Esensi Cinta

Peter Samudra
Chapter #3

Chapter II Di Antara Lampu Neon dan Awan Hitam


Barbershop baru saja gue buka. Lampu-lampu neon baru menyala, memantulkan cahaya pucat ke kaca besar yang penuh sidik jari pomade. Gue lagi duduk di kursi hidrolik, menikmati sunyinya toko sebelum dunia ribut seperti biasa.

Lalu—“WOY, DRA!” Suara itu pecah seperti petasan yang dilempar ke ruangan tertutup. Jantung gue hampir keluar lewat jakun.

“KAMPRET—DIMAS! Bisa nggak sih lo masuk ke ruangan dengan normal? Sekali aja!” seru gue sambil menepuk dada sendiri, memastikan jantung ini masih berada di tempatnya. Dimas berdiri di ambang pintu dengan tatapan bangga, seolah mengejutkan gue adalah sebuah prestasi.

“Hehehe, sori. Abis seru banget ngerjain lo. KOCAG.”

Gue manyun. “Tumben lo pagi-pagi udah nongol. Terus ntar sore siapa yang jaga?” Dimas mengangkat jempolnya. “Tenang, ada Anto. Sekarang dia udah bisa dilepas,” jawabnya sambil melakukan gerakan pemanasan aneh. Jongkok—berdiri—jongkok—berdiri. Seperti atlet yang salah masuk cabang olahraga.

“Nanti abis makan siang ada tamu yang maunya dicukur sama gue doang,” ucapnya kini sambil bergaya di depan kaca, memeriksa seberapa cool dirinya pagi ini.

“Ah, paling juga om-om genit,” celetuk gue. “Heh! Bini gue lagi bunting nih, ati-ati ngomong lo,” sewot Dimas, tiba-tiba panik. Sementara gue terus tertawa membayangkan apa yang terjadi di masa lalu bersamanya.

Hubungan gue sama Dimas memang begini: akrab, absurd, dan sering kali membuat orang salah paham. Gue kenal dengannya sewaktu gue merantau di Bali. Ternyata, kampung halaman kami sama—Jakarta. Hobi sama, selera sama, frekuensi bercanda juga sama. Jadinya nyambung terus, sampai-sampai orang mengira kami pacaran. Iya, serius.

Untuk menepis rumor itu, kami sepakat membuat kompetisi cari pacar. Sebuah keputusan yang—tanpa sengaja—merubah hidup Dimas selamanya. Di mana akhirnya ia bertemu dengan Mariana, wanita yang sekarang menjadi pusat orbitnya.

Dan yang lebih absurd lagi, setelah gue kembali ke Jakarta dan sekolah kapster, Dimas… ikut pulang. Ikut sekolah juga. Ikut jalur hidup gue selayaknya stalker profesional yang terlalu setia.

Ia sering bilang hidupnya hampa tanpa gue. Awalnya gue berpikir ia hanya orang gila yang terobsesi. Namun lama-lama gue sadar: ia cuma kosong, dan gue jadi pengisi waktunya. Ya sudahlah. Meski menyebalkan, Dimas adalah teman yang setia kawan.

“Gimana, lo udah periksa ke dokter?” tanya Dimas, nada seriusnya turun tiba-tiba. Atmosfer langsung berbeda; seperti film komedi yang berubah tone jadi drama keluarga dalam dua detik. “Hmm… belom,” jawab gue pelan. “Lo nunggu apaan lagi, Dra?” Tampak Dimas menahan emosi, tapi ekspresi “gregetan” nya jelas seperti ingin melempar kursi.

“Ya… masih gue pikirin.” Dimas mendekat, bersandar di meja barber. “Penyakit kok dipikirin. Overthinking mulu lo,” ucapnya semakin menjadi. “Ya gimana dong. Emang gue orangnya begini.” Dimas menarik napas panjang. “Makanya periksa. Kalo dengan cerita ke orang terdekat lo aja nggak ada pengaruhnya, berarti lo butuh seorang profesional.

Gue terdiam. Kalimat itu turun seperti gumpalan awan hitam, pelan tapi berat. Barbershop yang tadi terasa hangat, tiba-tiba berubah dingin seperti AC yang lupa dimatikan semalaman.

Tiba-tiba, semua masalah yang sudah lama gue pendam muncul satu per satu. Gue rangkai, gue tata, sampai bentuknya seperti pohon besar yang rimbun—terlalu rimbun. Akarnya sudah terlanjur menghujam, dan dahannya merayap kemana-mana. “Hmm, mungkin emang harus dipangkas,” gumam gue dalam hati. Agar rimbunnya tidak memakan gue habis.

Setelah selesai dengan shift kerja hari ini, tiba-tiba gue teringat akan adik gue—Diana, dan berencana untuk menjemputnya. Jika kemarin gue mengantarnya tidak sampai ke depan gedung kantornya, setidaknya kali ini gue akan menjemputnya tepat di depan pintu HRD-nya.

Saat sedang berjalan memasuki gedung, tiba-tiba gue diberhentikan oleh seorang petugas yang sepertinya bagian keamanan di sana. “Sore, Mas. Ada keperluan apa?” ucapnya ramah, tapi matanya tetap waspada. “Saya mau jemput adik saya, Pak. Pulang kerja.”

Sekuriti tersebut manggut-manggut. “Adiknya bagian apa?” Gue menggeleng, agak malu. “Saya… nggak tau, Pak.” Senyumnya menurun sedikit, tapi tetap sopan. “Jam segini biasanya sudah sepi. Paling tinggal yang lembur sama bagian cleaning service, Mas.”

“Oh, gitu.” Gue mengangguk pelan. “Baik, Pak. Saya tunggu di sini saja.” Gue bergegas menghubungi Diana. Nadanya berdering… tapi tidak diangkat. Pesan yang gue kirim tetap centang satu. Hah, jangan-jangan Diana udah pulang? Atau sedang menghindar? Tapi firasat gue mengatakan gue harus tetap menunggu.

Dan benar saja—beberapa menit kemudian gue melihat sesuatu yang membuat gue refleks memicingkan mata. Rambut hitam pendeknya. Cara jalannya yang sedikit terburu-buru. Bahunya yang selalu sedikit menunduk. Itu jelas-jelas—“Diana…?”

Gue membeku. Ia mengenakan seragam kebersihan. Mendorong troli besar bersama seorang teman wanitanya. Lampu lobi memantulkan warna biru kusam dari rompi kerjanya, membuat wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Sesuatu di dada gue seperti diremas.

“Diana!” suara gue keluar tanpa kendali. Ia menengok—mata kami bertemu. Dan seketika ia memalingkan wajah, seperti seseorang yang ketahuan menyimpan luka. Ia berbalik dan lari. Gue spontan mengambil troli yang kosong di sudut lobi—entah ide dari mana—dan mendorongnya seperti otoped. Pedal kaki gue menghentak lantai berkali-kali. Rodanya berderit memantulkan gema panjang di lantai marmer.

“Din! Tunggu… jangan lari!” Diana makin panik. Sekuriti juga ikutan panik. Suasana gedung yang tenang berubah menjadi adegan kejar-kejaran yang absurd namun penuh kegentingan. Lorong-lorong panjang terasa seperti sirkuit MotoGP versi lembur tidak dibayar. Lampu-lampu putih di atas kepala berubah menjadi garis-garis cahaya saat gue melewatinya. Ngueeeng!

Setelah beberapa lap—lorong, pantry, tangga darurat, kantin, hingga meeting room, Diana akhirnya melambat. Bahunya naik-turun menahan napas. Gue berhenti tepat di depannya. Sekuriti yang dari tadi berlari mengikuti entah hilang ke mana.

“Kamu… hosh… ngapain lari?” suara gue hampir pecah. Diana mengusap wajahnya cepat-cepat, seperti berusaha menyembunyikan sesuatu yang sudah terlanjur terlihat.

“Ya Kakak juga… hosh… ngapain ada di sini?” bentaknya dengan wajah pucat. “Ya jemput kamu, Din. Kamu sendiri, ini apa?” Gue menunjuk seragamnya. Ia menggigit bibirnya. Matanya bergetar. “Aku kerja. Emang kenapa?” Gue menghela napas pendek. “Nggak apa-apa. Tapi kenapa kamu nggak bilang kalau kerja beginian?”

“Beginian?” nadanya naik. “Emang apa salahnya jadi cleaning service?” Gue menggeleng cepat. “Nggak ada yang salah! Yang salah itu kamu nggak jujur. Mama tuh bangga banget mikir kamu kerja di perusahaan besar Korea. Tapi… bukan begini maksudnya.” Diana diam. Bahunya turun. Dan air matanya mulai jatuh.

“Ekspetasi kalian terlalu tinggi… kalian nggak tau apa yang udah aku lewatin…” Suara itu sangat kecil. Tapi menghantam gue seperti palu. Gue membungkuk sedikit di hadapannya, mencoba melihat wajahnya. “Kalo kamu nggak cerita, gimana Kakak sama Mama bisa tau? Kamu nggak sendirian, Din…”

Diana mengangkat wajahnya. “Apa Kakak sendiri pernah cerita?” ucapnya tiba-tiba, tajam. “Kakak pergi lama. Tanpa kabar. Tanpa kata-kata apa pun. Diana… sama Mama… cuma bisa nunggu.”

Duar! Perkataan yang tepat mengenai sasaran. Seperti ada cermin besar di depan gue—mengingatkan bahwa diri gue sendiri pun penuh cacat. Mendadak semuanya senyap. Lorong itu, AC yang berbisik, bahkan langkah petugas yang lewat—semua hilang. Hanya ada suara itu. Kalimat yang sudah lama harus gue dengar. Gue tarik napas panjang. “Yaudah, Din. Selesaiin dulu kerjaan kamu. Kakak tunggu di sini.”

Beberapa saat kemudian, Diana keluar dari lift. Wajahnya masih sembab. Tapi langkahnya lebih ringan. Ia menghampiri gue tanpa berkata apa-apa. Dan gue cukup memahami apa yang sedang dirasakannya. Bagi gue, meski usianya sekarang sudah menginjak 21 tahun, Diana tetaplah anak kecil yang gue tinggalkan waktu masih berusia 14 tahun.

Whroom! Whroom! Mesin si bandit meraung. Kami melaju pelan menembus jalanan yang diterangi lampu kota. Angin malam menyelinap masuk dari sela helm, membawa aroma aspal panas dan hujan yang belum turun.

“Din…” Gue melanjutkan obrolan, suara gue sedikit bergetar. “Kakak nggak meremehkan kerjaan kamu. Kakak juga dulu pernah jadi tukang cuci piring waktu merantau. Yang penting bertahan dulu. Nanti bisa cari yang lebih baik.” Diana diam, merenung. Bayangan wajahnya terpantul dari kaca spion.

“Kerja dari bawah itu bagus. Bikin kamu ngerti rasa capek orang lain. Dan… Kakak yakin Mama pun nggak akan marah kalau kamu cerita dari awal.” Gue menelan ludah sebelum lanjut. “Maafin Kakak ya. Kakak belum jadi kakak yang baik. Kakak cuek, nggak peka, nggak ngikutin perkembangan kamu.”

Diana menggeleng pelan. “Nggak, Kak… ini bukan salah Kak Andra. Lagian… bukan kewajiban Kakak juga. Kita kan bukan…”

Stop!” suara gue tegas. “Jangan pernah bilang gitu. Kamu dan Mama akan selalu jadi keluarga Kakak. Selamanya.” Diana terdiam. Lalu memeluk gue dari belakang, erat.

Sesampainya di rumah, Diana akhirnya berbicara jujur pada Ibu. Tangis Ibu pecah, bukan karena kecewa—tapi karena terlalu lama memikul harapan tanpa melihat luka di balik senyum anaknya selama ini.

Gue pun sama—tersadar betapa lalainya gue selama ini. Terkadang kita baru sadar pentingnya seseorang… ketika kita melihat mereka terpaksa menghadapi dunia sendirian, selayaknya diri kita sendiri.

“Ah, hari yang melelahkan,” gumam gue, sambil merebahkan badan di atas ranjang yang entah terasa lebih dingin dari biasanya ini.

Tik tok tik tok… Jam dinding memecah sunyi, seperti mengetuk-ngetuk dada yang masih penuh sesak. Mata ini terpejam, tapi kepala tetap terjaga. Bayangan-bayangan bergerak—liar, terang, dan menolak untuk padam. Seakan ada film yang terus diputar di balik kelopak mata, memaksa gue menontonnya hingga akhir.

“Sepertinya gue nggak akan bisa tidur… sebelum layar ini gelap sendiri.”

*** 

Hari Minggu akhirnya datang—hari ketika gue bebas dari rutinitas monoton yang belakangan terasa seperti benang kusut yang membelit leher. Tapi sayangnya tubuh ini tetap terasa berat, seperti ada beban pasir di tiap sendi.

Insomnia yang menghantui beberapa hari terakhir masih betah menetap. Mata gue memang sempat terpejam semalam... tapi pikiran gue lari maraton tanpa garis finish.

“Ah, masa gue harus pake obat-obatan itu lagi?” Keluhan itu muncul begitu saja, menyelinap di sela pikiran tentang masa lalu yang rasanya masih meninggalkan bekas luka di dada.

Di hari libur ini, gue berniat menemui Abay—mau bertanya soal kemungkinan lowongan kerja buat Diana. Adik gue itu pintar, punya latar belakang perhotelan, tapi hidup membawanya jauh dari tempat yang seharusnya. Gue cuma mau membantunya pulang ke jalur yang ia kuasai.

Sesampainya di depan pintu kos Abay, yang gue temukan cuma keheningan. Kosong. Lampu kamar mati. Saat gue mengetuk pintunya—tok-tok—tak ada jawaban. Gue ragu sebentar, lalu mengeluarkan ponsel. Tuut…tuut…—telepon tersambung, suara Abay muncul dengan latar suara berisik dari tempat umum. “Lo di mana? Kok nggak ada di kos?”

“Lah, emang gue wajib stay di kos tiap hari Minggu?” Kalimatnya santai, tapi membuat gue jengkel setengah mati. Setahu gue, tiap weekend ia cuma jadi furnitur hidup di kamarnya.

“Ya… biasanya Minggu kan lo nggak ke mana-mana. Emang masih lama?” Gue mulai penasaran. “Gue lagi sama cewek,” jawabnya santai. Gue langsung sadar, “Oh, yaudah, gue nggak ganggu deh—”

“Temen kampus dulu,” sambungnya, seolah-olah itu jawaban yang bisa membuat gue tenang. “Lo ke sini aja,” tambahnya lagi sempat membuat gue ragu. Namun setelah berpikir sejenak akhirnya gue menerima ajakannya itu.

Lalu sebelum menutup telepon, dengan entengnya—ENTENGNYA—ia meminta tolong ke gue untuk melakukan sesuatu yang otomatis membuat gue mendidih seketika.

Hening sebentar.

Gue tarik napas, lalu ambil kuda-kuda—bersiap untuk melakukan serangan balasan. Argh!—Dasar kadal rawa bulu domba!” Gue tendang keset Welcome di depan pintu kosnya sampai melayang ke rumah sebelah. “Yes! Home run,” teriak gue, sedikit bangga padahal lagi dongkol.

Bagaimana tidak? Abay minta tolong ke gue untuk jemur cucian di ember yang ia lupa jemur. Dan cucian itu… isinya kolor-kolor berlubang yang seharusnya sudah masuk museum fosil tekstil. Haaargh!

Setelah drama cucian usai, gue langsung ke lokasi tempat Abay berada. Dulu tempat itu sering jadi markas nongkrong kami—sebuah retail market di Fatmawati, lengkap dengan meja dan kursi di bawah payung besar, yang melindungi dari teriknya matahari dan hujan. Tapi begitu gue sampai… ternyata zonk.

“Mana sih ni anak?” Gue berputar-putar, mencari tanda-tanda keberadaannya. Tetap nihil. Akhirnya gue video call. Tiba-tiba muncul muka Abay yang sepertinya sedang menahan meteor jatuh dari langit.

“Lo lagi ngeden ya?” tanya gue curiga. “Iye. Sakit perut gue. Lo temuin temen gue dulu aja.” Klik. Telepon ditutup tanpa aba-aba. “Bajigur! Disamperin malah setoran die.” Gue ngedumel sambil memutar kepala, mencari wanita yang dimaksud. Dan ternyata… ada dua.

Wanita pertama: rambut magenta bergradasi gelap ke terang, lensa kontak warna abu, crop tee hitam menerawang, jaket bulu landak, hot pants jeans, sneakers. Aura hypebeast-nya kuat sekali hingga mencolok mata.

Wanita kedua: kaos putih oversize, rok rempel selutut, sepatu futsal pink (??), kaos kaki setinggi betis, gelang batu alam segambreng, totebag lembut-lembut aesthetic. Auranya… campur aduk. Antara anak seni atau anak hilang.

“Firasat gue sih yang kedua,” pikir gue asal. Gue hampiri wanita itu. “Halo, maaf—” Wanita itu memotong, “Saya nggak butuh asuransi, Mas!” Refleks gue mundur selangkah. “Eh, bukan—” Ia langsung melirik tajam. “Credit card juga nggak! Apalagi jajanan-jajanan UMKM dari dalam tas. Pokoknya saya nggak butuh apa pun!” Ia mengusir gue pakai gesture tangan: hush hush.

Seketika gue bengong. “Yeee… WONG EDYAN!” seru gue sambil mundur teratur. “Pake tas punggung aja gue nggak!” lanjut gue bergumam sendiri.

Tiba-tiba dari sudut mata, ada tangan melambai. Si cewek magenta. “Sini,” katanya sambil tersenyum hangat. Ah, ini baru manusiawi.

“Hai, lo temennya Abay ya? Dia masih di toilet,” ucapnya. “I… iya,” jawab gue, mendadak grogi. “Kenalin, nama gue Sonya.” Ia menyodorkan tangan. Gue terkejut. Sudah lama rasanya tidak berkenalan dengan seorang wanita.

“Oh, i… iya, gue Deandra.” Ia juga terkejut. Sangat terasa perubahan tenaga pada cengkraman tangannya. “Ke—kenapa? Ada yang aneh?” tanya gue memastikan. “Oh, nggak kok.” Ia terus tersenyum. Gue jadi kikuk dan merasa tidak nyaman.

“Oh, ya! Kata Abay lo dari Bali ya?” tanyanya, lagi-lagi mengejutkan gue. “Oh, Abay udah cerita ya. Hmm, gue bukan dari Bali sih. Lebih tepatnya, gue sempat merantau lama di sana.” Sonya mengerutkan dahi. “Lho, berarti lo asli mana?” tanyanya masih penasaran. “Gue tumbuh besar di Jakarta. Kan satu sekolah SMA sama Abay,” jawab gue, mulai lelah dengan pertanyaannya yang cukup menguras energi.

“Oh, iya ya…”

Lalu ia bertanya soal sesuatu yang ganjil: “Waktu SMP lo sekolah di mana?” Pertanyaan itu terasa menusuk—cukup aneh untuk perkenalan pertama. Gue langsung curiga. “Apa… jangan-jangan kita pernah ketemu ya?” tanya gue. Ia tampak panik. “Oh, nggak kok! Nggak!” jawabnya cepat, bahkan terlalu cepat. Seperti ada sesuatu yang benar-benar ia sembunyikan.

Tiba-tiba Abay muncul sambil nyengir kuda. “Wuiiih! Udah akrab aja nih!” Langkahnya ringan, seolah semua hal negatif di tubuhnya baru saja menghilang. Gue melirik kesal, masih teringat jelas cucian kolor berlubangnya itu.

Obrolan terus berlanjut. Lalu Abay bercerita soal kehidupan kuliahnya dulu. Yang mana ternyata Sonya merupakan donatur tetap—penyelamat hidup Abay di kampus. Mulai dari sering mentraktir makan, hingga berkontribusi menaikkan berat badan Abay karena terlalu sering memberikan subsidi logistik.

“Yee, itu sih lo nya aja emang nggak tau diri, Bay!” celetuk gue. Sonya hanya tertawa, sementara Abay cuek tidak tahu malu.

Setelah cerita nostalgia kampus yang dramatis, obrolan kami mengalir ke Diana begitu saja. “Oh, ya. Lo tadi nyari gue ada apa?” tanya Abay yang sepertinya baru mengingat maksud kedatangan gue.

Gue pun menceritakan semuanya soal apa yang gue alami kemarin, yang berkaitan dengan pekerjaan Diana. Abay dan Sonya mendengarkan dengan serius. Dan ketika ia bilang mungkin ada lowongan di hotel tempat om-nya bekerja, gue merasa beban di dada ini sedikit terangkat.

“Tapi… lo sendiri sibuk apa?” tanya gue, tanpa sadar penasaran lebih dari yang seharusnya. Abay menyeletuk duluan, “Sonya mah biar goler-goleran di ranjang tiap hari juga hidupnya udah tentram. Pewaris gitu!” Gue meliriknya. Bombastic side eye gue mode on. “Orang yang gue tanya Sonya! Nyamber mulu lo kayak jambret!” protes gue.

Sonya tertawa kecil, lalu berkata, “Gue Pelukis, Dean.”

Gue terdiam sejenak. “Hah… l—lo pelukis?” Sonya mencondongkan badannya. “Iya, kenapa? Nggak keliatan ya?”

“Hmm, nggak, bukan itu maksud gue. Cuma… penampilan lo nggak mewakili aja,” panik gue. “Emang kalo pelukis harusnya dandan gimana? Pake batik!” celetuk Abay, lagi-lagi jadi jambret. Gue mendengus pelan. Abay ini kalau jadi aplikasi HP, pasti gue auto-uninstall. 

***

 “Dims, ini yang reservasi jam empat… nggak salah nih?” tanya gue pelan, mata masih menempel di layar laptop. “Salah gimana?” Dimas mendekat sambil mengusap-usap rambutnya yang kaku mirip aspal baru jadi itu.

“Ini… namanya, nama cewek?” heran gue, dengan kedua alis terangkat. “Ya kali aja pake nama ibunya?” ucap Dimas santai. “Lagian kalo cewek juga nggak ada yang ngelarang,” lanjutnya, ada betulnya. “Ya… emang sih. Cuma…” Gue merasa ada yang aneh. Belum sempat gue lanjutkan, tiba-tiba…

Cling! Terdengar suara lonceng yang menandakan pintu barbershop terbuka. Cahaya sore menerobos masuk, membentuk siluet seseorang yang berdiri di ambang pintu. Kami spontan menoleh. Dan… jreng!

Seorang wanita melangkah masuk—anggun tapi energik, seperti karakter utama dalam drama yang tiba-tiba teleportasi ke dunia orang biasa.

“WOW… siapa wanita cantik ini?” Dimas langsung terpukau. “A—ada bidadari turun dari langit!” Anto si anak magang sampai menjatuhkan sisir.

Sementara gue—“Sonya?!” gue tercekat. Tidak menyangka akan kedatangannya. “Lo kok bisa ada di sini?” tanya gue ragu.

“Ini barbershop kan? Ya gue mau potong rambut, udah booking kok,” jawabnya datar. “Jadi… ini elo yang reservasi? Tapi—” gue langsung cek nama yang tertera di data reservasi, “di sini namanya bukan nama lo?”

Sonya tersenyum kecil. “Iya, gue pake nama panggilan di rumah, Ana—Sonya Indriana.” Gue manggut-manggut, tapi rasanya masih tidak percaya. “Nggak apa-apa, kan?” Ia memastikan. Senyumnya lebar, tulus, rasanya perut gue seperti dipukul oleh angin hangat.

“Nggak masalah sama sekali! Semua orang diterima di sini,” sahut Dimas cepat, tiba-tiba ikut bergabung. “Oh, iya, gue Dimas, pemilik barbershop ini.” Tangan Dimas menjulur mantap. “Sonya,” balasnya lembut.

Lihat selengkapnya