Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #5

Seni dan Patah hati

Kafetaria yang terletak di perempatan jalan menuju gedung sekolah menjadi langganan Elena di setiap pagi. Kafetaria yang selalu paling awal buka dari kafe-kafe lainnya. Menurut pemiliknya, 'usahanya memang bertujuan sebagai tempat sarapan pagi!'. Seperti saat ini, matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi kafetaria itu sudah menerima pelanggan.

Usai memarkirkan sepedanya di parkiran, Elena memasuki kafetaria berkonsep minimalis tropis itu tanpa ragu. Kafetaria itu diberi nama 'Kafetaria Asri' oleh pemiliknya. Terdengar unik. Namun, si pemilik tidak sembarang memberi nama usahanya itu. Sesuai dengan nama pemiliknya, Asri, yang merantau dari Bogor, kampung halamannya.

"Baru jam enam." Elena bergumam, setelah melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Bunyi lonceng berdentang saat Elena mendorong pintu kaca yang dipenuhi daun-daun rambat berwarna hijau. Keduluan sama dia! Sepasang matanya menemukan Elvan yang tengah duduk santai, bermain ponsel, di meja pemesanan.

"Mbak—"

"Roti gandum pake salad, telor, sama keju. Minumnya fresh milk hangat," ucap mbak Asri, si pemilik kafe, di balik meja pemesanan. "Bener 'kan, Neng Elen?" ucapnya lagi, yang terdengar jenaka.

Elena terkekeh dengan kepalanya yang mengangguk mengiyakan.

"Mbak Asri udah tahu sama pesenan para pelanggan," sahut mbak Asri dengan riang, membuat Elena terkekeh. "Kayak den Elvan, pesanannya itu-itu aja!"

Sontak Elena melirik ke arah sampingnya, dengan ekor matanya, melihat orang yang tengah dibicarakan yang hanya fokus pada ponselnya.

"Lagi pacaran kali, Neng." Mbak Asri terkekeh, dengan tatapan usil menatap Elena dan Elvan bergantian.

"Orang yang jadi pacar dia kemungkinan lagi gak waras deh!" Elena berucap pelan, diiringi dengan tawanya yang dibuat-buat. Lantas ia duduk di depan meja pemesanan, sejajar dengan Elvan.

"Gue bisa denger!" Elvan menimpali, dengan suara yang terdengar acuh.

Elvan memang terkadang dingin dan tidak peduli. Namun, dia terkadang hangat, jail, dan receh. Dia memiliki banyak sisi. Itu yang Elena tahu tentang Elvan.

Elena spontan melirik Elvan yang berjarak cukup dekat, hanya tersekat tiga tempat duduk. Cowok alpukat! Melihat selembar roti gandum yang hanya dibaluti saus alpukat membuat Elena menjuluki Elvan sebagai 'cowok alpukat'. Bahkan laki-laki itu memesan jus alpukat, juga buah alpukat instan yang dipotong dadu.

"Kemarin Mbak denger cerita horor, di kampung Mbak!" ucap mbak Asri yang terdengar semangat, seraya menyodorkan roti gandum pesanan Elena yang dibungkus kertas roti, juga secangkir fresh milk hangat.

"Kayaknya seru deh, Mbak!" Elena menjawab dengan antusias. "Cerita dong, Mbak!"

Mbak Asri, si pemilik kafetaria ini terlihat masih muda. Mungkin wanita itu baru berusia empat puluh tahunan. Selain makanannya yang sesuai seleranya, pribadi mbak Asri ramah dan mudah bergaul, membuat Elena merasa nyaman berada di sana.

Mbak Asri bahkan tak jarang menceritakan kampung halamannya. Untuk statusnya saat ini, Elena tidak berani bertanya. Elena hanya berusaha menjaga kenyamanan. Juga alasan lainnya Elena selalu hadir ke tempat ini karena menciptakan ruang untuk lebih dekat lagi dengan Elvan.

Laki-laki itu juga selalu datang untuk sarapan. Elena tidak tahu pasti alasannya. Dilihat dari latar belakang keluarganya, tidak mungkin Elvan sarapan di luar karena di rumah tidak ada yang menyiapkannya.

Elvan berasal dari keluarga kaya raya. Papa Elvan yang memang keturunan konglomerat itu seorang Jenderal TNI. Dan ibunya sebagai dokter kecantikan yang berhasil membangun sebuah klinik terkenal di kawasan elit Jakarta.

Di suatu waktu, Elena terkadang bertanya-tanya: mungkin Elvan sama sepertinya, merasa tidak nyaman untuk sarapan bersama dengan keluarganya? Namun, yang Elena tahu, Elvan berasal dari keluarga cemara. Atau mungkin Elvan tidak nyaman sarapan seorang diri di rumah karena orang tuanya tengah sibuk?

Bodo amat tentang alasannya Elvan menjadi langganan tetap di tempat mbak Asri. Elena hanya selalu merasa hangat dengan cerita-cerita mbak Asri. Ada Elvan juga!

"Jadi, ceritanya pas tengah malam—" Ucapan mbak Asri terpotong, saat terdengar suara lonceng di pintu masuk.

"Silahkan, mau pesan apa?" Spontan mbak Asri menyambut seseorang yang baru saja masuk itu. Intonasinya pun berubah, terdengar lebih semangat dan hangat.

"Saya mau secangkir latte," ucap seseorang itu.

Merasa tidak asing dengan suara itu membuat Elena menoleh.

"Helmi?" ucapnya.

"Hai!" Helmi melambaikan tangannya, dan tersenyum hangat. Lantas laki-laki itu tanpa ragu menarik sebuah kursi di samping Elena, dan mendudukinya.

Elena merasa ragu untuk tersenyum kepada Helmi. Bukan karena ada Elvan di sana, atau alasan lainnya, tetapi mengingat pesan-pesan dari nomor tidak dikenal membuatnya harus lebih berhati-hati dengan orang asing.

Pesan itu datang saat kedatangan Helmi. Elena hanya berjaga-jaga. Hanya takut, yang menimbulkan kecurigaan pada laki-laki itu.

"Kamu gak sarapan di rumah?" ucap Helmi dengan penuh perhatian.

Bukan, lebih tepatnya soft spoken!

"Ah—iya!" Elena tersenyum kikuk.

Helmi pun tersenyum, masih dengan senyum yang begitu manis.

Ruangan terasa hening seketika. Hanya suara mbak Asri yang tengah sibuk di balik meja pemesanan.

Di detik berikutnya keheningan itu pecah, saat Elena berkata: "Btw... aku duluan ya."

Dengan begitu ragu. Bahkan sepasang matanya tidak berani menatap Helmi.

"Um—iya, sampai jumpa nanti, El!" tukas Helmi, lagi-lagi dengan senyuman manisnya.

Elena masih tidak berani menatap Helmi. Ia hanya meliriknya sekilas, sebelum pergi keluar dengan membawa sarapannya.

Elena membiarkan sepedanya berada di depan kafetaria. Untuk menuju sekolah, ia cukup berjalan beberapa meter saja. Sepedanya dikunci, dan itu membuatnya tidak perlu khawatir.

Elena memang selalu menitipkan sepedanya di tempat mbak Asri, jika saja Elena pergi ke sekolah dengan membawa sepeda. Elena bukan gengsi membawa sepedanya masuk ke dalam sekolah. Hanya saja, Elena ingin menikmati suasana pagi dengan berjalan kaki. Hanya dengan berjalan saja, rasanya membuat Elena lebih tenang, tidak terlalu berat memikirkan kehidupannya.

Elena mengatur emosinya agar stabil. Berkali-kali ia menghela napas panjang dengan begitu tenang, dan menghembuskan napasnya secara perlahan. Ia berjongkok di tepi jalanan sembari menekan titik akupuntur dengan gerakan melingkar kecil searah jarum jam, di bagian dadanya. Yang katanya, teknik Sea of Tranquilty ini bisa membantu meredakan kecemasan. Itu yang Elena tahu saat pergi ke dokter psikologinya.

Banyak kehidupan Elena yang tersembunyi, di tengah ramainya semesta. Membawa beban sendirian menuntun Elena pergi ke sana, ditemani keputusasaannya.

Di tengah ketenangan itu Elena merasa jantungnya hampir saja tidak berada di tempatnya. Hal itu dikarenakan Elvan yang tiba-tiba melintas dengan motor sport bike hitam dengan begitu melaju. Bahkan saat Elvan sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya, jantungnya masih berdegup dengan kencang.

Elena mungkin mengalami hyperstartle seperti yang pernah dokter psikologinya jelaskan.

°•°•°•°•°•°•°

Lihat selengkapnya