Esok Yang Berbeda

berry
Chapter #13

Bukan Manusia Kuat

Rasanya canggung makan semangkuk sup ayam berdua dengan Mama. Hening. Hanya denting sendok beradu dengan mangkuk yang terdengar.

Mereka fokus menghabiskan sup itu, seolah-olah mengunyah kata-kata yang tak bisa diucapkan.

Rasanya tidak buruk. Tidak seenak sup buatan Nenek, tapi hangat. Asapnya masih mengepul. Hangat uapnya, hangat juga karena Mama yang tulus membuatnya untuk Elena. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Elena menyeruput habis kuahnya sampai tak tersisa. Diana, yang duduk di hadapannya, terkekeh pelan.

"Enak nggak, Sayang? Mama udah lama nggak bikin sup ayam," ucap Diana. Ada harap di matanya.

Elena mengangguk. "Enak, Ma." Dia tersenyum. Senyum yang dipaksakan agar tidak terlihat canggung.

Diana tertawa kecil, lega. "Serius, El? Mama nggak nyangka kamu bakalan suka. Kapan-kapan Mama bikinin lagi buat kamu."

Elena hanya mengangguk.

Diana menggeser mangkuk kosongnya ke samping. Kedua tangannya ia lipat di atas meja. Tatapannya kini menatap Elena dalam. "El, harusnya pas Mama di rumah sakit waktu itu langsung peluk kamu. Itu pertemuan kita setelah setahun, kan? Terakhir kali kamu pergi dari sini?"

Elena menelan ludah. Susah payah. Pandangannya ia alihkan ke mangkuk kosong, menghindari mata Mama. Otaknya kalang kabut mencari jawaban yang tepat. Selama setahun ini mereka hanya bertukar kabar lewat chat. Sekolah gimana? Udah makan? Hanya sebatas itu.

"Maaf ya, Sayang," ucap Diana lagi. Suaranya lirih. Penuh sesal.

"Nggak apa-apa kok, Mam." Elena memaksa senyum. Matanya sekilas bertatapan dengan Mama, lalu kembali menunduk. Jujur saja, Elena merasa lebih nyaman bertukar pesan daripada bertatap muka seperti ini. Lebih aman.

"Mama kira kamu nggak langsung pulang," Diana menghela napas panjang. "Papa kamu nggak marah 'kan?"

Elena menggeleng. Jemarinya sibuk memainkan sendok di mangkuk. "Nggak kok, Mam. Papa nggak pernah marahin Elen."

Diana tersenyum lega. "Syukurlah. Seenggaknya di sana kamu ada temen. Mama jadi lega kamu tinggal di sana. Kalau sama Mama terus, Elen pasti canggung, ya?"

Elena menggeleng. Pelan. Bohong.

"Elen, kamu baik-baik aja 'kan tinggal di sana? Kak Aldrian juga baik 'kan sama kamu?" Diana meremas jemarinya sendiri. Menahan diri untuk tidak meraih tangan Elena. Takut membuat putrinya risih. "Mereka semua baik 'kan?"

Elena sontak menatap Mama. Tatapan itu penuh harap, penuh sesal, sekaligus putus asa. Seperti orang yang ingin mengaku tapi takut dihukum.

"Elen baik-baik aja kok, Mam." Dia diam sejenak, mengumpulkan keberanian. "Elen nggak tinggal sama Mama lagi karena temen-temen Elen di sana semua. Elen... nggak bisa bersosialisasi dengan baik di tempat ini. Maafin Elen, Mam."

Diana mengangguk. Kali ini dia yang menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. "Mama sibuk banget sama kerjaan. Jarang di rumah. Mama ngerti."

"Mama hari ini nggak kerja?" Elena bertanya ragu. Berharap Mama bilang iya.

"Mama ada meeting sama klien jam tiga sore," Diana kembali menatap Elena. "Kamu mau nginep di sini?"

Elena ragu. Bayangan Kak Erga langsung memenuhi kepalanya. Dingin. Menjijikkan.

"Kamu istirahat ya, El. Nanti kamu cerita semua yang ingin kamu ceritain," ucap Diana, seolah membaca keraguan di mata anaknya. "Kamar kamu masih sama. Mama jaga. Nggak ada yang Mama ubah."

Elena hanya mengangguk. Tidak enak menolak.

Hari ini Mama berbeda. Tidak ada benci yang Elena rasakan. Rasanya dia ingin menghambur ke pelukan itu. Canggung, tapi dia suka. Jarak yang selama ini membentang seperti tembok, kini retak separuhnya. Mungkin selangkah lagi, Elena bisa merasakan sosok ibu seutuhnya. Tanpa overthinking.

Elen butuh Mama.

°•°•°•°

Kamar paling ujung adalah kamar Elena dulu. Masuk sedikit lorong. Ada dua kamar di sana. Satunya kamar kak Erga, tepat di depan kamar Elena.

Elena berdiri di depan pintu kamarnya. Perlahan ia dorong. Engselnya berbunyi pelan, menampakkan ruangan yang dingin. Tak berpenghuni, tapi rapi. Terlalu rapi.

Satu ranjang single di dekat jendela. Meja belajar di sampingnya. Lemari baju dekat pintu. Ada kamar mandi kecil di sudut, dekat rak sepatu. Dindingnya masih ungu. Warna kesukaannya dulu. Tidak ada yang berubah. Tidak ada foto. Tidak ada pajangan. Hanya jam dinding bundar putih polos di atas ranjang.

Semakin lama memandang, napas Elena semakin sesak. Potongan memori mulai menyusun dirinya sendiri, memutar ulang kejadian malam itu.

Elena meringkuk di sudut ranjang. Badannya menggigil. Kak Erga berdiri di ambang pintu, telanjang dada, bau alkohol menyengat.

Flashback itu datang seperti tsunami.

Lihat selengkapnya