Labirin Terang
Terang yang kau selipkan dalam gelap, menumbuhkan harap
Menggerakkan langkahku menuju ke arahmu, dengan kesadaran hati dan jiwa
Langkah itu membawaku masuk ke dalam labirin
Membuatku tersesat mencari arah
Hanya dari kejauhan, terang itu nyata
Namun, terang yang kau bawa hanya singgah
Terang itu bukan untukku , melainkan untuk perempuan yang kau ratukan
Jika berhenti dalam labirin, dada yang membuncah terlalu rumit untuk dielakkan
Rasa ingin terbebas selalu meronta
Namun, langkahku tak kunjung keluar, terperangkap dalam bayang-bayang terang
Aku ... hanya tak mampu bersanding dengan perempuan yang kau ratukan
Yang terukir:
Elvano Haidar Antariksa
Selembar kertas yang berisi puisi itu tertempel di mading sekolah. Semua orang berbisik-bisik, menerka si pemilik selembar kertas itu. Hanya gadis berambut hitam sepunggung dengan name tag 'Elena Zuhair' di pin bajunya, yang berdiam diri di depan mading. Matanya memicing, dengan tangan mengepal meremas ransel di pangkuannya.
Orang gila mana yang lancangnya gak ngotak!
"El, itu ... bukan lo yang nulis 'kan?" ucap seorang perempuan di samping Elena. "Tulisannya gak asing sama tulisan lo."
Pertanyaan itu membuat sebagian orang menatap Elena.
Elena yang merasa diintrogasi tersenyum kecut, menatap perempuan itu. "Mana ada, dia musuh gue! Gak mungkin lah!" cetusnya.
"Iya sih." Perempuan itu bergumam.
Lantas Elena melenggang pergi. Wajahnya yang kecut dipaksakan tersenyum, menutupi rasa kesalnya. Itu memang tulisan tangannya. Jika orang-orang tahu, termasuk Elvan, harga dirinya akan merasa terinjak-injak.
Elena berpikir keras, siapa yang menempel tulisan itu di mading. Tulisan itu salah-satu dari lembaran diary book miliknya. Hanya orang lancang yang berani melakukan itu.
Bayang-bayang gelap sudah menghantui pikirannya, takut orang-orang tahu akan rahasia besarnya. Terlebih perempuan tadi, teman sekelasnya, mengenali tulisan tangannya.