Esensi Cinta

Peter Samudra
Chapter #2

Chapter I Tentang Pulang dan Hal yang Tertinggal


“AAARGH! TIDAAAK!” teriak gue panik, karena melihat sesuatu yang hilang dari pandangan. Tiba-tiba, seorang pelayan wanita datang menghampiri. “Ada apa, Mas?” tanyanya, antara panik dan penasaran.

Dengan jari menunjuk ke arah meja, gue menatapnya tajam. Pelayan itu menghela napas diikuti oleh anggukan kecil. “Oh, gelas Mas tadi udah saya bawa ke belakang,” jawabnya kemudian santai.

Gue menggeleng cepat, “Bukan gelas, Mbak!” Refleks dahi gue mengerut menahan kesal. “Lho… terus apa, Mas?” Pelayan itu tampak makin bingung. “Tadi kan saya ada titip sesuatu, sebelum saya ke kamar kecil, inget nggak?” tanya gue, penuh penyesalan atas kecerobohan yang baru saja gue lakukan.

Ia tampak berpikir, namun tatapannya kosong. “Hmm… yang mana ya?” dengan raut wajahnya yang seperti mahasiswa salah masuk kelas ujian, pelayan itu memastikan. “Yang bentuknya kayak buku itu, Mbak. Scrapbook. Sekarang di mana benda itu?” Kesabaran gue mulai menipis.

“Sekrabuk?” ulangnya, kini dengan ekspresi tersesat. Ia menengok ke kanan, kiri, lalu belakang, mencari rekan kerja yang mungkin dapat membantunya. Namun sayangnya di area service hanya ada kami berdua.

Tiba-tiba ia mendekatkan bibirnya ke arah telinga gue. Tanpa sadar gue mundur setengah langkah. Pertahanan diri gue mode siaga penuh. Tidak menyerah, ia membusungkan tubuhnya sedikit. Mulutnya ikut maju dua senti. “Ngomong-ngomong… sekrabuk itu apa ya, Mas?” bisiknya kemudian.

Refleks gue menyeringai stres. “Scrapbook! Scrap-to the-book, Mbak. Bukan sekrabuk. Saya serius lho ini, Mbak!” tegas gue dengan kedua bola mata yang membesar. “Lho, saya juga nggak bercanda kok, Mas. Saya emang nggak tau. Kalo Facebook, saya tau,” balasnya dengan senyum iklan pasta gigi kadaluarsa, yang justru membuat emosi gue naik hingga ke ubun-ubun.

Gue pun menarik napas panjang sejenak. Saatnya memanggil seluruh energi positif di alam semesta. “Whooosaaaah…”

“Jadi gini, Mbak. Tadi… waktu saya duduk di meja ini. Saya kan ada nulis-nulis di buku tuh, yang hampir ketumpahan kopi saya tadi, inget nggak?” Tanya gue sekali lagi, dengan nada ramah bak sekuriti bank swasta.

“Oooh, inget-inget, Mas!” Tampak terlihat ekspresinya seperti menang kuis. “Kalo saya nyebutnya itu buku diare, Mas,” lanjutnya, sukses membekukan otak gue selama lima detik.

Di… diary, Mbak. Bukan diare,” koreksi gue halus. “Eh, iya! Kalo diare mah saya tadi pagi. Perut mules-mules, salah makan kayaknya.” Ia mengusap perutnya bangga, seolah itu adalah sebuah prestasi. Sementara kesabaran gue hampir copot dan pindah ke dimensi lain. Bodo amat!

“Jadi, intinya—Mbak liat nggak?!” tegas gue untuk kesekian kalinya. “Yah, saya kurang merhatiin, Mas. Tadi sewaktu saya bersihkan gelas sih masih ada. Tapi… pas saya balik lagi, ah! Terkejutlah saya,” jawabnya dramatis. Gue menahan napas. “Kenapa, Mbak?”

 “Buku itu tiba-tiba hilang! Padahal saya kan bukan pesulap,” lanjutnya datar, sampai-sampai rasanya ingin gue paksa masuk ke dalam kulkas.

Mendengar penjelasannya itu, seketika gue putus asa. Menyalahkan diri sendiri karena sudah meninggalkan benda sepenting itu begitu saja. Tapi… buku itu besar, tidak mungkin hilang begitu saja. Sambil bercekak pinggang, gue memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba mata gue tertuju ke satu benda yang tanpa sadar telah membuat gue tersenyum sendiri.

“Ah, akhirnya gue melihat sebuah harapan,” gumam gue, melihat CCTV yang menggantung di plafon coffee shop. “Mbak, boleh lihat itu nggak?” tanya gue bersemangat, sambil menunjuk ke satu-satunya harapan terakhir gue. “Ya, silahkan liat aja, Mas. Nggak ada yang larang,” jawabnya santai sambil berlalu pergi.

Hening.

MAKSUD LO APAAA? WOY!

“Mbak, saya mau lihat REKAMAN videonya, bukan cuma ngeliatin CCTV-nya! NGAPAIN saya liat CCTV!” Arrgh! Sumpah rasanya gue mau salto keliling bandara.

“Oh, a… anu, Mas,” Ia kembali sambil menggigit jari, “i… itu CCTV-nya udah lama rusak,” Gue terdiam. Terasa hampa. Pikiran mendadak kosong seperti isi dompet di akhir bulan.

Yah, mau bagaimana lagi. Sepertinya gue memang harus berpisah dengan scrapbook yang sudah menemani perjalanan hidup gue selama enam tahun terakhir itu. Buku yang sangat spesial, pemberian dari orang yang sangat berarti bagi gue.

Beberapa jam sebelumnya

“Aduh! Lama banget sih ni anak jemputnya. Udah panas pantat gue duduk dari tadi,” rutuk gue dalam hati. Teman yang janji mau menjemput gue dari dua jam lalu hilang entah ke belahan dunia mana.

Untung ada scrapbook kesayangan—buku penuh kenangan hidup yang sering jadi tempat pelarian gue. Setidaknya, gue bisa menghabiskan waktu dengan merangkai kata-kata ngawur yang diproduksi oleh lobus frontal[1],  yang tertanam di otak gue ini.

Belum lama gue asyik menulis, seorang pelayan wanita tampak berjalan mendekat. Sampai di hadapan gue, ia membungkukkan badannya pelan-pelan, lalu mulai membuka… Ya! Membuka mulutnya.

“Permisi, Mas. Mungkin Masnya mau tambah lagi?” tanyanya dengan nada centil, sambil menunjuk ke arah gelas gue yang tinggal ampas harapan. “Nggak, Mbak, terima kasih,” jawab gue berusaha sopan.

“Kalo gitu, gelasnya ini boleh saya angkat, Mas?” tanyanya lagi, memastikan, “Oh, iya-iya, silahkan.” Perlahan tapi pasti, ia pun mengambil gelas itu. Tapi karena tangannya entah sedang piknik atau pikirannya lagi liburan panjang, byur!—tumpahlah sisa-sisa ampas itu.

Refleks, gue langsung menyelamatkan scrapbook yang tepat berada di sampingnya. Untung masih selamat. Tapi baju gue? Basah. Lengket. Dan baunya: kopi. Arghh, sial!

“Aduh, maaf-maaf, Mas! Nggak sengaja!” ucapnya panik sambil menggenggam tangan gue erat-erat. “Nggak sengaja atau nggak konsen? Mbak lagi mikirin apa sih!” bentak gue, mulai jengkel. Tapi bukannya merasa bersalah, ia malah senyum-senyum menggoda.

“Abis gaya Masnya… keren banget sih,” jawabnya membekukan gue sesaat. “Sampai-sampai dunia saya teralihkan sejenak, Mas.” Mendengar itu, seketika bulu kuduk gue berdiri. “Gatel banget ni cewek. Pengen gue garuk pake excavator rasanya.” Gerutu gue dalam hati.

“Yaudah, saya mau ke kamar kecil dulu. Tolong titip jagain scrapbook saya, ya,” ucap gue kemudian, sambil mengambil tas ransel berisi baju ganti.

Saat ini gue sedang berada di terminal kedatangan domestik Bandara Soetta. Menunggu kawan lama yang katanya mau menjemput, tapi entah kenapa rasanya lebih lama dari masa penantian skripsi. Karena itu, gue memutuskan untuk duduk di coffee shop ini sambil memikirkan alternatif penjemputan lain. Ya, sekalian menenangkan pikiran sejenak dari perjalanan yang baru saja gue lalui.

Itu rencana awalnya. Siapa sangka, kedatangan pertama gue ke Jakarta setelah sekian lama justru disambut oleh kesialan babak satu ini. “Argh!”

Tujuan gue kembali ke Jakarta adalah untuk mengakhiri masa perantauan gue yang cukup panjang. Setelah sekian lama gue berada di tanah orang, ini adalah untuk pertama kalinya lagi gue menginjakkan kaki ke kota yang telah membesarkan gue dengan banyak luka. Di mana luka itu hanya membuat gue makin terpuruk dan terjebak ke dalam situasi yang belum gue temukan jalan keluarnya.

Bzz! Bzz! Tiba-tiba ponsel gue bergetar.

Dengan buru-buru mata gue menyisir area penjemputan bandara, mencari sosok mobil yang dikendarai oleh kawan gue itu. Dan—ah, itu dia. Sebuah tangan melambai-lambai dari balik kaca sedan hitam, membuat dada gue mengendur lega.

Karena tampaknya kendaraannya tidak boleh berhenti lama di area penjemputan, gue langsung tancap lari. Petugas bandara sudah meniup peluitnya, seolah-olah gue ini peserta maraton yang start-nya ketinggalan. Priit! Priit! Ayo! Priit!

“Woy, Bay! Jangan ngebut dong, lo kata gue macan tutul?!” protes gue dengan napas tersengal-sengal. Lalu gue segera meluncur ke kursi belakang seperti atraksi lumba-lumba masuk ke lingkaran. Whoop!

Setelah gue perhatikan, ternyata kawan gue tidak sendirian—ada seorang wanita yang duduk di kursi pengemudi. Refleks gue tersenyum, berusaha terlihat ramah. “Sori ya, sebenernya gue yang nyaranin untuk nggak parkir, biar lo nggak kelamaan nunggunya,” ucap sosok wanita yang masih belum gue kenal itu.

“Iya, Dra. Parkiran penuh banget tadi. Oh, iya, kenalin ini temen gue—Vero. Dia yang punya mobil,” tambah Abay, memperkenalkan. “Iya, gue Vero. Lo Deandra kan? Abay banyak cerita tentang lo. Salam kenal ya,” ucapnya tanpa lepas fokus dari jalan. “Oh, iya, gue Deandra. Maaf ya, gue jadi ngerepotin,” balas gue menatapnya. “Oh, nggak kok. Kebetulan gue hari ini free,” jawabnya santai.

Btw, lo berubah banget, Sob?” celetuk Abay, tiba-tiba memberikan tatapan menghakimi. “Berubah gimana? Jadi ranger biru?” Gue meledeknya, sambil memperagakan gaya Power Rangers saat berubah. Abay pun geleng-geleng kepala.

Memang, penampilan gue jauh berbeda dari terakhir saat bertemu dengannya. Tangan hingga leher penuh tato. Telinga dengan ear plug 18mm. Sangat jauh dari Deandra versi SMA.

“Oh, emang dulu gimana?” tanya Vero penasaran. “Yah, dulu Andra cupu. Jangankan jadi jagoan, di deketin cewek aja takut, kayak kucing liat vacuum cleaner,” ledek Abay, diakhiri dengan tawanya yang mungkin bisa membangunkan tupai hibernasi. Gue cuma menatap keluar jendela, malas menanggapi.

“Oh, ya, Dra. Seru nggak sih merantau di Bali?” celetuk Vero kemudian. “Hmm, biasa aja,” jawab gue datar. “Oh, gitu. Gue biasanya ke sana pas liburan aja dan nggak pernah puas,” lanjutnya tampak iri. Abay nimbrung lagi. “Si Andra emang gitu, Ro. Hidupnya flat, nggak bergairah, monoton. Seakan-akan kebahagiaan udah di-uninstall dari tubuhnya.” Kini giliran Vero tertawa ngakak.

“Ngomong apaan sih lo, Bay. Ngasal banget!” omel gue, memberikan lirikan tajam ke arahnya. “Ya, lagian elo! Yang namanya orang pulang kampung tuh, bahagia gitu, seneng, senyuuum. Masih inget caranya senyum nggak?” ledeknya. Gue pun membalas dengan cubitan di kedua pipinya yang tembam seperti adonan donat gagal mengembang itu. “Akhg!” Abay mengerang. “Ish, apaan sih kalian, bromance banget.” Mata Vero memicing, namun terdapat senyum kecil di wajahnya.

Ya, begitulah gue dan Abay—love-hate relationship versi pertemanan. Menyebalkan, tapi paling bisa diandalkan. Dulu ia adalah satu-satunya teman yang gue punya waktu SMA. Karena rumah kami berdekatan, mau tidak mau kami jadi akrab.

“Oh, ya, jadi selama empat tahun kemarin itu lo nggak pernah pulang ke Jakarta, Dra?” Vero bertanya lagi. “Nggak, ini pertama kalinya.” jawab gue datar. Ia langsung terkejut. “Wah, pasti lo kangen banyak hal, ya. Mau kita buka aja nggak kaca mobilnya? Siapa tau lo mau hirup udara Jakarta.”

“Dih, bau apaan yang mau dikangenin? Karbon Monoksida, Sulfur, Nitrogen Dioksida, Ozon…” sahut Abay, flexing kepintarannya. “Hmm, boleh-boleh. Udah lama nggak ngerasain sibuknya kota Metropolitan ini,” antusias gue, sambil membuka kaca yang tepat berada di samping gue.

Whooosaaah hmmp Ya, beginilah bau ibu kota ini. Bau semangat orang-orang yang berambisi untuk mencapai keinginan pribadi. Tersebar wajah-wajah kemunafikan yang kerap bersembunyi di balik profesi. Juga tatapan-tatapan curiga yang saling menghakimi. Banyak topeng-topeng palsu bertebaran di setiap sudut kota. Namun inilah Jakarta, dengan segala pesonanya yang tak pernah mati.

Setelah melewati padatnya lalu lintas di malam hari, akhirnya kami sampai di depan rumah gue yang terletak di daerah selatan Jakarta. “Ya, ampun! Ternyata rumah lo di sini, Dra?” seru Vero, tidak percaya. “Kenapa?” Gue mengerutkan dahi, penasaran. Ia geleng-geleng kepala—lalu tersenyum, “Iya, sebelumnya Abay udah bilang sih, kalo rumah lo itu sekitaran sini. Tapi, gue nggak nyangka juga kalo ternyata sedeket ini.”

Kini gue yang terkejut. “Oh, ya!” spontan gue menatap Abay. “Iya, beda beberapa blok doang kok,” celetuk Abay menambahkan. “Yaudah, pada mau mampir nggak nih?” tanya gue basa-basi, sambil membuka pintu mobil yang berhenti tepat di depan pagar. Belum sempat mereka membalas, gue sudah di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan gue.

Rasanya waktu berhenti perlahan-lahan bersamaan dengan napas gue yang secara teratur melambat. Kedua mata ini pun enggan untuk mengedipkannya. Karena di dalam bola mata ini tampak terlihat sesosok wanita tengah berdiri di depan pintu rumah, melambaikan tangan dengan senyuman indah penuh kerinduan yang terlukis di wajahnya.

Dengan segera gue hempaskan barang bawaan gue, lalu berlari ke arahnya. Setiap langkah yang gue pijak, berputar seiring dengan segala kenangan yang tersimpan baik di hati ini. Dinginnya malam dan terangnya bulan menjadi saksi atas kerinduan yang tak tertahankan.

Dan… senyuman itu terlihat semakin nyata di saat gue berada di hadapannya. Tak sepatah kata pun terucap. Hanya dua tatapan saling bertemu. Kemudian naluri pun mengikuti. Sebuah pelukan hangat telah mendarat di tubuh gue. Pelukan dari orang yang selalu gue ucap dalam doa. Pelukan dari manusia yang telah memilih gue sebagai tujuan hidupnya.

Ya, beliau adalah ibu yang merawat gue. Gue pun tidak sanggup lagi menahan air mata ini. Air mata bahagia karena telah kembali ke rumah. Merasakan hangatnya suasana yang tidak bisa tergantikan di tempat lain.

“Maafin Andra ya, Ma. Selama ini Andra udah nggak peduli dengan kalian,” bisik gue, diiringi air mata jatuh membasahi pipi. “Iya, udah-udah. Yang penting kamu udah kembali sekarang. Jadi, Mama nggak perlu khawatir lagi. Udah, ah! Malu dilihat teman-temanmu tuh!” balas Ibu, mencoba menenangkan gue yang sedang terbawa suasana.

Lalu, tiba-tiba sebuah pelukan lain mendarat dari arah belakang gue. Tanpa menengok pun, gue bisa mengetahui kalau itu adalah adik gue, Diana. “Kak Andra!” serunya, tampak bahagia dengan sentuhan yang masih terasa canggung.

Beberapa saat kemudian, “Ehem, Dra!” terdengar suara Abay memanggil gue. “Oh, iya. Sori ya guys, sampe lupa ada kalian,” terkejut gue, baru menyadarinya.

“Iya, nggak apa-apa. Yaudah, kalo gitu kami langsung balik dulu aja ya, Dra. Mari Tante,” ucap Vero, pamit undur diri. Sementara gue merasa sungkan karena tidak menyuguhkan apa-apa ke mereka yang sudah susah payah menjemput gue. “Oke deh. Lain kali kalo ke sini lagi kita makan-makan ya,” celetuk gue, sesaat sebelum mereka pergi.

“Itu tadi sahabat SMA-mu yang dulu, kan?” dengan ragu, Ibu menatap gue. “Kalo si Abay iya, Ma. Kalo Vero, Andra baru kenal tadi,” jawab gue, apa adanya. “Oh, gitu. Eh, tapi dia itu perempuan kan? Mama takut salah manggil. Soalnya pakai bajunya kayak anak laki-laki,” heran Ibu, mengingat dandanan Vero yang memang terlihat tomboy.

“Ya, kayaknya cewek sih, Ma. Andra belum periksa juga dalemnya,” canda gue, sambil membayangkan. “Hush! Kamu kok jadi genit gini!” Ibu terkejut, tidak pernah melihat pribadi gue yang seperti ini.

“Oh, ya. Vero itu ternyata masih tetanggaan sama kita lho, Ma. Beda beberapa blok doang dari sini,” lanjut gue. “Oh, ya? Hmm, dia suka drakor nggak, ya?” Gue mengangkat bahu, lalu menyelonong pergi—tidak ingin terlibat lebih jauh lagi.

Gue langsung menuju ke kamar yang telah lama gue tinggalkan. Kamar yang selalu menghangatkan gue dari sejak kecil hingga terakhir gue meninggalkannya. Sebuah kamar, yang telah menjadi saksi bisu atas segala hal yang gue rasakan, di saat orang lain tidak mau mengerti.

“Jglek!” suara pintu terbuka. “Yeah, welcome home, Deandra,” ucap gue menyambut diri sendiri. “Welkom-welkom,” sahut Diana lirih mengejutkan gue. “HAAHAIYAA!” Mendadak gue cosplay jadi Spiderman merayap di dinding. Diana menatap sinis. Mungkin di dalam benaknya, ia sedang berpikir: lebay banget sih manusia satu ini.

“Ka—kamu ngapain di sini? Kakak kira kosong nggak ada siapa-siapa tadi,” dengan detak jantung yang masih kencang, gue bertanya. “Ish, kalo nggak disuruh Mama juga Diana males ke sini! Kamar udah kayak markas mafia pengangguran!” balasnya membuat gue terdiam. Adik gue satu ini memang galak mirip macan baru dilepas dari kandang.

“Silahkan, Tuan Deandra, kamar Anda sudah siap. Kini Anda bisa beristirahat selamanya… eh, maksud saya beristirahat dengan nyaman,” lanjutnya menyeringai sebelum keluar dari kamar. Saat itu juga gue baru sadar jika Diana ternyata baru saja membersihkan kamar gue. Gue pun buru-buru memberikan senyuman terindah gue, namun… “Uweeeek!” Entah ia kenapa.

Tak terasa hari pun sudah larut malam. Langit tampak gelap karena bulan bersembunyi di balik awan. Cahaya lampu yang menerangi kamar juga telah padam. Diikuti oleh heningnya suasana yang sedikit mencekam.

Kurebahkan badan ini karena lelah yang tak tertahankan. Mengistirahatkan jiwa raga dan juga pikiran yang sering mengancam. Bola mata menari-nari, dari ujung kiri hingga ujung kanan. Mengingat segala kenangan, hingga tak sadar telah terpejam.

Selamat malam wahai engkau yang akan kuimpikan. Kita kan bertemu, walau di alam yang tak kita inginkan.

Di suatu tempat

Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, tampak seorang wanita sedang membolak-balikkan tiap-tiap halaman pada scrapbook yang baru ditemukannya itu. Ia membaca setiap kata demi kata yang tertulis di sana. Matanya berbinar, seolah menemukan sesuatu yang sangat berharga di buku tersebut. Lalu ia bersedih, air matanya jatuh tanpa ia sadari.

“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”

***

18 bulan kemudian

“Deandraaa! Ayo banguuun, kamu sarapan nggak?” teriak Ibu dari dapur, yang terdengar hingga ke alam mimpi. Gue tersentak, dan langsung koprol dari kasur. “Ah, udah pagi aja,” gerutu gue, belum rela membuka mata. Rasanya baru saja gue memejamkan mata ini sejenak.

“Deandraaa! Orang tua manggil nggak di jawab-jawab!” teriak Ibu hingga menggema ke seluruh ruangan. “Awas ya, nggak Mama masakin lagi, lho!” lanjut beliau mengancam dengan kalimat pamungkasnya.

“Iya, Ma, bentar, lagi tanggung,” balas gue, bergegas. “Hah! Tanggung? Emang kamu lagi ngapain?” Nada Ibu terdengar heran. “Tanggung lagi beresin tempat tidur, Maaaaa...” jawab gue, buru-buru menghampiri, salto, lalu berpose di hadapannya.

“Taraaaa! Andra udah siap,” lanjut gue, mempersembahkan diri sendiri, lengkap dengan kedua tangan terbuka lebar. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gue yang absurd itu.

“Beberapa hari ini kamu telat bangun terus. Insomnia kamu kumat lagi ya?” tanya beliau, memperhatikan wajah gue dengan tatapan yang bisa menembus pertahanan siapa pun. Gue tersentak. “E… emang keliatan ya, Ma?” sahut gue pelan.

Ibu mendengus sambil melotot kecil. “Tadinya Mama pikir kamu cosplay jadi Kungfu Panda, kantong matamu hitam banget!” ledeknya, separuh bercanda, separuh khawatir. Gue cuma bisa menghela napas panjang.

“Apa ini ada hubungannya dengan permintaan Mama waktu itu? Kamu jadi kepikiran lagi?” Suaranya melunak. Permintaan yang dimaksud adalah hal yang sama yang sudah berkali-kali beliau ucapkan—hingga gue hafal tiap intonasinya. Hal yang tidak pernah benar-benar gue inginkan.

“Emangnya kamu nggak mau tahu asal-usul kamu, Nak?” lanjutnya, kali ini menatap gue sungguh-sungguh, seolah setiap kata diberi bobot. “Hmm… bukannya Andra nggak mau, Ma. Tapi… bagi Andra, selama ada kalian, itu udah cukup,” jawab gue dengan keyakinan yang dicampur sedikit lelah.

“Iya, Mama tau itu.” Beliau mengusap punggung gue perlahan. “Tapi sampai kapan kamu akan menyimpan rasa benci itu? Kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu agar hidupmu tenang, Nak.”

Kami terdiam. Hening menggantung seperti asap yang enggan hilang. Sesekali pandangan kami bertemu, tapi langsung kabur lagi, seperti masing-masing takut membuka pintu emosi yang dalam.

“Pokoknya kamu harus ingat… kalau di sini sakit, jangan ditahan.” Jari Ibu menunjuk dada. “Iya, Ma…” jawab gue lirih. “Kamu masih ingat kan kata-kata Dokter Silvi, kan?”

Gue mengangguk pelan. “Iya, nggak perlu overthinking dan nggak boleh ngerasa sendirian.” Kalimat itu keluar otomatis, seperti mantra yang sudah terlalu sering gue ulang.

“Kalau kamu merasakan gejalanya, kamu harus langsung menemui beliau. Mama nggak mau kejadian lima tahun lalu terulang lagi.” Suara Ibu bergetar tipis. Masih ada trauma di sana, meski beliau berusaha menutupinya dengan wajah tegar.

Gue hanya bisa menarik napas panjang. Rasa mual yang samar tercampur dengan kehilangan selera makan. Untuk mengalihkan suasana, gue bertanya, “Oh, ya… Diana mana? Kok nggak ikut sarapan?”

“Diana? Ya udah berangkat dong,” jawab Ibu, memandang gue seakan gue baru turun dari planet lain. “Hah? Ke mana?” penasaran gue. “Tuh, kan. Kamu nggak perhatian sama adikmu. Diana kan udah mulai kerja dari minggu lalu. Masa kamu lupa sih?” Kedua tangan Ibu bertengger di pinggang.

Lihat selengkapnya