Lagu Kembali Pulang terputar. Menemani perjalanan panjang Elena ke sekolah. Tubuhnya bersandar pasrah di jok penumpang. Tatapannya hampa, menulusuri jalan yang sama seperti biasanya.
Headset bluetooth dilepas. Tubuhnya sedikit tegak, tanpa sadar menoleh. Kafetaria mbak Asri tampak sepi. Sepeda motor Elvan terparkir di sana. Sepeda Elena juga.
Mobil terus melaju. Sampai kafetaria mbak Asri hilang ditelan tikungan.
Di situlah Elena sadar: dirinya tidak utuh.
Takut bergantung pada laki-laki yang jelas bukan untuknya.
Untuk apa mengejar, kalau dia sendiri punya hal yang harus dikejar?
Elena terlalu lelah untuk bersaing. Energinya terkuras habis.
Janji ya, El, nggak suka Elvan lagi?
Pertanyaan itu melayang tanpa jawaban. Sebuah bisikan yang memaksanya sadar: ini bukan waktunya jatuh cinta.
Hidupnya perlu di tata ulang.
°•°•°•°•°•°
"Fernanda keluar dari sekolah ini."
Ucapan Kirana membuat tangan Elena berhenti di udara. Buku paket yang hendak ia buka jadi lupa.
"El, kenapa bengong?" Yona menjentikkan jari di depan wajah Elena. Ia duduk di meja Kirana.
Elena terkesiap. "Nggak... nggak apa-apa."
"Fernanda temen lo waktu di boarding school 'kan?" Kirana menatapnya lekat.
Elena diam. "Dia baik. Gue nggak nyangka aja."
Kirana beranjak, pindah ke meja Elena. Suaranya diturunkan. "Gue denger, kemarin Fernanda pulang mukanya babak belur."
Elena menatap Kirana. "Maksudnya?"
"Calon pacar gue yang cerita. Dia sekelas sama Fernanda, pulang telat karena piket. Gue jamin bentar lagi berita ini bakal booming."
"Dua tahun, masih calon pacar." Yona bergumam. Kirana yang mendengarnya mendengus sewot.
"Alasannya kenapa keluar? Kapan?"
Kirana ngangkat bahu. "Nggak ada yg tau. Tapi tadi gue liat dia ke ruang guru. Rumornya mau urus surat keluar."
Elena terdiam. Ia ingat pertemuan pertama dengan Fernanda setelah setahun berpisah. Fernanda berbeda. Bukan Fernanda yang ia kenal di boarding school. Berpapasan pun tak pernah menyapa, apalagi tersenyum. Seperti sengaja memberi jarak.
"Guys, gue ke toilet dulu." Elena berdiri, nyelonong tanpa menunggu jawaban.
"Tapi, El, bentar lagi masuk!Pelajaran pak Trimo!" Yona berteriak kecil.
Elena mengacuhkannya.
Di luar kelas, Elena hampir bertabrakan dengan Elvan. Tatapan mereka bertemu sedetik, lalu sama-sama berpaling tanpa kata.
Wajah Elvan datar. Seperti biasa. Tapi kali ini tidak angkuh. Matanya penuh tanya.
Elena memilih mengabaikan. Ia berlari di koridor, tepat saat bel masuk berbunyi nyaring.
Langkahnya terhenti di perempatan lorong. Fernanda baru keluar dari ruangan guru. Tidak sendiri. Ada ibunya di samping. Mereka diam. Kaku. Seperti dua orang asing yang kebetulan searah.
Elena mengikutinya dari jauh. Langkahnya pelan, mengendap. Instingnya bilang: Fernanda adalah kunci dari resah yang mengganggunya beberapa hari ini.
Nomor tidak dikenal.
Entah sejak kapan ia mulai mencurigai Fernanda.