"Hari baru, semangat baru .... " Elena berkata pelan. Dia masih berbaring di tempat tidur. Tubuhnya digulung selimut. Hangat. Matanya menatap langit-langit kamar. Memuat ulang kejadian kemarin saat di sekolah. Dia menangis, lalu Elvan datang.
"Gue kenapa harus kesel sama Elvan, sih!?"
Tatapan Elena beralih menatap balkon kamar yang masih tertutup tirai. Hari masih pajar. Sunrise masih malu-malu menampakkan diri.
Dia berdecak. Kesal. Kejadian kemarin membuatnya tertekan. Dikhianati ekpektasi sendiri. Tentang Fernanda memenuhi pikirannya sepanjang di sekolah. Dia tidak merasa benar-benar hidup. Kosong. Semangatnya hilang.
Kemarin udah berlalu, besok belum pasti. Hari ini nyata, El.
"Elvan kemarin kok nggak nanya lagi?" Elena beringsut duduk. Bersandar ke kepala ranjang. "Minimal dia pastiin kek kalo hari ini ada janji sama gue!" Dia memberengut, kesal.
Ponsel di atas nakas berbunyi. Dari Elvan!? Elena dengan cepat meraihnya. Satu pesan dari ... mama!
Mama:
[05.00] Hari ini kamu bisa nggak ke rumah mama? Sibuk nggak, El?
Elena merotasikan bola matanya. Dia berdecak pelan. Kenapa bukan Elvan, sih!?
Dia mengetik balasan.
Elena:
[05.01] Nanti siang, Mam. Elen usahain
Ponsel dibanting ke kasur. Elena beranjak dari kasur menuju balkon. Dia membuka tirai. Kaca balkon berembun. Sejuk.
"Kalo gue terus bareng Elvan, berarti semakin besar dong peluang gue buat patah hati?" Dia meracau. Jari telunjuknya ditempel di kaca balkon. Manarik garis, sedikit melingkar, membentuk hati.
Hari ini sudah membaik. Kata-kata yang berbisik di keheningan waktu itu penuh kebohongan. Sekeras apa pun dia melupakan kejadian kemarin, kejadian itu masih melekat di pikirannya. Dia hanya tengah berusaha lupa. Mencari sesuatu yang bisa membuatnya tenang.
Setidaknya ajakan Elvan kemarin adalah salah satu alasan Elena bisa semangat pagi ini. Malam panjang yang baru dilewati terasa lebih baik—setidaknya dari hari kemarin. Tidurnya pulas. Hangat. Walaupun sesekali matanya tiba-tiba terbuka di pertengahan malam. Dia bisa kembali tidur. Mengingat esok adalah hari spesial. Untuk pertama kalinya.
Setiap matanya terbuka yang terbesit selalu 'Fernanda'. Setidaknya Fernanda itu hilang saat dopaminnya meledak, membawanya untuk kembali jatuh cinta.
Fernanda nggak ada hubungan sama Elen, okay?? Dia berbisik dalam hatinya. Menyadarkan pikirannya untuk tidak terbebani.
Ponsel kembali berbunyi. Walaupun sempat ragu untuk meriah ponsel, tapi pergerakan tubuhnya perlahan meraih benda pipih itu.
Nggak usah berlebihan, El!
Satu pesan dari Elvan.
"Elvan!?" Elena memekik. Dia kegirangan.
Elvan:
[05.10] Jam sembilan pagi lo siap-siap. Bawa buku latihan sama alat lukis. Lengkap!
Elena mengirim stiker 'oke' kepada Elvan. Dia merasa harga dirinya harus dipertahankan.
"Jangan kegeeran, El." Dia menarik napas dalam-dalam.
Saat Elena hendak menyimpan ponselnya di nakas, dia teringat nomor tidak dikenal itu.
"Gue belum lacak nomor dia." Elena bergegas ke meja belajarnya. Menyalakan laptop.
Mode serius Elena menyala. Chat dari Elvan membangunkan semangatnya. Setidaknya hari ini dia tidak merasa dikhianati.
Dia masuk ke tutorial dan langsung mempraktekkan. Mengunduh aplikasi. Mencoba memasukkan nomor itu ke sana.
Mudah. Namun, hasilnya mengkhianati. Nomor itu tidak bisa dilacak.
"Apa harus premium dulu?"
Elena tidak menyerah. Dia bolak-balik pindah aplikasi. Situs web. Menonton video tutorial. Ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja, layarnya mati. Dia lupa mengeceknya lagi sejak fokus melacak nomor itu.
Satu jam berlalu. Elena tidak menyadari itu. Baru saat mbak Rini mengetuk pintu, dia tersadar. Pantulan sinar matahari mulai masuk ke kamarnya, menembus balkon.
Di luar kamar, mbak Rini mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Dia berkata, "Non, sarapan sudah siap. Nyonya minta Non buat sarapan bareng, Non."
Elena menghela napas. Panjang. "Iya, Mbak." Dia beranjak dari duduknya.
Sudah hari kedua dia tidak menghindari meja makan. Lingkaran keluarga yang membuat Elena merasa minder sendiri.
Selama ini gue yang menghindar dari mereka.
°•°•°•°•°•°
Elena sudah bersiap untuk pergi. Dia mengenakan dress polos berwarna cream selutut, dengan lengan pendek. Rambutnya dibiarkan tergerai. Wajahnya dipoles makeup tipis.
Sesudah sarapan pagi, Elena bergegas pergi ke kamarnya. Dia membersihkan badan dan menyiapkan keperluan yang dibutuhkan untuk belajar bersama Elvan.
Day one janjian sama Elvan di hari weekend! Elena menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Untuk pertama kali ....
"Keliatan simpel 'kan?" Dia berputar. Mengamati penampilannya.
Lalu Elena meraih tote bag putih polos di atas sofa. Semua barang yang diperlukannya ada di dalam sana.
"Ponsel, jangan sampai ketinggalan!" Elena mengecek isi tote bag. Ponsel tidak ditemukan. Dia berpikir sejenak, mengingat terakhir kali menyimpan ponselnya.
"Meja belajar!" Dia memekik. Berjalan dengan riang, berputar kegirangan. Menyambar ponselnya di meja belajar. Ponsel dengan case biru muda. Polos.
Ponselnya mati. Saat dinyalakan baterainya habis. Elena tidak ambil pusing. Dia mengambil power bank biru polos di atas nakas. Mengisi daya ponselnya, dan dibiarkan di dalam tote bag.
Sebelum keluar, Elena mengambil sepatu slop berwarna coklat polos. Dia memakainya. Terlihat serasi dengan pakaiannya.