimana? Lo mau dateng sekalian ke acara reuni?” tanyanya memastikan. “Hmm… menurut lo Joana bakal dateng?” Gue menatapnya, karena jika bicara soal reuni, ingatan gue otomatis nge-zoom ke satu nama itu.
Abay mengangkat bahu. “Ya, gue nggak yakin juga sih. Tapi bukan hal yang mustahil,” jawabnya, bijak tapi tetap terdengar seperti malas berpikir. “Sebenernya, Dra,” lanjutnya lagi, “Mau Joana dateng atau nggak, yang jelas kalian udah punya hidup masing-masing. Lo nggak tau dia sekarang kayak apa, dan dia juga nggak tau lo kayak gimana.”
“Maksud lo apa?” tanya gue, walaupun dalam hati gue sudah tahu jawaban abstraknya. “Nanti, kalau kalian ketemu lagi, belum tentu juga kalian bisa bersama. Lo aja udah berubah, bisa jadi dia juga berubah… entah ke arah mana.”