Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #11

Esok dan Janji

18 Juli 2025

Hari baru. Semangat baru. Persentase semangat Elena meningkat di pagi ini. Dia berjanji akan merubah harinya menjadi lebih baik.

Dia tersenyum menatap pantulan wajahnya di cermin. Kantung matanya terlihat jelas, tapi justru menggemaskan jika ditelisik lebih lama. Elena menggambar aegyosal kecil di bawah matanya, lalu memakaikan eyeliner di ekor matanya. Dengan seni, kekurangannya menjadi indah.

Elena mengikat rambutnya. Kuncir kuda. Anak rambutnya dibiarkan tergerai. Dia mengaplikasikan sunscreen di wajah untuk melindungi skin barrier-nya. Semalam dia sudah eksfoliasi dengan kandungan salicylic acid.

Cantik. Elena menyeringai, memperlihatkan deretan giginya. Wajahnya terlihat lelah. Walaupun tidurnya saat tadi malam lebih baik dari malam-malam sebelumnya. Dia masih terbangun berkali-kali, tapi kembali terlelap.

Elena keluar dari kamar. Menuruni tangga menuju ruang makan. Kali ini dia tidak kesiangan. Kali ini dia tidak akan menghindar dari keluarganya. Kali ini dia hadir di meja makan.

Tanpa permisi, Elena menarik kursi. Duduk dengan tenang, bersebelahan dengan Nessa. Dia hanya mengulas senyum tipis saat semua mata tertuju padanya. Fenomena langka. Memang. Elena jarang bergabung di meja makan. Jika tidak sarapan di kafetaria mbak Asri, dia cukup membeli roti di jalan. Makan malam pun lebih sering dia habiskan sendirian di kamar. Mereka tidak mempermasalahkan itu.

"Tumben nggak kesiangan?" ucap Linda. Matanya menatap Elena, penuh tanya. "Tumben makan di sini?"

Elena senyum. Tipis. "Mood aku lagi baik, Ma."

Semua kembali sibuk dengan sarapan masing-masing. Hening. Akward bagi Elena, tapi dia menikmatinya. Setidaknya dia mencoba.

"Kamu mau bareng Nessa ke sekolah?" tanya Linda sambil mengelap tangannya dengan tisu. Sarapannya sudah habis.

Sekilas Elena melirik kak Aldrian yang masih sarapan. Lalu dia mengangguk. "Dianterin siapa?"

"Kakak yang antar. Papa harus berangkat sekarang. Ada meeting." Papa Elena, Baskara Darian, sambil menepuk pundak Aldrian sekilas. Dia beranjak dari duduknya.

Elena mengangguk. Mantap. Setidaknya pagi ini dia sudah berinteraksi dengan papa. Walaupun papa tidak melakukan interaksi apa pun lagi, atau setidaknya menepuk pundaknya. Kejadian langka yang mungkin hal biasa untuk orang lain.

Nessa dan kak Aldrian menyandang marga papa. Aldrian Alvi Darian, Vanessa Ansa Darian. Hanya Elena yang menyandang nama belakang berbeda: Elena Zuhair.

Terdengar indah. Tapi justru karena berbeda, rasanya seperti terbuang. Untuk sekarang, Elena memilih tidak mempermasalahkan hal itu. Harinya terasa baik. Jangan sampai mood-nya rusak—mengingat fakta bahwa di dunia seluas ini dia merasa sendirian.

°•°•°•°•°•°

Sepanjang perjalanan, Nessa banyak ngobrol dengan kak Aldrian. Mereka membahas sains. Membahas pelajaran yang pernah dipelajari bersama. Sesekali tertawa. Usil. Elena merasa seperti hama yang tumbuh di tengah dua orang sempurna.

Elena duduk di jok belakang. Kak Aldrian di depan yang mengemudikan mobil, Nessa duduk di sampingnya. Elena menyumpal telinganya dengan earphone bluetooth. Lagu Spring Day yang dibawakan BTS lebih menenangkan dari obrolan kakak-beradik yang harmonis itu. Matanya menatap luar jendela. Rasanya tenang.

Perjalanan terasa singkat. Saat mobil kak Aldrian melewati kafetaria mbak Asri, Elena beku. Di sana ada Elvan tengah mengamati sepedanya yang masih nangkring di halaman kafetaria. Elvan berdiri dekat motornya.

Gue harus salting!? Atau bingung!? Dia ngapain!?

Ponselnya bergetar. Satu pesan dari Elvan.

Elvan:

[06.30] Lo mau investasi sepeda lo ke mbak Asri?

Elena tertawa kecil. Dia mengirim balasan.

Elena:

[06.31] Gue udah izin kok sama mbak Asri. Emang kenapa? Peduli?

Klik!

Ponselnya dimatikan. Dia masukkan ke dalam saku bajunya. Seratus persen yakin Elvan tidak akan membalasnya. Dia bersandar. Menahan senyum. Untuk pertama kalinya Elvan kirim pesan santai. Biasanya dia hanya kirim pesan yang menurutnya penting.

Sesampainya di halaman sekolah, Elena langsung turun tanpa embel-embel 'terima kasih' atau ritual sebelum berpisah lainnya. Sesak rasanya terlalu lama di dalam.

Elena berjalan dengan percaya diri. Dia tersenyum. Manis. Dagunya sedikit terangkat. Dia layak.

"Elena." Helmi memblok jalan Elena. "Luka kamu sembuh?"

Elena mendongak. Dia sekilas melirik tangannya yang kamarin dibalut sapu tangan. "Luka kecil kok, Hel. Udah sembuh." Dia terkekeh.

Helmi ngangguk-angguk. Dia juga terkekeh.

"Ouh iya, sapu tangannya belum dicuci. Lupa." Elena nyengir. Merasa tidak nyaman.

"Santai aja. Biar ada alasan juga buat ketemu."

Elena tertawa ambigu. Dia garuk tengkuknya yang tidak gatal.

"Yuk, ke kelas," ajak Helmi.

Elena ngangguk. Sempet terdiam saat ekor matanya melihat Elvan bersama Nessa. Mereka barengan. Kepala Elvan lurus ke arahnya. Dia liatin gue??

"Yuk, Hel." Elena buru-buru cabut. Natap lurus ke depan. Walaupun pikirannya maksa Elena buat noleh ke belakang.

Masa depan yang penting, El! Di belakang burem!

°•°•°•°•°•°

Lihat selengkapnya