Hiruk piruk dalam pikirmu hanya datang sebagai perusak
----------
Elena merasa berada di atas jurang yang curam, menanti untuk terjatuh, tetapi takut untuk terjatuh. Logika beserta jiwa yang paham akan pikirannya sendiri.
Mengingat perjalanannya sampai di titik ini, Elena takut akan terulangnya bayang-bayang kegelapan. Mengingat esok, lusa, dan masa depan nanti, membuatnya ingin berhenti lebih lama, memberi ruang untuk rencana dan kegelisahan yang tengah berperang.
Orang kayak aku ... gak layak buat jatuh cinta ....
"El, geser, hey!" Kirana menggoyangkan tubuh Elena, yang sedari tadi terdiam, memutar-mutar sedotan dalam minumannya.
Elena terperanjat dan sadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah samping kirinya. Ngapain ke sini? Melihat kehadiran Nessa dan Elvan membuatnya tidak suka. Mereka masih berdiri, menunggunya untuk bergeser.
"Geser, mereka mau duduk, El," tukas Yona, lantas terkekeh.
"Kan masih banyak tempat duduk ...." Elena menoleh ke arah belakangnya menyapu sekitar kantin, dan terlihat masih banyak tempat duduk yang kosong.
Tempat duduk mereka berada di pojokan, membelakangi kantin dan langsung berhadapan dengan taman belakang sekolah yang asri. Tempat duduk mereka tidak berhadapan, melainkan bersampingan dengan tempat duduk yang terbuat dari adonan semen yang dihiasi kayu-kayu panel. Tempat duduk itu sengaja dibuat memanjang dari ujung ke ujung.
"Kita mau data, El, bukan mau gabung makan," ucap Nessa, seraya tersenyum tipis. Kedua tangannya sibuk menggenggam lembaran kertas.
Elena tidak berekspresi, wajahnya datar. Sekilas ia menatap Elvan yang ternyata tengah menatapnya dengan hunus.
"Udah, geser aja, sempit buat mereka berdua." Kirana pun menarik tubuh Elena untuk bergeser.
Elena yang merasa kesal hanya menghela napas panjang. Hubungannya dengan Nessa tidak akur. Melihat Nessa hanya membuatnya merasa geram. Dilihat dari sisi baiknya, perempuan itu sempurna tanpa celah. Wajahnya yang cantik dengan perkulitan putih bersih, walaupun terkadang tampak pasi, tapi kecantikannya tidak pudar. Tubuhnya tinggi semampai. Nessa juga terkesan ramah, juga terpilih sebagai murid pintar di sekolah Griya Buana ini. Namun, Elena tidak bisa menjabarkan apa yang membuatnya kesal pada perempuan itu.
Mereka gak bisa bilang lo jahat, Sa ....
"El, lo masih mau ikut kelas lukis?" tanya Nessa dengan lembut. Itu memang karakternya, yang kata orang-orang 'soft spoken'.
"Iya!" balas Elena dengan ketus.
Nessa mengangguk, dan langsung menuliskan nama Elena dalam selembar kertas yang berisikan orang-orang yang akan mengikuti kelas itu. "Lo gak ada ikut kelas matematika?"
"Gue sibuk," balas Elena, tanpa menoleh.
Nessa menghela napas panjang. "Tapi, ini penting banget, El. Papa juga minta lo buat ikut. Kebetulan gue sekarang jadi ketua di kelas itu, jadi mau gak mau lo harus ikut."
Elena bersitatap dengan Nessa yang duduk tepat di sampingnya. "Bilang aja sama papa kalo gue gak nurut." Lantas ia beranjak dari duduknya. "Terus, kenapa lo pegang data kelas lukis, lo 'kan gak ada ikut kelas itu?"
"Gue sama Nessa ikut kelas itu sekarang." Kali ini Elvan yang menyahuti. "Kebetulan buk Airin minta data yang ikut kelasnya."
Elena tidak berkata apa-apa, ia melenggang pergi begitu saja. Mereka berdua memang anggota osis. Jadi bukan hal yang aneh mereka mendata para pelajar yang akan mengikuti kelas tambahan.
"Eh, sorry, Elena lagi gak baik mood-nya." Kirana tersenyum ambigu.
Nessa pun tersenyum. "Santai aja, gue bisa lanjut nanti di rumah."
"Btw lo... gak keberatan 'kan kalo kakak lo itu gak ikut kelas matematika?" tanya Yona, dengan hati-hati.
Nessa terdiam sejenak, lantas berkata, "Itu papa yang minta." Lantas ia beranjak dari duduknya. "Van, lo aja yang data, gue pergi dulu bentar," ucapnya lagi, dan melenggang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Elvan.
°•°•°•°•°•°
Roof top selalu menjadi tempat Elena untuk melarikan diri. Selain jarang dikunjungi banyak orang, tempat itu membuat Elena bisa melihat luasnya sekitar. Walaupun terkadang cuaca tidak mendukungnya. Seperti saat ini terik matahari di jam sepuluh membuatnya kepanasan.
"El, gue gak buat salah 'kan?"
Elena spontan menoleh ke arah belakangnya, bersitatap dengan Nessa. "Sa, lo tumben ngikutin gue ke sini?"
Nessa tersenyum kecut. "Gue tau rahasia lo, El."
Elena terdiam cukup lama. Isi kepalanya ricuh menerka-nerka apa yang Nessa ketahui darinya.
"Lo pasti berpikir gitu 'kan?" Nessa melangkah maju, menyisihkan sedikit ruang antaranya dengan Elena.
"Tahu apa?" Elena berusaha untuk tetap tenang. Pandangannya tidak berpaling menatap sepasang mata dengan iris coklat muda.