Hari ini gue dan Abay datang ke acara launching batik kenalan Vero itu. Sebenarnya cuma untuk memastikan hasil pekerjaan kami aman, tapi entah kenapa langkah gue terasa berat sejak awal.
Acaranya lumayan semarak—aroma kain baru, sorot lampu yang hangat, dan denting musik tradisional yang dicampur beat modern. Mereka memperkenalkan batik dengan cara yang tidak pernah gue lihat sebelumnya; seperti masa lalu yang merangkul masa kini tanpa rasa canggung.
“Dra, kayaknya acara reuni sebelah udah dimulai tuh. Gue ke sana ya?” ucap Abay, sambil melirik ke arah meja resepsionis yang baru siap di depan ballroom samping. “Iye, sono.” Gue berusaha terlihat santai, padahal kepala gue mengintip ke luar terus dari tadi.
“Kenapa lo kayak orang sembunyi dari utang?” Abay bingung. “Berdiri aja di sini?” lanjutnya memberi contoh. “Ah, ogah. Ntar ketemu anak-anak yang nggak pengen gue temuin. Males.” Abay geleng-geleng.
Tiba-tiba—“Eh, Joana tuh!” Gue langsung panik mirip rampok ketahuan tidur di loteng. Abay tertawa ngakak. “Becanda, goblok.” Ternyata dia hanya iseng. “Resek lo, Bay! Jantung gue hampir pindah ke betis tau!” Dia masih tertawa, lalu pergi begitu saja. Sementara gue cuma bisa menelan ludah. Meski hanya bercanda… nama itu masih punya kuasa untuk membuat napas gue berhenti sesaat.
Waktu berjalan pelan. Acara batik berakhir, undangan mulai pulang satu per satu. Tiba-tiba Abay muncul lagi. “Lo yakin nggak mau mampir? Anak-anak nyariin lo,” ucapnya memastikan. Gue berpikir sejenak. “Joana dateng nggak?” tanya gue dengan napas menggantung. Dia menggeleng. Gue menghela napas dalam. “Ya, udah gue duga sih.”
Setelah pamit dari acara, gue melangkah keluar ballroom, menuju smoking area di taman seberang. Angin malam mengusap kulit gue seperti pengingat bahwa dunia tetap berputar meski hati manusia berhenti di satu titik. “Ah, sebat dulu lah sebelum balik,” gumam gue menatap awan yang tak lagi terlihat.
Gue nyalakan rokok. Whooosh… Asapnya naik ke langit, seolah membawa kegalauan yang sudah lama gue pendam. Rasanya konyol sekali—mengharapkan sesuatu yang seharusnya sudah gue kubur sejak lama. Hisapan terakhir. Gue buang putung rokok ke dustbin di samping. Lalu… Jduk!
“Aduh!”
“Argh!”
Dua suara nyaris bersamaan. Seorang wanita juga sedang hendak membuang sesuatu. Kami saling menoleh. Matanya membesar. Mulutnya terbuka—terkejut seperti lihat tagihan kartu kredit di akhir bulan. Kemudian, “Dean!” Suaranya lembut, tapi menusuk seperti peluru. Gue terpaku.
“Suara itu… suara itu terdengar akrab di telinga ini,” gumam gue. Wanita itu tersenyum kecil. Seumur hidup gue, hanya dua orang yang memanggil nama gue dengan sebutan “Dean”, yaitu Sonya dan Joana.
“Lo lupa sama gue ya?” Pertahanan gue runtuh. Semua dinding yang gue bangun selama bertahun-tahun ambruk begitu saja. “Jo… Joana?” suara gue lirih. Dia tersenyum—meleleh pelan, seperti matahari pertama setelah musim hujan panjang. Tanpa sadar, tangan gue dan tangannya saling menggenggam.
“Joana!”
“Deandra!”
Orang-orang sekitar memperhatikan. Kami tidak peduli. Dan yang terjadi setelahnya adalah merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Bayangan demi bayangan yang selama ini hanya terjadi di pikiran gue. Kini sedang terjadi, nyata, di hadapan bola mata ini.