Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #4

Pulang

Saat Elena menceburkan diri ke dalam kolam renang, seketika perasaannya meluas. Elena melepas segala berat yang dibawanya hari ini, menenggelamkan tubuhnya, membiarkan air itu mendekapnya. Bahkan kepalanya yang berisik pun berubah hening, hanya suara air yang tenang memenuhi pendengarannya. Matanya tertutup rapat, membawa jiwanya ke masa depan yang tak tentu.

Elena takut menjadi gagal. Juga takut untuk berhasil, takut membuat orang-orang jahat datang memanipulasi. Takut saat orang-orang menghakiminya, juga takut menjadi bagian luka orang-orang di sekitarnya.

'Lo masih bisa tertawa saat temen lo mati konyol!'

Suara bising itu kembali terdengar. Elena merasakan jantungnya berdegup tak karuan. Namun, Elena berusaha menepis perasaan itu, menenangkan dirinya sendiri.

Di tengah ketenangan itu seseorang menceburkan diri ke dalam kolam renang, membuat Elena segera naik ke permukaan air. Terlihat jelas laki-laki yang baru saja menceburkan diri itu Elvan.

Lagi tenang, malah dateng! Elena menepi, dan segera beranjak dari kolam renang. Lantas ia duduk di sebuah bangku di tepi kolam, dengan pandangannya yang tidak teralihkan kepada Elvan yang tengah berenang. Sesekali ia tersenyum. Dan pastinya Elvan tidak menyadari hal itu.

Saat Elvan beranjak dari kolam, Elena pun beranjak dari duduknya. Ia berniat untuk segera mengganti pakaiannya di ruang loker.

"Hei!" Suara itu milik Elvan, yang sekarang tengah berdiri tepat di belakang Elena.

Elena pun membalikkan tubuhnya, berhadapan langsung dengan Elvan. "Manggil gue?"

Elvan hanya mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban. "Jangan lupa isi formulir—"

"Gak miat!" Elena menyela. "Gue gak minat buat ikut kelas matematika!"

Elvan menyunggingkan bibirnya. "Matematika lo remedial, dan lo gak ada niat buat memperbaiki?"

"Urusannya sama lo apa?"

"Bantu Nessa buat bujuk lo."

Perkataan Elvan membuat Elena terdiam. Dalam benaknya menerka-nerka 'apa yang Nessa rencanakan' sehingga memaksanya untuk mengikuti kelas matematika itu.

"Gue gak maksa lo," jelas Elvan.

"Gak maksa?" Elena tertawa sengak. "Lo dateng ke sini buat apa?! Lo gak ada ikutan klub renang!"

Elvan menghela napas panjang. "Mentang-mentang lo atlet renang, lo mempertanyakan kedatangan gue ke sini?"

"Bukan—"

"Gedung ini milik sekolah, bukan milik lo!" Elvan menyela. Nada suaranya pelan, tetapi terdengar suram.

"Maksud gue, lo jarang—"

"Alasan kedua gue emang buat maksa lo ikut ekskul matematika!"

Elena terdiam sejenak, mengatur nafasnya, menyusun emosinya agar tetap terkendali. Kali ini ia menatap Elvan dengan begitu intens. "Katanya gak maksa?!"

Elvan tersenyum smirk, lantas berkata, "Pak Trimo sebagai wali kelas, minta lo buat lebih giat lagi belajar. Termasuk minta lo buat ikut ekskul akademis." Elvan melangkahkan kakinya, semakin dekat berhadapan dengan Elena. "Gue wakil ketua kelas, dan Nessa ketua kelas, kalo lo lupa!" katanya lagi, dengan nada mencekam.

Elena terdiam. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, Elena merasakan jantungnya berdegup tak karuan hanya karena berhadapan langsung dengan Elvan sedekat itu. Mata elangnya yang tampak hunus memancarkan kelembutan alami. Sepasang pupil mata berwarna hitam pekat itu menjadi hipnotis yang membawanya untuk jatuh cinta—lebih dalam lagi.

dilihat-lihat Elvan makin ganteng sama rambutnya .... Gaya rambut Elvan saat ini two block haircut yang tampak rupawan dengan garis wajahnya yang tampan.

Setelah sadar dari lamunannya, Elena baru mengetahui Elvan sudah pergi dari hadapannya. Entah ke mana perginya laki-laki itu. "Ini tugas dia, enggak ada niat terselubung," gumamnya. "Bukan karena bantuin Nessa juga."

Elena beranjak pergi ke ruang loker, setelah melihat jam tangan di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul lima sore. Baru saja Elena membuka lokernya, ponselnya berdering. Seseorang menghubunginya.

Tertera 'Mama' name countak yang menghubunginya. Elena segera menerima panggilan itu dan menempelkan ponselnya di pipi kanannya.

"Halo ... Mam?" ucapnya, ragu.

"Elen, temenin Mama di rumah sakit. Mama kirim alamatnya sekarang," ucap mama di sebrang sana.

Lihat selengkapnya