"Den Helmi nunggu di ruang tamu, Non."
Satu kalimat dari mbak Rini langsung membuat atmosfer di kamar Elena berubah mencekam.
Barusan saja dia susah payah membanting nama Elvan keluar dari kepalanya.
Elena menoleh ke ambang pintu. Mbak Rini berdiri di sana, senyumnya hangat seperti biasa.
"Nanti aku turun," jawab Elena pelan.
Mbak Rini mengangguk, lalu pergi. Meninggalkan Elena lagi dengan ruangan yang sepi... dan sesak.
Di depan meja belajar, Elena mengatur napasnya berkali-kali. Menahan sesuatu yang meronta di dadanya.
Elvan cuma datang karena tugas. Bukan karena apa-apa, batinnya lirih.
Buku paket matematika ia genggam. Elena beranjak dengan hela napas berat. Sebelum keluar, ia sempat melirik cermin. Merapikan rambut yang berantakan.
Dari lantai bawah, samar terdengar obrolan hangat di ruang keluarga.
Di ujung tangga, Elena sempat berhenti.
Hatinya berbisik: kalau beneran ikhlas lepasin Elvan... jangan sakit.
Kaki tetap melangkah.
Ke ruang tamu. Dengan senyum tipis. Rasanya canggung.
Ikhlas? Emang pernah dapetin?
Elena terkekeh.
Sontak dua orang yang asyik mengobrol langsung menoleh.
"Kenapa, El?" Nessa bertanya. Ia duduk di samping Elvan. Wajahnya hangat, lengkap dengan senyum manisnya.
Elena gelagapan. Sekilas melirik Elvan yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Nggak," tukasnya cepat. Lalu tersenyum.
Elena duduk lesehan di karpet tebal.
Tanpa pikir panjang, Elvan ikut turun dari sofa. Duduk lesehan juga. Berhadapan langsung dengan Elena, tersekat meja.
"Materi nomor satu sampai empat udah paham?" tanya Elvan, to the point.
"Paham... sedikit. Dari penjelasan pak Trimo," jawab Elena sambil memaksakan senyum lebar.
"Oh. Sorry ya, gue batalin pertemuan udah dua kali."
Elena acuh. Ia membuka buku paket, lembar demi lembar.
Elvan menarik napas dalam. Dia menatap Elena dalam-dalam.
"Pertama, lo harus bisa ngitung cepet di perkalian."
Elena mengangguk tanpa menoleh. Dalam hati merutuk: gue yang paling bego di sini! Cabut deh, Ness!!
"Gue punya trik perkalian cepat. Mau tau?"