Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #5

Seni dan Patah hati

Selasa, 15 Juli 2025

.

Kafetaria yang terletak di perempatan jalan menuju gedung sekolah menjadi langganan Elena di setiap pagi. Kafetaria yang selalu paling awal buka dari kafe-kafe lainnya. Menurut pemiliknya, 'usahanya memang bertujuan sebagai tempat sarapan pagi!'. Seperti saat ini, matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi kafetaria itu sudah menerima pelanggan.

Usai memarkirkan sepedanya di parkiran, Elena memasuki kafetaria berkonsep minimalis tropis itu tanpa ragu. Kafetaria itu diberi nama 'Kafetaria Asri' oleh pemiliknya. Terdengar unik. Namun, si pemilik tidak sembarang memberi nama usahanya itu. Sesuai dengan nama pemiliknya, Asri, yang merantau dari Bogor, kampung halamannya.

"Baru jam enam." Elena bergumam, setelah melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Bunyi lonceng berdentang saat mendorong pintu kaca yang dipenuhi daun-daun rambat berwarna hijau. Keduluan sama dia! Sepasang matanya menemukan Elvan yang tengah duduk anteng, bermain ponsel, di meja pemesanan.

"Mbak—"

"Roti gandum pake salad, telor, sama keju. Minumnya fresh milk hangat," ucap mbak Asri, si pemilik kafe, di balik meja pemesanan. "Bener 'kan, Neng Elen?" ucapnya lagi, yang terdengar jenaka.

Elena terkekeh dengan kepalanya yang mengangguk mengiyakan.

"Mbak Asri udah tahu sama pesenan para pelanggan," sahut mbak Asri dengan riang, membuat Elena terkekeh. "Kayak den Elvan, pesanannya itu-itu aja!"

Sontak Elena melirik ke arah sampingnya, dengan ekor matanya, melihat orang yang tengah dibicarakan. Masih anteng dengan ponselnya.

"Lagi pacaran kali, Neng." Mbak Asri terkekeh, dengan tatapan usil menatap Elena-Elvan bergantian.

"Orang yang jadi pacar dia kemungkinan lagi nggak waras deh!" Elena berucap pelan, diiringi dengan tawanya yang dibuat-buat. Lantas duduk di depan meja pemesanan, sejajar dengan Elvan.

"Gue bisa denger!" Elvan menimpali, dengan suara yang terdengar acuh.

Elvan memang dingin dan tidak peduli. Namun, dia bisa berubah hangat, jahil, dan receh. Dia memiliki banyak sisi. Itu yang Elena tahu tentang Elvan.

Elena spontan melirik Elvan yang berjarak cukup dekat, hanya tersekat tiga tempat duduk. Cowok alpukat! Melihat selembar roti gandum yang hanya dibaluti saus alpukat membuat Elena menjuluki Elvan sebagai 'cowok alpukat'. Bahkan laki-laki itu memesan jus alpukat, juga buah alpukat instan yang dipotong dadu.

Elena merogoh ponselnya, hanya sekedar ingin mengeceknya. Layar ponselnya menyala lebih dulu, menampilkan notifikasi: 08******7345. 1 minute. Jempolnya menggeser banner notification. Tidak dibaca. Dihapus. Dan kembali dimasukkan ke dalam sakunya. Lebih baik mengabaikannya, daripada membuat paginya menjadi berantakan.

"Silahkan, Non." Mbak Asri menyodorkan roti gandum pesanan Elena yang dibungkus kertas roti, juga secangkir fresh milk hangat.

Elena tersenyum manis. "Makasih, Mbak."

"Mangga." Mbak Asri balik tersenyum. Bahasanya terdengar natural, lembut.

Omong-omong soal sarapan pagi di tempat mbak Asri memang kenyamanan Elena sendiri. Sarapan di rumah membuatnya hanya mati tak berkutik. Tempat ini menyediakan ruang untuk Elena mengisi perutnya, juga sekedar duduk bersampingan dengan Elvan. Tidak ada topik obrolan. Fokusnya hanya sarapan. Sekedar sarapan. Garing. Tapi Elena suka.

Elena tidak tahu pasti alasannya Elvan yang juga sering sarapan di tempat mbak Asri. Dilihat dari latar belakang keluarganya, tidak mungkin Elvan sarapan di luar karena di rumah tidak ada yang menyiapkannya.

Elvan berasal dari keluarga kaya raya. Papa Elvan yang memang keturunan konglomerat itu seorang Jenderal TNI AD. Dan ibunya sebagai seorang dokter kecantikan yang berhasil membangun sebuah klinik terkenal di kawasan elit Jakarta.

Di suatu waktu, Elena terkadang bertanya-tanya: mungkin Elvan sama sepertinya, merasa tidak nyaman untuk sarapan bersama dengan keluarganya? Namun, yang Elena tahu, Elvan berasal dari keluarga cemara. Atau mungkin mereka tidak sempat untuk sekedar sarapan pagi bersama?

Bodo amat tentang alasannya Elvan menjadi langganan tetap di tempat mbak Asri. Elena hanya selalu merasa hangat—berada di sekitarnya. Dopaminnya dibuat meledak.

Lonceng pintu kaca kembali berdentang. Elena mengabaikannya. Bukan urusannya. Derap kaki seseorang itu semakin mendekat ke arahnya. Ruang sunyi bisa mendengar, karena alunan musik di kafetaria mbak Asri tidak dinyalakan.

"Silahkan, mau pesan apa?" Mbak Asri menyambut kedatangannya.

"Saya mau secangkir latte," ucap seseorang itu.

Merasa tidak asing dengan suara itu membuat Elena menoleh.

"Helmi?" ucapnya.

"Hai!" Helmi melambaikan tangannya, dan tersenyum hangat. Lantas laki-laki itu tanpa ragu menarik sebuah kursi di samping Elena, dan mendudukinya.

Elena merasa ragu untuk tersenyum kepada Helmi. Bukan karena ada Elvan di sana, atau alasan lainnya, tetapi mengingat pesan-pesan dari nomor tidak dikenal membuatnya harus lebih berhati-hati dengan orang asing. Terlebih pesan-pesan itu datang setelah kedatangan Helmi.

"Kamu nggak sarapan di rumah?" ucap Helmi dengan penuh perhatian.

Bukan, lebih tepatnya soft spoken!

"Ah—iya!" Elena tersenyum kikuk.

Helmi pun tersenyum, masih dengan senyum yang begitu manis.

Ruangan terasa hening seketika. Hanya suara mbak Asri yang tengah sibuk di balik meja pemesanan.

Di detik berikutnya keheningan itu pecah, saat Elena berkata: "Btw... aku duluan." Dengan begitu ragu. Bahkan sepasang matanya tidak berani menatap Helmi.

"Um—iya, sampai jumpa nanti, El!" tukas Helmi, lagi-lagi dengan senyuman manisnya.

Elena masih tidak berani menatap Helmi. Dia hanya meliriknya sekilas, sebelum pergi keluar dengan membawa sarapannya.

Elena membiarkan sepedanya berada di depan kafetaria. Untuk menuju sekolah, dia cukup berjalan beberapa meter saja. Sepedanya dikunci, dan itu membuatnya tidak perlu khawatir.

Elena memang selalu menitipkan sepedanya di tempat mbak Asri, jika saja dia pergi ke sekolah dengan membawa sepeda. Dia bukan gengsi membawa sepedanya masuk ke dalam sekolah. Alasannya hanya ingin menikmati suasana pagi dengan berjalan kaki. Hanya dengan berjalan saja membuat pikirannya sedikit lebih tenang.

Nomor asing?

Teror?

Perasaannya?

Mama?

Rumah?

Otaknya terlalu banyak menuntut. Untuk menstabilkan pikirannya, dia berkali-kali mengatur napasnya dengan begitu tenang. Dia berjongkok di tepi jalan sembari menekan titik akupuntur dengan gerakan melingkar kecil searah jarum jam, di bagian dadanya. Yang katanya teknik 'Sea of Tranquility' ini bisa membantu meredakan kecemasan. Itu yang dia tahu saat pergi ke dokter psikologinya.

Lihat selengkapnya