Eternal Sanctuary: The Marionette

Adinda Amalia
Chapter #5

Chapter 05: Words Spoken

Hamparan rumput bergoyang pelan oleh sapuan angin. Lebar dan luas, melingkari bukit seperti sebuah cincin memeluk erat-erat. Satu dua hewan berlarian riang, menikmati rumah luas mereka. Kelinci, domba-domba, dan beberapa kuda. Tak jarang saling menghampiri untuk mengendus aroma satu sama lain, sapaan gaya mereka.

Second Aircraft milik Sanctuary terbang di atas. Pasukan-pasukannya turun. Sebagian melayang di sekitar. Kebanyakan berdiri di atas rumput. Satu dua mengamankan sekitar agar tidak ada hewan-hewan tanpa sengaja terinjak atau terluka.

Di bagian barat dari lapangan rumput mengelilingi bukit, dipenuhi oleh lubang-lubang sebesar mobil, di tanah. Baru dilaporkan fajar ini, padahal kemarin masihlah rata oleh rumput.

Satu dua makhluk menyerupai tikus mol menyembul keluar. Ukuran mereka serupa dengan lubang-lubang di sana. Dua gigi atas sangat panjang menjulur di mulut, sepasang telinga kecil nyaris tak ada, kaki-kaki dengan cakar, badan tanpa bulu. Kulit mereka bukan merah muda agak putih seperti versi aslinya, melainkan coklat kotor mirip tanah.

Para anggota Sanctuary buru-buru menyerang setiap kali ada yang menyembul. Namun, selalu saja monster-monster itu gesit masuk ke dalam lubang kembali, bersembunyi di dalam lorong panjang dan meliuk-liuk bawah tanah buatan mereka. 

George mundur. Melayang lebih tinggi untuk menyusul seseorang yang mengawasi sejak tadi dari sana. Lentera di atas tangannya ragu-ragu untuk menyala. “Mereka semua masih berada di dalam lubang, Kapten Aaron! Kami kesulitan menjangkaunya.”

Aaron mendecak kesal. Mole monsters adalah makhluk kreasi Crimson Moon paling menyebalkan. Mereka memang tidak menyerang secara agresif, tetapi sulit sekali untuk dipancing keluar dari persembunyian.

Para anggota Sanctuary bisa saja mengejar ke dalam tanah. Namun, di lubang super panjang, berkelok-kelok, dan sangat dalam, besar sekali potensi untuk terjebak. Mereka memang cukup kuat untuk menjebol tanah di atasnya supaya dapat meloloskan diri. Namun, kerusakan di sekitar akan makin luar biasa. Memikirkan cara memperbaiki tanah berlubang akibat mole monsters saja, Aaron sudah pening. Apalagi harus memikirkan tanah yang jebol lebar-lebar akibat ulah pasukannya sendiri.

“George,” perintah Aaron, “dorong satu persatu keluar menunggunakan cahaya lenteramu! Kemudian, aku akan melumpuhkannya. Akan memakan banyak waktu, tetapi kita tak punya pilihan lain.”

“Baik!”

George melesat ke bawah kembali. Sebelah tangan terulur seperti gerakan melempar. Lentera miliknya melaju lebih cepat, memasuki lubang, menyusuri setiap celah-celah. Sesekali kilatan cahayanya terlihat sampai di ujung lubang dekat permukaaan.

Aaron mengangkat sebelah tangan. Sebuah lonceng sebesar aircraft raksasa Sanctuary, muncul dari udara di tengah-tengah langit. Nyaris setinggi aircraft itu sendiri. Sampai-sampai, banyak orang di kota pasti akan dapat melihatnya. Salah satu kekuatan Sanctuary yang paling dikagumi oleh penduduk Elysium Islands.

Lonceng Keabadian.

Setiap satu atau dua mole monsters terdorong muncul ke permukaan di saat bersamaan, loncang berdentang. Lantang dan menggema. Tikus-tikus itu seketika tidak bergerak, seperti mematung. Di saat itulah, bawahannya ramai-ramai menyerang.

Owsey menyusul. Sepasang pedang dua pisau di tangan. Lincahnya anak itu mengguguli mereka semua dengan mudah. Sekali ayunan, monster nyaris terbelah dua atau tiga. Tinggal dihabisi oleh para bawahan Aaron untuk memastikan monster-monster itu sungguh telah tumbang.

Siang harinya, akhirnya aircraft tenang kembali. Canda tawa dan obrolan para bawahan terdengar di lorong-lorong. George di ruang santai, mencoba beberapa camilan bersama rekannya.

Aaron berada di ruang kapten, seperti biasa. Laporan performa Owsey selama misi tadi—yang selalu diminta oleh Atlas—belum sempat ditulis sedikit pun. Alih-alih, dia duduk di salah satu sofa-sofa di sekeliling sisi meja. Memijit dahi sambil menatap sebuah tablet, memeriksa ulang dokumentasi dan catatan kerusakan tanah lapang di dekat bukit akibat misi barusan.

Owsey juga di sana. Berada di sofa lain, tak terlalu jauh dari Aaron. Dia duduk dengan masing-masing tangan menopang badan di samping. Sepasang kaki menggantung, sempat menegang sedikit sesaat. Bibir mengantup lebih erat, terlihat tidak nyaman. Dia kemudian menoleh menatap Aaron. “Kurasa segelnya belum tertutup dengan sempurna.”

“Apa?” Aaron meletakkan tablet ke meja. Dia menatapnya, nyaris seketika itu juga. Percaya dan tidak, terhadap kata-kata yang didengar barusan. Sekaligus menyadari perbedaan sikap—anak itu biasanya datar dan kaku seperti boneka. Perubahan yang terlalu drastis.

Sepasang mata Owsey berkedip sekali, masih memandangnya. “Kurasa segelnya belum tertutup dengan sempurna.”

Aaron bangkit dari sofa. Beranjak mendekat agar salah satu tangan bisa meraih puncak kepala dan sebagian dahi anak itu. Berkas cahaya muncul di depannya: lingkaran, bintang, sepasang tombak. Sekilas, kedua tombak menyilang seperti seharusnya, tetapi tidak persis di tengah. Aaron baru menyadarinya.

Bergegas, dia menutup segel sempurna. Sepasang tombak bergerak sedikit supaya tepat menyilang di tengah. Setelah itu, berkas-berkas cahaya redup kembali. Aaron menurunkan tangan. Perhatiannya tidak lengah dari anak itu yang sekarang menghadap depan kembali, nyaris datar dan apatis seperti semula, tetapi pupilnya bergeser agak ke bawah—seperti sedang memulihkan diri.

“Apa yang tadi kau rasakan?” teliti Aaron.

Lihat selengkapnya