Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #9

Peluk dan Luka

Bau chamomile menyeruak di ruangan kedap suara serba putih. Hawanya dingin, tapi menenangkan. Dengan pencahayaan minim, ruang konseling itu malah terasa hangat. Elena duduk manis di sofa. Matanya tak lepas dari jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Hanya denting sendok yang tengah mengaduk teh dan detak jam dinding yang terdengar. Melengking.

Sepulang sekolah, Elena ada janji temu dengan buk Ratih. Sesuai instruksi pak Trimo saat kemarin di ruang BK.

Elena menunduk, menatap tangannya yang masih dibalut sapu tangan biru muda. Dia tidak melepasnya. Memikirkan asal-usul lukanya membuat presentase semangatnya menurun seratus persen. Bahkan di jam istirahat dia lebih banyak terdiam.

"Elena, minum dulu." Buk Ratih menyodorkan segelas teh chamomile. Baunya sama persis dengan pengharum ruangan.

Elena mengangguk. Dia meraih segelas teh chamomil itu dan meminumnya secara perlahan. Tidak habis, hanya seperempatnya saja.

"Kita ngobrol aja. Nggak ada catatan yang bakal ke pak Trimo," ucap buk Ratih. Lembut. "Kemarin kamu jambak Nessa. Kamu inget kenapa?"

Elena menggigit bibir bawahnya. Karena aku halusinasi? Capek? Atau benci?

"Cerita aja, El. Di sekolah perundungan dalam bentuk apa pun nggak dinormalisasi."

"Saya nggak gila, Buk!" Elena nyeletuk. Mulutnya tidak terkendali.

"Nggak ada yang bilang kamu gila, Elena." Buk Ratih tertawa kecil. "Ibu cuma minta penjelasan kamu, El."

"Ibu tahu trigger?" Mata Elena melebar. Jujur itu trik untuk mengalahkan rasa takut yang membelenggu. "Saya nggak bisa kendaliin diri. Kayak ada yang mencet tombol autopilot."

"Autopilot itu nyala kalo kita kewalahan, El. Terlalu banyak yang dipendam." Buk Ratih tersenyum. Hangat. Tulus. "Boleh Ibu tahu kenapa autopilot kamu ada yang mencet?"

Elena merasa hatinya remuk. Air matanya sontak merembes. Untuk pertamakalinya seseorang bersedia meminjamkan telinga—selain Sel. Elena rindu Sel. Semalam dia mengirimkan pesan, tapi belum mendapatkan balasan.

"Sayang, kenapa nangis?" Buk Ratih menarik Elena ke dalam pelukannya. Erat. "Jelasin ya alasan kamu lakuin hal tidak senonoh itu ke Nessa. Penjelasan Nessa kemarin terdengar seperti pembelaan, tapi nggak masuk akal."

Elena memejamkan mata. Berkali-kali menghela napas. Dadanya sesak. Tangisnya tak bisa diajak kompromi. Dia terisak-isak.

"Mau Ibu panggil Nessa?"

Elena menggeleng. Keras.

"Ini ada sangkut-pautnya sama buku harian kamu?"

Elena melepas pelukan buk Ratih. Dia tersenyum. "Saya punya alasan khusus lakuin itu ke Nessa," ucapnya, seraya menyeka air matanya. Walaupun air matanya terus merembes.

"Nanti, kalo udah siap buat cerita, cerita ke Ibu, ya? Ibu tunggu." Buk Ratih mengelus-elus pundak Elena. "Kamu boleh nangis sepuasnya."

Seperti menemukan harta karun yang telah lama dicari. Ucapan buk Ratih yang selama ini dicarinya. Walaupun hanya tempat untuk menangis, tapi menangis sendirian terlalu begitu menyakitkan. Setidaknya ada orang yang bersedia mendengarkan, walaupun hanya sebatas tugasnya sebagai penanggung jawab ruang konseling. Setidaknya dia tidak merasa sendirian. Setidaknya ada yang memeluknya, selain tangan mungilnya. Setidaknya ada respon yang menenangkan selain suara ombak dalam ponselnya.

"Tangan kamu kenapa, Sayang?" Buk Ratih meraih tangan Elena yang dibalut sapu tangan. Dia menatap Elena dengan penuh perhatian.

"Luka biasa, Buk." Elena tersenyum, tapi terasa pahit.

Buk Ratih lagi-lagi tersenyum. Dia kembali menarik Elena ke dalam pelukannya. Mengelus-elus rambutnya. "Ibu bisa liat luka yang kamu simpan baik-baik di mata kamu, Elena."

Elena yang tidak mengerti hanya terdiam. Pelukan buk Ratih terasa nyaman, tapi juga menakutkan. Takut dia tidak punya sosok buk Ratih suatu saat nanti.

Luka gores di tangannya terasa seperti tanda start dimulainya permainan baru. Yang entah dia akan menang atau kalah. Yang entah ada orang tulus yang mendukungnya atau tidak. Elena sudah pasrah dari start.

Sekali lagi, Elena pasrah.

°•°•°•°•°•°

Gadis di koridor yang penuh luka itu kini tengah terbaring pasrah. Seluruh tubuhnya ditutup selimut. Hanya kepalanya yang menyembul. Dia termenung sampai tidak menyadari kehadiran Elena yang tengah menatapnya, berdiri tak jauh dari ranjangnya.

Merasa kehadirannya bisa saja merusak suasana gadis itu, Elena memilih untuk pergi keluar dari UKS. Mungkin gadis itu ingin sendirian.

"Butuh sesuatu, El?" sapa buk Ratih, saat berpapasan di pintu UKS.

Elena gelagapan. "I—itu aku barusan liat siswi yang di koridor."

Lihat selengkapnya