“Sial… seharian ini gue belum makan apa pun,” gumam gue dalam hati. “Eh, maaf-maaf ya bro. Nggak sengaja,” ucap gue ramah. Tapi ia justru menatap dengan wajah menantang.
“Bra bro bra bro. Jangan sok asik lo! Norak! Biasa minum di trotoar ya nyet.” Gue menguatkan diri. “Lho gue kan udah minta maaf. Nggak sengaja juga. Kenapa lo malah ngata-ngatain?”
Temannya ikut memprovokasi, memaki sembarangan.
Gue menghitung cepat—empat orang. Nafas gue menahan bara yang mulai berkumpul di kedua telapak tangan ini. “Pokoknya gue nggak mau mulai duluan,” bisik gue, mengingat janji kepada Sonya. Setelah semua pelatihan boxing yang dia ajarkan ke gue.
“Yaudah, yang penting gue udah minta maaf, oke,” ucap gue sambil memanggil bartender untuk meminta bill. Tapi tampaknya mereka tidak puas. Sebuah tangan menarik bahu gue, dan sebelum sempat bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di wajah ini. Bukk! Gue jatuh tersungkur.
Dan untuk sesaat, di antara kabur lampu-lampu neon, gue berpikir: mungkin ini caranya semesta memberi gue sarana untuk melepaskan segala amarah yang dari tadi terbakar di dada. Gue perlahan bangkit. Darah terasa mengalir di sudut bibir ini, tapi gue justru tertawa pelan. “Hahaha…”
Mereka saling pandang, bingung. “Oke! Kalian duluan yang mulai, kan?” Gue memastikan—bukan pengecut yang menyerang diam-diam. Pengunjung mengelilingi, menjadi ring dadakan ala-ala arena gladiator versi modern.
Gue mengangkat tangan dan teriak, “Kalian jadi saksi ya! Mereka duluan yang mulai!” Sorakan dan tepuk tangan menggema, memecah musik keras yang sejak tadi menguasai ruangan.
“Jangan banyak bacot lo, kampung!” Pukulan tajam melesat ke arah gue. Refleks gue mengambil kuda-kuda, Bukk! Tertahan. Kedua tangan gue memblokir serangan itu dengan presisi yang selama ini gue timbun dalam latihan.
Tanpa menunggu, gue membalas. Jab bertubi-tubi, menghantam dari berbagai arah. Tubuh pertama tumbang, lalu datang yang kedua. Uppercut. Hook. Jurus mabuk laut. Capitan naga geni. Totok aura. Semua jurus gue keluarkan.
Gue terkena beberapa pukulan—tapi rasanya seperti percikan api yang justru membuat gue hidup kembali.
Untuk pertama kalinya, semua teknik yang gue pelajari dari Sonya terasa berguna. Beberapa ronde berlalu cepat.
Lalu mereka memutuskan menyerang bersamaan—pengecut klasik. Namun gue tidak gentar. Berisik, tapi tak bertaring. Tiba-tiba suara Sonya menggema di kepala gue, “Dean, baca suasana. Pastikan semua lawan ada di depan. Pukul yang paling dekat, tendang yang paling jauh. Kuasai ritme. Kendalikan permainan.”