Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #6

Shut Down

16 Juli 2025

........

06.40


 "Jadi, yang nulis puisi di mading itu Elena?" ucap gadis berambut keriting. Dia tengah anteng menatap pantulan wajahnya di cermin.

"Katanya sih iya." Si gadis berambut sebahu menyahuti sambil mencuci tangan di wastafel.

"Tapi 'kan Elena kayak gak akur sama Elvan?"

"Itu rekayasa, biar si Elena gak terlalu malu! Mana kata-kata akhirnya kentara banget buat Nessa."

Si rambut keriting mengangguk mantap. "Bisa juga sih, secara Nessa sama Elvan deket banget. Terus, kalo Elena emang gak terlalu deket sama keduanya."

"Mereka tuh saudara tiri. Bokapnya sama, cuma beda nyokap aja." Tahu-tahu seseorang yang baru keluar dari bilik toilet menyahuti.

Bau karbol yang menyengat pun sungkem kepada para penggosip di toilet sekolah. Baunya terasa hambar. Hilang. Kalah telak dengan bau gosip. Sungguh pagi yang buruk untuk Elena yang terjebak di bilik toilet. Entah harus berterimakasih kepada perutnya yang pagi-pagi mules, membuatnya tahu siapa yang jadi trending topik saat ini. Atau justru membuatnya menyesal mendengar gosip tentangnya.

"Pada gak punya kerjaan apa!?"

Elena merutuk pelan. Urusan di bilik sudah selesai. Masalahnya, dia kehilangan nyali untuk keluar saat ini.

"Eh, kalo kata gue ya, Elvan gak mungkin suka sama Elena. Soalnya Nessa good looking benget!" Si rambut pendek mulai terdengar percaya diri.

Sontak Elena berdeham keras. "Huh, paginya buruk banget, ya?" Dia keluar dari bilik toilet. Entah dorongan dari mana keberanian itu muncul. Wajahnya sewot.

Yang bergosip langsung undur diri tanpa pamit. Memang dasar hama! Elena tidak mempermasalahkan kepergian mereka. Sekarang dia harus belajar 'bodo amat'. Toh, hidup aku gak berurusan sama mulut mereka. Walaupun otaknya menentang keras.

Elena menatap pantulan wajahnya pada cermin wastafel, mengamatinya—cukup lama.

Perkulitannya putih gading yang tampak kontras dengan warna rambut hitamnya yang alami. Bulu matanya lentik berwarna hitam, tetapi tidak sepekat pupil matanya yang juga berwarna hitam. Alisnya tertata rapi, menyempurnakan kedua mata almond-nya. Hidungnya mancung dan kecil, walaupun tidak begitu runcing. Bibirnya tipis, cupid's bow. Elena mensyukuri rupa yang tercipta sempurna itu. Namun, kesempurnaan itu tidak tampak sempurna di wajahnya. Wajahnya tampak lusuh dan kusam. Kedua pipi dan hidungnya dipenuhi chicken skin, membuatnya tidak percaya diri. Terlebih kantung matanya membesar dan berwarna kehitam-hitaman, itu membuatnya tidak nyaman.

Semalam dia benar-benar terjaga. Seingatnya, tertidur pulas mungkin hanya sekitar tiga jam. Dan itu pun sudah lewat tengah malam. Kejadian di museum dan pesan anonim itu membuat jam tidurnya kacau. Benar-benar kacau.

Masih pagi udah capek! Tubuhnya lunglai. Tak bertenaga. Yang padahal dia tidak melakukan pekerjaan berat.

Elena lalu tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang memang tidak rapi. Dua gigi kelinci di bagian atas itu sejajar dengan gigi gingsulnya. Dia akui kekurangannya itu sebagai daya tariknya. Walaupun kemungkinan besar sebagian orang tidak menyukai cacatnya.

Itu hanya bentuk yang meyakinkan adanya ketidaksempurnaan manusia. Namun, selalu ada istimewa di balik cacat itu sendiri.

"Elena, apa kabar?"

Elena sontak berbalik, menatap seseorang yang baru saja memanggil namanya itu.

Gadis bule berambut pirang dengan garis wajah yang kuat. Dia Claudya, teman sekelasnya. Gadis itu baru saja keluar dari bilik toilet.

Elena tersenyum culas. Wajahnya menantang. "Kita sering ketemu lho di kelas."

Claudya mendekat ke arah Elena. Dia tersenyum. Senyuman maut yang hanya dimengerti oleh Elena sendiri. "Kamu berubah, ya?" bisiknya, tepat di telinga Elena. Dingin. Terasa sebuah ancaman.

Elena terdiam kaku. Siluet masa lalu yang masih tertata rapi dalam benaknya terlihat jelas. Seperti film kelabu. Bagaimana dia menjerit kesakitan, memohon ampunan, merintih, dan berkali-kali mendengar tawa menakutkan. Claudya masih tersimpan dalam hati kecilnya. Gadis itu menggoreskan luka yang tak akan pernah terlupakan.

"Sekarang, gue orang yang berbeda," ucap Elena dengan begitu lirih. Rasa takut masih jelas menghantui perasaannya.

Claudya menepuk pundak Elena. Pelan, tapi itu terasa seperti 'start' yang menunggunya. "Dulu kita cuma bercanda, El. Jangan diambil hati, ya?" Bibirnya culas.

Elena menepis tangan Claudya dengan kasar. "Gue gak suka sama candaan lo!" Lalu dia melenggang pergi. Dia berlari. Mencari tempat sepi.

Kehidupan saat masih SMP menjadi kehidupan yang paling dibencinya. Saat orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan begitu mudah memanipulasi. Dulu Elena masih begitu kecil untuk mengerti perundungan. Dan dia adalah korban perundungan teman sekolahnya. Rasanya terlalu pahit mengingat itu—dan terkadang membuatnya rapuh. Itu karena lukanya belum benar-benar sembuh. Terlebih orang itu masih berada di sekitarnya, walaupun tidak melakukan hal tercela itu lagi.

Elena pergi ke taman samping sekolah. Di sana sepi. Dia juga membiarkan dirinya menangis. Sesenggukan. Membantu rasa sesak itu keluar dari dadanya. Sesekali memukul dadanya. Masih terasa sesak.

"Elena, pak Trimo minta lo buat datang."

Suara Elvan dari arah belakang terdengar bagai petir yang siap menyambarnya di pagi ini. Situasinya tidak mendukung untuk berhadapan dengan laki-laki itu. Terlebih pagi ini Elena berupaya menghindar dari Elvan. Dia melewatkan sarapan pagi di kafetaria mbak Asri demi menghindarinya. Kejadian kemarin terlalu memalukan.

"Mau apa!?" Elena menjawabnya dengan ketus, setelah menyeka sisa air matanya dengan kasar. Dia tidak menoleh pada Elvan sedikit pun.

Elvan meraih pundak Elena untuk berbalik. Namun, kalah telak dengan pergerakan Elena yang menepisnya.

"Lo mau ngomong sama rumput!?" Elvan berucap ketus. Nadanya datar.

"Lo pergi aja!!!" Elena menyahuti. Kali ini suaranya terdengar lebih keras.

"Lo kenapa?"

Elena tidak merespon. Ubun-ubun kepala rasanya hampir pecah. Sumpah. Apa susahnya untuk pergi.

"Sekarang, El, ke ruangan pak Trimo. Mumpung kelas belum dimulai." Kali ini nada bicara Elvan terdengar lembut.

Kasambet apaan pagi-pagi? Elena berdecik. Lalu melenggang pergi. Sebelum benar-benar pergi, dia sempat menendang bangku beton. Bangkunya tidak jadi masalah, tapi kakinya keram. Nyesel.

"Nggak apa-apa, El?" Elvan mulai sok perhatian.

Elena ngacir. Dia bukan salting. Kali ini dia benar-benar berada di fase sedih. Marah. Paginya mumet.

"Dia nangis kenapa?" Elvan bergumam. Dia tidak bergerak. Masih berdiri di tempat, menatap kepergiannya Elena—yang sepertinya hendak menuju ke ruangan guru.

°•°•°•°•°•°•°

09.00

Elena akan melakukan apa pun itu untuk bisa menghindar dari Elvan. Saat ini, atau bahkan suatu saat nanti. Dia merasa dihantui saat Elvan mengetahui tentang puisinya itu. Bahkan dia belum menemukan orang yang berani mengambil puisinya itu—yang jelas-jelas tidak disimpan di sembarang tempat.

Akan tetapi ada satu nama yang dicurigai: Nessa. Pasti dia orangnya!

Yang menyakitkan, trending topik di sekolah saat ini terkait puisi mading—yang padahal puisi itu sudah tidak terpajang lagi. Nama Elena sudah merajalela jadi sasaran empuk para penggosip. Membuatnya malu dan tidak ingin keluar dari tempatnya saat ini. Saat ini Elena tengah berada di ruang loker, mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga. Dia bersiap mengikuti kelas berikutnya, setelah mengikuti kelas sejarah di jam pertamanya.

Anehnya semesta punya berbagai cara untuk membuat Elena terjebak. Saat pergi ke ruangan pak Trimo—sesuai instruksi dari Elvan tadi pagi—kejadiannya benar-benar membuatnya tercengang. Dia lebih baik kena marah gurunya itu alih-alih kena perintah yang tidak masuk akal. Pak Trimo meminta Elvan untuk membantunya mendapatkan nilai terbaik. Tentu saja semesta mengajaknya untuk bercanda.

Bayangkan saja, Elvan menjadi pembimbingnya! Terlebih saat itu Elvan tampak puas mendengar perintah dari pak Trimo. Mungkin saja laki-laki itu berencana menekannya—atau bahkan sengaja membuatnya merasa malu.

Saat Elena berkata, "Nilai saya di atas rata-rata kok, Pak."

Dan respon pak Trimo membuat Elena lebih tercengang lagi. Katanya, "Ini mama kamu yang minta. Katanya kamu harus bisa dapat nilai sempurna!"

"Mama Diana?" Elena bertanya dengan ragu. Dan saat itu pak Trimo menjawabnya dengan mengangguk mantap.

Yang lebih menyakitkan memang permintaan mama. Mama tidak menyerah begitu saja untuk menuntutnya.

Lihat selengkapnya