17 Juli 2025
________
Mama Diana!!!
Elena berteriak dalam batin. Wajahnya menekuk. Mulutnya terkunci. Hanya isi hatinya yang menjerit. Kedua lututnya merah dan ngilu.
"Ini hari apa sih?" Elena meraih ponselnya di atas nakas. "Kamis?"
"Elena, kamu mau sekolah nggak!?" Dari luar kamar, suara mama Linda terdengar.
"Iya!!" balas Elena. Bete. Wajahnya masih menekuk.
Kesialan Elena dimulai sejak subuh. Dia bangun jam lima, tapi tidak beranjak dari tempat tidur, hanya terdiam dengan fantasinya yang merayap ke masa-masa yang entah datang atau tidak. Bahkan dia berfantasi bertemu dengan jodohnya. Jodohnya mirip Elvan, lebih baik. Dan Elvan kecewa saat orang lain menggesernya dalam hidup Elena. Elena sudah sukses, tinggal di luar negeri, punya galeri seni terkenal.
Fantasi itu bubar saat alarm berbunyi di jam enam pagi. Elena ngacir ke kamar mandi. Sialnya dia tersandung, lalu tergelincir. Tubuh mungilnya tepar di lantai. Dinginnya lantai keramik langsung nyetrum tulang ekornya. Tadinya Elena malas untuk mandi karena air terlalu dingin. Kejadian itu membuatnya terpaksa harus mandi.
Kesialan tidak berhenti di sana. Ponselnya tiba-tiba hilang. Dia mengacak-ngacak tempat tidur. Membuka nakas, lemari kecil, semua barang-barang di sana. Nihil. Ponselnya tidak ketemu. Karena ceroboh, dia kesandung kursi belajar dan jatuh tersungkur. Saat bangun, tangan kirinya berpegangan ke nakas dan tidak sengaja menyenggol gelas di sana.
"Sial!" Gelasnya kosong, tapi pecah. Saat hendak membersihkannya, Elena menyimpan sesuatu yang digenggam tangan kanannya ke atas nakas.
Dia terdiam. Merasa ganjil. Lalu melirik benda yang baru saja disimpannya di atas nakas. "Ponsel gue!!" Dia memekik. Yang digenggam sedari tadi ternyata ponselnya.
Aneh. Dia mengobrak-abrik kamarnya karena mencari sesuatu yang ada di tangannya. Dia tidak sadar. Situasi yang sering terjadi di kalangan manusia pada umumnya. Dia tidak ambil pusing. Wajahnya menekuk karena kesal. Hatinya menjerit memanggil Mama.
Elena keluar kamar tanpa membereskan kekacauan terlebih dahulu. Tugas itu menjadi bagian mbak Rini, ART di rumah papa.
"Kamu mau berangkat sama Kak Aldrian?!" Tanya Linda. Sewot. Saat Elena menuruni tangga.
Elena sekilas menatap Linda yang tengah menyantap sarapan di meja makan, lalu menatap kak Aldrian yang duduk dengan laptop di hadapannya. Mungkin kak Aldrian tengah menunggunya.
"Tumben kamu kesiangan!?" tanya Linda, tanpa menoleh.
"Nessa udah berangkat?" Suara Elena berat. Dia tidak ada niat menanyakan hal itu. Hanya penasaran saja siapa yang mengantarnya.
"Udah, sama papa."
Elena hanya mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban. Lalu melenggang pergi. Dia tidak tertarik untuk sarapan, terlebih Linda tidak menawarinya. Dadanya perih, mengingat papa melupakannya.
"Kakak berangkat, Mam," ucap kak Aldrian, lalu mencium tangan Linda.
Elena melihat itu, tapi mengacuhkannya. Dia sudah terlanjur dicap sebagai anak 'nggak tahu diri!'. Cukup saat dulu dia diperlakukan sekenanya. Sekarang, saatnya Elena menunjukkan versi barunya. Dia sudah berubah.
Elena menunggu kak Aldrian di halaman rumah. Sedangkan kak Aldrian pergi ke garasi, mengambil mobilnya. Tidak lama, kak Aldrian datang ke hadapan Elena.
Dari Elena memasuki mobil sampai melaju membelah jalanan, tidak ada obrolan. Sunyi. Canggung. Bahkan suara menelan ludah pun terdengar jelas di kupingnya.
Seenggaknya nyalain radio kek! Elena ngedumel dalam hatinya. Tangannya gemas ingin menekan tombol radio yang tak jauh di hadapannya. Dia duduk di depan, bersebelahan dengan kak Aldrian.
Sumpah, ini kayak di scene drama berantem sama pacar!
Ngomong-ngomong soal kak Aldrian, dia kece abis. Wajahnya oriental, ala-ala oppa Korea yang masuk kriteria idol K-Pop. Kulitnya nggak seputih salju, tapi putih gading yang sering terkena sengatan matahari. Dia supel. Kalau kacamata sudah nangkring di wajahnya, cewek penggemar lelaki kantoran dipastikan sudah menjerit. Kak Aldrian tiga tahun lebih tua dari Elena. Dia kuliah di fakultas bisnis digital, semester lima.
Elena yang sibuk dengan pikirannya sendiri tiba-tiba terlonjak. Kak Aldrian melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Migrainnya kambuh. Dadanya seperti lari maraton, detak jantungnya kencang. Saat mobil mendadak ngerem, dia benar-benar terlonjak. Tubuhnya terpental. Untungnya sabuk pengaman menahannya.
"Pak, izin, adik saya mau masuk!" Kak Aldrian nongol di kaca mobil. Berbicara kepada satpam yang hendak menutup gerbang.
"Nggeh, Mas, saya kasih kesempatan!" jawab satpam itu. Logatnya pekat khas Jawa.
Elena masih mematung, menetralkan detak jantungnya. Wajahnya menatap lurus ke depan. Bibirnya pucat.
Jantung gue copot. Kalau mati, tolong kubur gue sama galeri seni Elvan! Dia masih sempat melantur, di tengah paniknya yang kambuh.
"Udah nyampe." Suara kak Aldrian berat. Serak basah.
Elena menoleh. Dia mengangguk pelan. Matanya tidak lepas dari sepasang mata kak Aldrian. Cokelat muda. Elena dikelilingi orang-orang bermata cokelat muda.
"Sarapan di kantin. Cari makanan yang bener." Kak Aldrian kembali berucap. Dia menatap wajah Elena yang pucat.
Dengan tergesa Elena turun dari mobil kakaknya. Dia tremor. Tangan dan kakinya bergetar. "Makasih, Kak," ucapnya, seraya membungkukkan badan, mensejajarkan diri dengan mobil kakaknya yang ceper.
Kak Aldrian hanya mengangguk. Lalu memutar mobilnya, meninggalkan Elena yang masih berdiri di sana.
Elena tertawa sumbang. Dia menertawakan dirinya sendiri karena mengharapkan perhatian dari kakaknya. Setidaknya kakaknya paham hal-hal kecil yang dideritanya. Setidaknya bertanya: "Kenapa kamu panikan?" Atau "Kamu ngidap hyperstartle?"
Elena hanya berangan. Itu tidak mungkin terjadi. Dia tidak begitu akrab dengan kakaknya. Tidak seperti Nessa yang begitu lengket dengan kak Aldrian. Bahkan sikap dingin kakanya itu akan dengan mudah melunak jika menyangkut Nessa.
Kenapa sih, hal kecil aja harus gak adil?
°•°•°•°•°•°
Bel masuk bunyi lima menit lalu. Elena lari terbirit-birit menuju kelas, menahan migrain yang masih sisa.
Pintu kelas 12 MIPA 1 setengah terbuka. Dia ngintip. Pak Trimo tengah menulis rumus di papan tulis.