Usai berpisah dengan Helmi, Elena jalan ke taman kota.
Lokasi pertemuannya dengan Elvan.
Helmi sempat menawarkan tumpangan pulang. Elena menolaknya dengan halus.
Bukan karena benci. Dia hanya merasa tidak nyaman menerima kebaikan orang.
Terlebih Helmi mendapat telepon dari kakeknya. Memintanya untuk pulang. Mendadak.
Latihan baru setengah jalan, tapi Helmi pamit.
Walaupun begitu, Elena menikmatinya.
Setidaknya, Helmi tidak ingkar.
Dekat bangku taman, Elena pasang earphone bluetooth.
Kembali Pulang diputar ulang. Lagu yang akan dia bawakan di tugas seni.
Dia duduk berselonjor di rerumputan.
Di depannya, satu keluarga tengah menikmati piknik akhir pekan.
Ada ayah, ibu, dan anak perempuan kecil yang tertawa sembari mengejar kupu-kupu.
Pemandangan sesederhana itu mampu membuat Elena terpaku.
Dia tidak pernah punya itu.
Setetes air mata lolos. Cepat dia usap. Senyumnya merekah, tapi dadanya makin sesak.
Suatu saat nanti, aku bakalan kayak gitu nggak?
Bahkan tawa anak itu menembus ke telinganya, mengalahkan bising musik di earphone.
Elena buang muka. Gundah gulana tidak membuat Elvan datang lebih cepat.
Dia buka resleting tas ransel. Buku sketsa kecil dan kotak cat air dikeluarkan.
Earphone masih nyala. Pun keluarga itu masih tertawa.
Keinginan Elena untuk punya "rumah" yang utuh masih tertanam, keras.
Nanti giliran aku, ya. Nanti menangkan aku.
Kuas dicelup. Warna biru tua campur putih.
Di kanvas seukuran buku, dia bentuk sayap kupu-kupu. Besar. Hampir memenuhi halaman.
Katanya, sayap kupu-kupu akan hancur jiga manusia menyentuhnya.
Gumam Elena dalam hati. Sorot matanya kosong. Bibirnya diam.
Tapi manusia itu yang paling tersakiti.
Dia nyumpah-serapahi kupu-kupu tak berdosa itu, karena tangannya terluka.
Di detik lirik: pergi tanpa pamrih, pergi tanpa pamit, akan....
Elena sadar. Kupu-kupu di kanvasnya hidup, tapi mati.
Dia tidak akan pernah menemukan sayapnya yang hancur untuk kembali utuh.
Jika kembali pulang pada kepompong yang dulu membentuknya seindah itu, mungkin terlambat.
Seseorang sudah mengubahnya sebagai kain hiasan dinding.
Pada akhirnya dia kehilangan segalanya.
Istirahatnya di mana? Rumahnya hancur.
°•°•°•°•°