Disela tidurnya yang terbangun, Elena meraba tote bag. Ponselnya masih hangat. Satu pesan dari nomor tidak dikenal.
[16.30] Halo, El, aku Helmi. Save aku yaa
[16.31] Kalo besok ada waktu kita ketemu di Ngopi Sejuk. Kafe deket Galeri Seni Kasih. Jam sembilan. Buat bahas tugas seni. Aku percaya sama suara kamu
[16.32] Lokasinya kamu tau??
[16.32] Balas aku kalo kamu udah baca
Elena menatap layar sampai matanya perih. Jarinya gemetar ngetik.
[00.05] Maaf baru buka hp
[00.06] Gw tau lokasinya. Sampai ketemu besok, Hel
Ponsel dilempar ke atas nakas. Kantuk hilang.
Yang tersisa hanya kepala yang pening dan mata yang bengkak. Sebelum tidur, dia sudah menangis sampai dada sesak.
Di luar sadar, suara lain muncul, mengejek.
"Kalo besok aja gimana? Jam tiga sore. Di depan, di taman komplek."
Besok??
Elena terkekeh, tapi suaranya kosong. Elvan berjanji lagi di hari yang sama dia membatalkannya.
Mudah banget.
Elena turun dari ranjang. Tote bag ditarik. Duduk di meja belajar. Buku paket matematika dikeluarkan. Halaman yang sudah diberi tanda—statistika, tugas kemarin yang belum selesai.
Fokus, El. Fokus.
Lima menit. Statika nggak masuk.
Tujuh menit. Rumus kabur.
Sepuluh menit.
Sebelas menit, fokusnya runtuh.
Otaknya bukan lagi sarang rumus, tapi sarang janji Elvan yang menggantung.
Buku ditutup keras. Dijadikan bantalan. Di detik paling sunyi, bisiknya pecah:
Emang apa spesialnya gue? Orang perfect kayak Elvan cuma buat yang setara.
Mimpi aja, El. Lo nggak berguna!
Air matanya jatuh lagi. Bukan karena Elvan. Bukan karena kak Erga.
Malam ini lebih buruk. Karena Elena baru sadar: dia merasa nggak berarti apa-apa.
Terus gue ngejar apa, sih... sampai mental gue hancur begini?
Pukul satu dini hari. Malam masih panjang. Tubuhnya penat, tapi otaknya nggak mau diam.
Detak jam dinding, gemericik akuarium, diffuser lavender, jangkrik—semuanya berisik.
Elena terlelap sebentar. Selalu terbangun tanpa sebab.
Laptop dibuka . Suara ombak diputar pelan.
Berharap pikirannya mau istirahat, walau sebentar saja.
Besok hari yang panjang.