Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #7

Long Night

Cakrawala penuh warna. Merah, oranye, ungu. Cahaya matahari sore itu hangat dan lembut. Sempurna. Mengingatkan Elena pada lukisan senjanya. Lukisan yang diam-diam menyimpan Elvan di dalamnya. Setidaknya, Elvan akan abadi dalam karyanya.

Sumpah, nggak apa-apa Elvan nggak tahu kalau aku suka.

Elena memandangi langit dengan takjub. Sepoi angin menabrak wajahnya, menerbangkan anak rambutnya. Dia tengah menikmati perjalanan pulang dengan dibonceng Elvan. Duduknya kaku, berjarak, padahal boncengan.

Tadi, saat Elena panik, tahu-tahu Elvan sudah memasangkan helm di kepalanya. Tanpa suara. Elena refleks naik ke motor Elvan tanpa protes. Kejadiannya begitu cepat. Canggung. Sepanjang jalan tidak ada obrolan. Hanya suara halus dari mesin motor yang menemani. Elvan mengendarainya dengan tenang. Tidak ngebut seperti biasanya. Elena ingin bertanya, tapi rasanya terlalu canggung. Lebih baik diam, pikirnya.

Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di pelataran rumah Elena. Elena segera turun dari motor, melepas helm, dan menyodorkannya pada Elvan. Elvan bergegas pergi setelah menatap Elena—cukup lama. Tidak berkata apa-apa. Hanya menatap. Setelah itu, mereka berjalan ke arah tujuan masing-masing.

Elena merasa situasi itu lucu. Rasanya hening. Melodrama versi nyata. Melankolis. Dia tersenyum singkat. Walaupun suasana itu layaknya senja yang datang sesaat lalu hilang. Setidaknya dia tahu sifat senja: hanya sesaat, dan penuh kepalsuan.

Kepala Elena berdenyut saat sebuah bantal sofa melayang, menghantam kepalanya. Cukup keras. Dia terlonjak, dan itu malah sedikit menenangkannya. Setidaknya itu membuatnya sadar sudah berada di dalam rumah. Dia bahkan tidak ingat kapan kakinya melangkah masuk.

"Kamu apain Nessa!?" Linda berdiri sekitar tiga meter di hadapannya. Dialah yang melempari Elena dengan bantal sofa.

Elena menatap Linda, lalu melirik bantal yang tergolek di lantai. "Elen nggak sengaja, Mam," ucapnya pelan.

Linda mendekat. "Kamu tahu konsekuensi dari kelakuan kamu itu!?" Suaranya naik satu oktaf. Murka.

Elena tidak menunduk. Dia hanya memalingkan wajah. "Elen minta maaf, Mam."

"Dasar anak nggak tahu diri!" Linda membentak. Tangannya mengepal. Tatapan matanya penuh amarah. "Gara-gara kamu Nessa diskors dari ekskul!"

"MAAF!!!" Elena capek. Dia membentak balik, lalu pergi. Berlari kecil, mengacuhkan Linda yang sekarang memakinya di belakang.

Di ruang tengah, dekat tangga, Nessa dan kak Aldrian menatapnya. Mereka duduk lesehan di depan meja yang penuh buku. Sepertinya mereka sedang belajar. Nessa masih mengenakan seragam sekolah. Wajahnya tampak letih, tapi setumpuk buku menahannya untuk rebah. Elena mengacuhkan mereka. Bergegas menaiki tangga.

Elena memasuki kamarnya. Dia melempar tas ranselnya ke sembarang arah. Tubuhnya lemas. Dia menjatuhkan diri di lantai, memeluk lutut, napasnya putus-putus. Dia tidak menangis. Dia hanya lelah.

Psssh.

Diffuser dengan aroma lavender menyemprot. Bunyinya familiar. Elena menyebutnya 'bunyi lelah'. Karena setiap lelah, suara diffuser itu terdengar nyaring di telinganya yang terlalu sunyi. Berbanding terbalik dengan isi kepalanya yang berisik.

Di dalam saku, ponselnya bergetar. Itu membuat Elena tidak nyaman. Dia melempar ponselnya ke atas kasur. Tidak merasa penasaran dengan isi pesannya. Dia hanya berjaga-jaga, menghindar dari pesan anonim yang menerornya.

°•°•°•°•°•°

Pukul sebelas malam. Elena terbangun dari tidurnya. Matanya otomatis terbuka, kantuknya hilang. Waktu terasa bergerak lambat. Dia merasa tidur cukup lama, walaupun sesekali mendengar suara-suara di sekitarnya. Suara diffuser, detak jam dinding, bahkan suara air di akuariumnya.

Waktu tidurnya terlalu cepat, pikirnya.

Posisi tidurnya juga tidak meneram. Dia tidur dengan ngasal, kakinya diangkat ke kepala ranjang. Mulanya dia hanya rebah.

"Tadi gue keliatan kaku nggak sih pas dibonceng Elvan?" Elena tiba-tiba teringat kejadian itu.

Otaknya memutar ulang suasana pulang sekolah. Elena termenung, ditemani suara yang berdenging di telinganya.

Nggak apa-apa, El, jangan norak!

Elena menutup kedua matanya. Dia paksa untuk kembali terlelap. Telinganya masih bisa mendengar, membuat tidurnya tidak nyaman. Dia mencoba beberapa posisi tidur. Hasilnya nihil. Dia terdiam. Menatap langit-langit kamarnya. Yang terlihat di sana hanya masa lalu. Perlahan ingatan itu membawanya pergi, flashback ke empat tahun lalu, dengan kesadaran penuh.

Di kamar mandi asrama, Elena terpekur di lantai dengan seragam basah kuyup. Badannya menggigil. Kepalanya pening. Perutnya sakit. Lapar. Perih. Ada luka lebam di sana. Bekas Claudya menendang perutnya. Tidak ada yang peduli. Dia sendirian di sana. Jam pelajaran masih berlangsung. Dia terkurung di kamar mandi.

Elena kehilangan kesadaran. Waktu terasa singkat. Tahu-tahu dia tersadar saat sudah berada di atas kasur. Pakaiannya pun lebih layak, seseorang menggantinya. Elena tidak membuka matanya, rasanya terlalu sulit. Dia tidak sadar sepenuhnya. Namun, samar-samar bisa menangkap obrolan mereka:

"Kalo dibawa ke UKS, kita semua bakalan kena. Otomatis laporan ini bakal sampai ke orang tua." Itu suara Claudya. "Kita mau gimana hadapin mereka?"

"Kamu 'kan yang lakuin itu ke Elena?" Nessa bertanya. Tenang. "Kamu yang terakhir keluar kamar, Cla."

"Nes, aku nggak sengaja. Niatnya mau kasih surprise. Dia ulang tahun hari ini, jadi aku siram pakai air. Sebagai teman sekamarnya, lucu 'kan?" Claudya terkekeh.

"Dia sampai lemes, Cla." Suara lembut menyahuti. Dia Fernanda. "Kamu lakuin apa ke dia? Ada dua ember di sana, Cla, yang sebelumnya nggak ada. Kamu pake itu buat nyiram? Terus kenapa kamar mandinya dikunci?"

Claudya menghela napas. Panjang. "Udahlah, Fer! Aku kunci dia supaya nggak berulah. Takutnya ada keamanan yang ngecek. Terus, kita bakalan repot! Kalo ember aku sengaja bawa buat mandi. Kali-kali gak pake shower."

"Kenapa kamu biarin Elena di kamar mandi? Dia sampe basah kuyup gitu, Cla?"

"Fernanda, udah ya! Elena itu lemah! Urusin aja dia!" Lalu Claudya melenggang pergi. Dengan Nessa yang membuntuti.

Di kamar asrama itu hanya menyisihkan Elena dan Fernanda—yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya mengelus-elus rambut Elena. Menyelimuti Elena. Sedangkan Elena terbaring pasrah. Mendengar helaan napas berat Fernanda. Mendengar isak tangis Fernanda. Mendengar Fernanda yang mengucapkan selamat ulangtahun untuknya. Sisanya, Elena tidak mengingat apa pun. Dia disambut matahari pagi yang masuk menembus jendela. Hari sudah berganti, tapi pening di kepalanya tidak kunjung hilang.

Singkat, tapi menyakitkan. Saat itu usianya baru memasuki empat belas tahun. Itu kali pertamanya mendapat perundungan fisik, setelah satu tahun di asrama.

Kejadian pagi itu: Claudya memintanya untuk menunggu, berangkat bersama ke sekolah. Elena diminta ke kamar mandi, membawakan handuk untuk Claudya. Saat masuk, Claudya menyiramnya dengan satu ember air dengan iming-iming 'surprise'. Hal itu masih Elena anggap wajar. Namun, Claudya berkali-kali menyiramnya. Sampai membuat Elena basah kuyup. Lalu Claudya mendorongnya, dan dia tergelincir. Kepalanya terbentur ke dinding. Terakhir Claudya menendang perutnya berkali-kali, sebelum pergi meninggalkannya.

Lihat selengkapnya