“Sebentar…” Gue menelan ludah, merasakan rongga dada gue mengencang. “Kalo gue perhatikan lagi… gaya rambut wanita di tempat Aya itu… mirip sama Joana. Sial!” Degup jantung gue melonjak tanpa izin, seperti tubuh gue bereaksi lebih cepat daripada otak.
“Kalau… wanita itu emang Joana…” suara gue berubah menjadi bisikan gemetar, “Pantas aja ia terlihat terkejut dan terburu-buru menutupi wajahnya.” Kepala gue berpacu, merangkai potongan-potongan peristiwa yang tadinya tidak pernah gue kira bisa saling terkait.
“Kalau itu Joana… berarti Aya… mereka…”
Gue terdiam. Hening yang menampar. “Berarti selama ini Aya udah kenal Joana.” Kalimat itu jatuh di dalam diri gue seperti batu yang dilempar ke sumur—tenggelam dalam-dalam, tapi suaranya menggema panjang. Gue mengepal tangan, rahang mengeras.
“Gue harus konfirmasi langsung ke Aya.” Napas gue memburu, amarah dan kecurigaan saling sikut berebut ruang. “Kalau memang itu kenyataannya…” Gue menatap lantai seakan lantai itu punya jawaban. “Berarti selama ini gue dipermainkan.” Napas gue tertahan. Lalu keluar sebagai desahan getir. “Brengsek, Aya! Gue harus menemuinya.”
Gue langsung tancap gas. Si belalang tempur meraung, melaju seolah ikut menanggung amarah gue. Jalanan malam seperti lorong panjang yang tidak berujung; udara dingin memukul wajah gue tanpa kompromi. Gue melesat. Terlalu cepat. Sampai gue tidak sadar ada lampu merah di depan.
Brak!
Suara gebrakan keras dari arah kiri membuat jantung gue melompat hingga ke tenggorokan. Ternyata itu cuma warung soto gebrak sialan yang punya hobi mengagetkan dunia. Brak! Lagi. Kencang pula.