Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #3

7345

Hiruk-piruk dalam pikirmu hanya datang sebagai perusak

---------------

Kantin sekolah ricuh menyerupai pasar. Elena memilih meja paling pojok, membawa pop mie juga teh kotak. Disusul Kirana dan Yona yang membawa gorengan satu nampan.

“Nes mana?” tanya Yona sambil menggigiti bakwan.

“Tuh!” Kirana nunjuk ke meja tengah, tepat di belakangnya. Nessa duduk bareng Elvan. Mereka tengah asik berbincang, dan sesekali tertawa. Beneran tertawa.

Ngapain nanyain Nessa? Tumben! Elena mengaduk pop mie-nya kencang. Terang itu bukan untukku, melainkan untuk perempuan yang kau ratukan. Kalimat puisinya nampol balik ke dirinya sendiri.

"Tumben nanyain Nessa?" Kirana balik bertanya. Mulutnya masih mengunyah, tetapi kalah telak dengan rasa penasaran.

"Buat daftar ekskul. Kan dia yang ditugaskan sama pak Trimo." Yona menjawab tanpa noleh. Bakwan di hadapannya lebih menggiurkan.

"Elena."

Elena tersentak. Helmi berdiri di sampingnya dengan nampan di tangan.

“Boleh gabung?”

Sebelum Elena menjawab, Kirana lebih dulu berinisiatif bergeser, memberi ruang untuk Helmi. “Boleh banget! Sini, Hel, duduk.”

Tempat duduk mereka di pojokan. Membelakangi kantin, langsung menghadap taman belakang yang rindang. Bangku semen panjang, dilapis kayu panel. Bukan tipe berhadapan, tapi bersampingan. Cocok untuk orang yang tidak ingin saling menatap. Tinggal lurus ke depan.

Helmi mengulas senyum, duduk tepat di samping Elena. “Kamu nggak ikut ke meja tengah?” tanyanya, melirik ke arah Elvan-Nessa.

Elena bergeming. Memilih jawaban yang tepat. Iya, gue nggak mampu bersanding!

“Gue lebih suka pojokan,” akhirnya dia menjawab singkat.

“Aku juga!” Helmi menyantap makanannya—nasi goreng dengan toping sayuran. “Pojokan itu tenang. Bisa liat semua, tapi nggak diliatin semua.”

Kalimat itu nusuk. Elena merasa Helmi menyindirnya, bukan pojokan.

Duo combo maut—alias Kirana dan Yona sempat melempar senyum jahil, sebelum akhirnya berdeham secara kompak.

"Apaan sih!?" Elena mendongak. Wajah tenang, tapi mematikan.

"Bahasanya aku-kamu." Kirana cekikikan.

Helmi sempat tersenyum canggung sebelum akhirnya berkata, "Masih kebiasaan di Bandung, bahasanya 'aku-kamu'. Apalagi kalo sama orang baru kenal."

Kali ini combo maut itu saling sikut. Dengan senyum manis masih dipertahankan.

“Eh, tapi aku penasaran,” Helmi natap Elena, “kira-kira, Elvano Haidar Antariksa, tau gak inti puisi itu?”

Sial!

“Hel!” Yona spontan menggebrak meja. Wajahnya sewot. "Jelas-jelas puisi itu bukan punya Elena!" Suaranya tertahan.

Elena berharap untuk saat ini Elvan tuli dadakan. Gawat jika ocehan gak jelas teman-temannya sampai ke telinga laki-laki itu.

Helmi terkekeh. Canggung, dan tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih Elena yang duduk tepat di sampingnya itu menatapnya nyalang. Tatapan itu seolah mengatakan: cuma lo yang tahu rahasia itu, Helmi!

Helmi merasa jadi orang dungu untuk saat ini.

Elena menoleh ke belakangnya. Dari meja tengah, Elvan menatapnya. Saling menatap. Hanya sesaat. Tatapan itu kembali untuk Nessa.

Sekarang Elena benar-benar merasa berdiri di bibir jurang. Curam. Anginnya dingin. Logikanya paham: mundur selangkah, aman. Tapi jiwanya? Jiwanya justru condong ke depan, penat menahan berat.

“El, geser, hey!” Kirana nyolek pinggang Elena. “Ngapain ngelamun? Sedotannya udah jadi biang lala.”

Elena tersentak—yang kesekian kalinya. Di sampingnya Nessa dan Elvan berdiri. Mereka menunggu.

“Geser, mereka mau duduk, El.” Yona nimbrung sambil ketawa dibuat-buat.

Lihat selengkapnya