Labirin Terang
Terang yang kau selipkan dalam gelap, menumbuhkan harap
Menggerakkan langkahku menuju ke arahmu, dengan kesadaran hati dan jiwa
Langkah itu membawaku masuk ke dalam labirin
Membuatku tersesat mencari arah
Hanya dari kejauhan, terang itu nyata
Namun, terang yang kau bawa hanya singgah
Terang itu bukan untukku, melainkan untuk perempuan yang kau ratukan
Jika berhenti dalam labirin, dada yang membuncah terlalu rumit untuk dielakkan
Rasa ingin terbebas selalu meronta. Namun, langkahku tak kunjung keluar, terperangkap dalam bayang-bayang terang
Aku... hanya tak mampu bersanding dengan perempuan yang kau ratukan
Yang terukir:
Elvano Haidar Antariksa
-------
Selembar kertas berisi puisi itu tertempel di mading sekolah. Mungkin puisi itu baru nangkring beberapa menit lalu, tapi bisik-bisiknya sudah menyebar ke mana-mana. Semua menerka siapa pemilik tulisan tangan itu.
Hanya gadis berambut hitam sepunggung dengan name tag ‘Elena Zuhair’ yang terdiam di depannya. Matanya menyipit, tangan kanannya meremas tali ransel sampai membuat buku jarinya memutih.
Orang gila mana yang lancangnya gak ngotak!
“El, itu... bukan lo yang nulis ‘kan?” Suara di sampingnya membuat Elena tersentak. Kirana. "Tulisannya nggak asing. Kayak tulisan lo," bisiknya kemudian.
Pertanyaan itu sukses membuat sebagian kepala menoleh ke arah Elena.
Elena yang merasa diinterogasi memasang senyum kecut. “Mana ada. Dia musuh gue! Nggak mungkinlah!”
Kirana bergumam, “Iya sih,” lalu balik mengobrol dengan Yona.
Elena melenggang pergi. Senyum kecutnya dipaksa bertahan, menutupi kesal yang sudah di ubun-ubun. Itu memang tulisannya. Jika sampai orang-orang tahu, terlebih Elvan, harga dirinya tidak akan baik-baik saja.
Siapa yang menempel tulisan itu di mading? Puisi itu salah satu lembar dari buku hariannya. Yang bisa menyentuhnya hanya orang rumah. Buku itu tersimpan rapi, tersembunyi, di bawah nakas, di dalam kamarnya. Selalu berada di sana, jika Elena tidak memakainya.
Bayang-bayang gelap langsung memenuhi pikirannya. Takut rahasianya terbongkar. Takut Kirana ataupun Yona—sahabatnya sendiri—jadi orang yang diberi cap pengkhianat.
Oke, El, katanya mau berubah. Jangan pikirin itu. Nggak bakal ada yang tahu. Lo sama Elvan musuh. Semua orang juga tahu itu...
Elvan. Nama yang dia suka dalam diam. Karena merasa tidak mampu bersaing dengan Nessa—adik tirinya yang digosipkan pacarnya Elvan—dia memilih menyimpan Elvan di kotak “musuh” di depan kelas. Kata anak-anak: benci tapi cinta.