Esensi Cinta

Peter Samudra
Chapter #1

Prolog

Suatu hari, di sebuah rumah sederhana yang berdempetan dengan gedung-gedung perkantoran ibu kota—rumah yang sekaligus menjadi warung makan kecil bagi para pekerja—tinggallah seorang ibu dan balita laki-lakinya yang lucu. Kehidupan mereka tidak pernah nyaman, tapi cukup untuk membuat mereka bertahan. Sang ibu menggantikan peran suami yang tak pernah hadir, menggendong beban hidup dengan satu tangan sembari merawat anaknya dengan tangan yang lain.

Tiga tahun berlalu seperti asap yang hilang tersapu angin. Sang suami pulang—dengan langkah ragu—ke rumah yang kini terasa asing baginya. Niatnya untuk memulai lembaran baru luluh begitu saja saat menyadari keberadaan bocah kecil yang sejak dulu tidak diinginkannya. Kebenciannya tumbuh diam-diam, seperti jamur yang membusuk di dalam gelap.

Hingga istrinya melahirkan anak perempuan. Dan sejak hari itu, kasih sayangnya terbagi dengan timpang—jatuh seluruhnya pada sang adik, sementara kakaknya hanya menerima tatapan kosong dan dingin yang menusuk.

“Bu… kenapa Ayah tidak suka sama aku?” tanya bocah itu suatu sore, dengan mata sebening hujan yang hendak jatuh.

“Mungkin itu hanya perasaanmu, Nak,” ucap sang ibu pelan, mencari-cari alasan yang tak pernah benar-benar ada. “Ayahmu tidak merawatmu dari lahir… mungkin dia hanya canggung.”

“Jadi Ayah sayang adik karena… Ayah merawat adik sejak bayi?” tanyanya polos. Kali ini ibunya terdiam. Bukan karena tak tahu harus berkata apa—tapi karena ia tahu, sepenuhnya tahu, apa akar dari kebencian itu.

“Sabar ya, Nak,” ucapnya. “Semua butuh waktu.” Namun waktu tak pernah benar-benar berpihak.

Kini bocah itu berusia sepuluh tahun. Dan tak ada yang berubah, kecuali amarah ayahnya yang makin membara. Sang ibu yang dulu rajin mengelak, kini tak mampu lagi menutup mata. Anak lelakinya mulai mengerti… bahwa selama ini ia hanya diberi harapan manis untuk menjaga rumah tetap harmonis. Sebuah utopia yang mustahil terwujud selama akar kebencian masih mencengkeram lantai rumah mereka.

Suatu malam, ketika hujan baru saja merintik di luar jendela, pertengkaran itu pecah. “Pergi kamu dari rumah ini! Jangan siksa anak lelakiku lagi!” teriak sang ibu, suaranya pecah seperti kaca dibanting.

“Kamu gila?! Kamu lebih memilih anak itu daripada aku, suamimu?!” balas pria itu, dengan wajah merah oleh alkohol.

Lihat selengkapnya