Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #4

Pulang

Gor Griya Buana, 16.30

Saat Elena menceburkan diri ke dalam kolam renang, seketika perasaannya meluas. Dia melepas segala berat yang dibawanya hari ini, menenggelamkan tubuhnya, membiarkan air itu mendekapnya. Hening. Menyejukkan. Matanya tertutup rapat, membawa jiwanya ke masa depan yang tak tentu.

Hari ini bukan jadwal kelas renang. Elena hanya ingin menghabiskan sisa waktunya bersama bau kalorin menyengat khas bau kolam renang. Meredam segala bimbang. Tempat ini tidak memaksanya untuk berpura-pura.

Di tengah ketenangan itu seseorang menceburkan diri ke dalam kolam renang, membuatnya segera naik ke permukaan air. Terlihat jelas laki-laki yang baru saja menceburkan diri itu Elvan.

Lagi tenang, malah dateng! Elena menepi, dan segera beranjak dari kolam renang. Lantas dia duduk di sebuah bangku di tepi kolam, dengan pandangan yang tidak teralihkan kepada Elvan yang tengah berenang. Sesekali dia tersenyum. Dan pastinya Elvan tidak menyadari hal itu.

Saat Elvan beranjak dari kolam, Elena pun beranjak dari duduknya. Dia berniat untuk segera mengganti pakaiannya di ruang loker.

"Hei!" Suara itu milik Elvan, yang sekarang tengah berdiri tepat di belakang Elena.

Elena pun membalikkan tubuhnya, berhadapan langsung dengan Elvan. "Manggil gue?"

Elvan mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban. "Jangan lupa isi formulir ekskul matematika."

Elena mendengus. "Gue nyesel daftar. Gue nggak minat buat ikut kelas matematika!"

Elvan menyugingkan bibirnya. "Matematika lo remedial, dan lo udah terdaftar. Mau kabur?"

"Urusannya sama lo apa?"

"Gue ketua di kelas matematika. Lupa?"

Sombong banget! Elena tersenyum kecut. Melihat wajah Elvan yang datar tanpa eskpresi itu membuatnya semakin geram.

"Gue nggak maksa lo dateng," jelas Elvan.

"Nggak maksa?" Elena tertawa sengak. "Lo dateng ke sini buat apa?! Lo nggak ada ikutan klub renang!"

Elvan menghela napas panjang. "Mentang-mentang lo atlet renang, lo mempertanyakan kedatangan gue ke sini?"

"Bukan—"

"Gedung ini milik sekolah, bukan milik lo!" Elvan menyela. Nada suaranya pelan, tetapi terdengar suram.

"Maksud gue, lo jarang—"

"Alasan kedua gue emang buat nagih lo dateng ekskul matematika!"

Elena terdiam sejenak, mengatur napasnya, menyusun emosinya agar tetap terkendali. Kali ini ia menatap Elvan dengan begitu intens. "Katanya nggak maksa?"

Elvan tersenyum smirk, lantas berkata, "Pak Trimo sebagai wali kelas, minta lo buat lebih giat lagi belajar. Termasuk minta lo buat ikut ekskul akademis. Nama lo udah ada di absen." Elvan melangkahkan kakinya, semakin dekat berhadapan dengan Elena. "Gue wakil ketua kelas, dan Nessa ketua kelas, kalo lo lupa!" katanya lagi, dengan nada mencekam.

Elena terdiam. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, adrenalin Elena nyaris meledak. Jantungnya berdetak sekencang itu hanya karena Elvan berdiri di hadapannya—sedekat itu. Mata elangnya yang tampak hunus memancarkan kelembutan alami. Sepasang pupil mata berwarna hitam pekat itu menjadi hipnotis yang membawanya untuk jatuh cinta—lebih dalam lagi.

Gila!

Setelah sadar dari lamunannya, Elena baru mengetahui Elvan sudah pergi dari hadapannya. Entah ke mana perginya laki-laki itu. "Ini tugas dia, nggak ada niat terselubung," gumamnya.

Elena beranjak pergi ke ruang loker, setelah melihat jam tangan di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul lima sore. Baru saja Elena membuka lokernya, ponselnya berdering. Seseorang menghubunginya.

Tertera 'Mama' nama kontak yang menghubunginya. Elena segera menerima panggilan itu dan menempelkan ponselnya di pipi kanannya.

"Halo... Ma?" ucapnya, ragu.

"Elen, temenin Mama di rumah sakit. Mama kirim alamatnya sekarang," ucap mama di seberang sana.

Lihat selengkapnya