Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #10

Bangkit Dalam Setiap Sakit

Tempat duduk outdoor yang berhadapan langsung dengan kolam ikan memperkuat suasana tenang. Di sekelilingnya dedaunan hijau, pohon ketapang kencana rindang. Air mancur kecil beradu dengan alunan musik yang tenang. Galau. Latarnya langit senja. Warnanya mulai pekat, karena waktu terus berjalan.

Ahkk, senja lagi!

Elvan yang mengajak Elena ke kafe ini. Sesuai rencana awal, sepakat untuk belajar matematika. Suasananya tepat untuk belajar. Kesalahan ada pada Elena sendiri. Dia mumet. Saat ini Elvan tengah pergi untuk memesan.

Elena menikmati lagunya. Dia duduk di meja pojok. Dia tutup buku paket matematika, dijadikan bantal tangan.

Penuhilah hati ini tak lagi sendiri

Oh dengannya dengan dia

Langkahku sempurna

Jatuh cinta memang manis

Apalagi ada kamu di sini

Genggam tanganku sayang

Kota ini tak sama tanpamu

Masih rasa ingin lagi habiskan waktu di sini

Mungkin tiga atau empat hari lagi

Penuhilah rencanamu bersamaku lagi

Oh denganmu terasa cepat berlalu

Belum puas ingin lebih tahu jalanan kotamu

Jatuh cinta memang lain

Apalagi ada kamu di sini

Elena berdesis. Vibes-nya ngajak galau! Dia merasa kesepian, tapi diganggu lagu happy. Ironic dan sakit.

"Kenapa malah bengong!?"

Elena kelonjotan. Elvan kembali dengan dua gelas minuman di tangannya. Asapnya masih mengepul. Dia duduk berhadap-hadapan dengan Elena.

"Nih. Cokelat panas. Jangan sampai tumpah. Mahal."

Elena ngangkat kedua alisnya setelah berdecih. Sinis."Lo lama di bar nungguin minumannya jadi?"

"Gue sengaja lama, biar lo rileks baca halaman yang gue minta!" Elvan menjawab dengan ketus. "Lo kira buku setebal itu buat jadi bantalan tangan lo!?"

Elena menggaruk keningnya. Bingung. "Ya, sorry, gue nggak bisa fokus." Dia cekikikan. Matanya beralih natap cokelat panas.

"Gara-gara dimarahin buk Ratih?" Suara Elvan turun satu oktaf. Lembut. Matanya natap Elena dalam. Alisnya terangkat.

Elena berdecak. "Nggaklah! Orang buk Ratih baik banget!"

"Terus, lo kenapa nangis pas di koridor?" Elvan sedikit maju. Sikutnya nempel di meja.

Elena terdiam. Cukup lama. Elvan sekarang di hadapannya nyata, bukan fatamorgana. Wajah Elvan capek, tapi stay cool. Perhatian walaupun cuek. Cerita tsundere kah ini? Semoga!

"Terus, tangan lo kenapa?" tanya Elvan lagi. Matanya melirik saputangan biru yang masih melingkar di tangan Elena.

"Kepo banget!"

Elvan menghela napas. Kasar. "Gue bukan kepo. Cuma nebak."

Elena mengerutkan keningnya. "Nebak apa?"

"Lo nangis gegara tangan lo yang dibungkus sapu tangan itu. Iya 'kan?" Elvan tersenyum singkat. Sinis. "Perasaan di kelas cuma belajar, nggak ada praktik masak."

"Kok jadi praktik masak!?"

Elvan berdesis. "Minum aja minuman lo. Entar di rumah lo kerjain tugas lo sendiri. Kalo ada yang kurang paham, tanyain aja besok. Sekalian gue ajarin lo cara ngitung cepet."

"Kan lo di suruh mama. Dibayar." Elena nyeruput coklat panas itu, pelan-pelan. Setelah meniupnya. Manis. Balikin mood banget. "Emang lo butuh banget duit, ya?"

Elvan hampir tersedak. Rahangnya mengeras. Dia diam sedetik. "Gue mau belajar lukis sama lo. Kelas ekskulnya ketinggalan. Biar pas masuk bisa loncat kelas ekskul!"

Elena merotasikan bola matanya. Nggak ada alasan lain selain itu!? Lagian dia nggak bakalan jadi seniman. Orang masa depannya udah diatur!

"Silahkan, Kak, pesanan seperti biasa." Seorang barista menyodorkan sepiring brownies lumer topping keju. Lalu sepiring puding susu topping mangga yang dipotong dadu.

"Makasih." Elvan tersenyum, sebelum barista itu beranjak pergi. Seperti biasa.

Kening Elena mengerut. Seperti biasa? "Lo biasa datang ke sini?" Dia menyapu sekeliling sampai matanya mentok di papan yang berdiri dekat pohon pule yang bertuliskan: 'Kafe Senja'. Untuk pertama kali dia datang ke sini.

Elvan hanya mengangkat kedua alisnya. Cuek. Dia asik nyendok brownies.

"Bareng Nessa?"

Sendok Elvan berhenti di udara. Lagi-lagi hanya mengangkat alis.

Mulutnya emang pindah ke alis?

"Gue mau matcha. Dessert-nya cupcake strawberry!" ucap Elena. Ketus. "Lain kali belajarnya di pinggir laut. Di sini nggak bisa foku!"

Elvan sontak natap Elena. "Terserah. Lo kalo mau pesen aja sendiri. Lagian belajarnya nggak bakalan lanjut!"

Wajah Elena menekuk. Kesal. Dia sikat brownies dari tangan Elvan. Keselek. Dia buru-buru nyeruput coklat panas.

Sial! Panas!

Lihat selengkapnya