Ujung badan sepasang aircraft milik Sanctuary memecah awan-awan selembut kapas. Di bawah langit pagi Elysium Islands menyapa dengan sebuah senyuman dan cahaya hangat selepas fajar. Manis, seperti kue baru matang, di sebelah teh camomile.
“Periksa segelnya atau kita tidak akan berangkat sampai kapan pun!” Atlas berdiri di ambang pintu ruang santai utama dari Second Aircraft. Menghalang siapa pun untuk melewati.
Owsey duduk di sofa tengah-tengah ruang. Persi seperti boneka pajangan, layaknya hari-hari lain. Pipinya menjadi sasaran gemas jari Theodore setiap tiga detik sekali. Pupilnya mengarah atas kepada Atlas. Setidaknya sampai Aaron mendekat dan tanpa sadar merebut tatapan anak itu.
“Aku sudah memastikannya sejak kemarin. Anda bisa memegang kata-kataku kali ini, Prof Atlas. Aku tahu Anda yang bertanggung jawab atas eksperimennya, tetapi akulah yang berada di dekat Owsey setiap hari.”
Sebelah sudut mata Atlas berkedut. Masih pagi, dan dia harus berurusan dengan orang paling menyebalkan dalam hidupnya.
Aaron meraih puncak kepala dan dahi anak itu. Berkas cahaya menyala. Simbol-simbol berbentuk lingkaran, bintang, dan sepasang tombak bersilang tepat di tengah. Segel sedang tertutup sempurna. “Benar, bukan, Prof Atlas?” katanya sekali lagi sebelum menjauhkan tangan kembali sehingga simbol-simbol itu redup sampai tak terlihat lagi.
Atlas mendengus. “Lebih baik memeriksa dua kali daripada menyesal di akhir. Bila segel terbuka dan kau sedang berada jauh darinya, kau tak akan bisa mengendalikan energi hydra atau menutup segel dengan segera segera sehingga sudah pasti nyawa Owsey terancam.”
“Aku paham, Prof Atlas,” kata Aaron tenang, nyaris terdengar seperti berusaha meyakinkannya.
Sementara itu, Atlas tak terlalu menyukai responsnya. “Sudah cukup, kita berangkat sekarang.”
“Eh….” Theodore memprotes—sesuai dugaan Atlas sehingga kepalanya makin pening. “Terburu-buru sekali, Tuan Atlas. Setidaknya biarkan sarapanmu selesai diproses oleh perut terlebih dahulu. Bekerja keras terlalu awal hari tidaklah baik, lho. Lagi pula, aku masih menikmati waktu bersama Owsey. Jarang-jarang aku punya waktu untuk mampir.”
“Jangan menasehati seorang profesor utama Sanctuary Research Tower tentang kesehatan. Bercerminlah.” Atlas berbalik, sudah tak mau mendengar lebih banyak omong kosong. “Alasanmu tanpa dasar jelas. Kita berangkat sekarang juga,” ulangnya.
“George, Jake. Aku mempercayakan Marshmallow kepada kalian. Hari ini, kalian bebas dari patroli maupun berbagai misi. Tugas utama kalian adalah menjaganya.” Aaron meraih topi baret untuk dipasang di kepala.
“Baik, Kapten Aaron,” seru George.
Jake mengangguk. “Kalian akan pergi berapa lama?”
“Paling lama seharian, apabila tidak ada situasi tidak terduga. Kami hanya perlu turun untuk memeriksa gua di dasar Lautan Elysium. Memastikan energi hydra di sana masih tersedia dalam mencukupi kebutuhan makhluk hidup di sekitar dan masihlah terbarukan secara normal. Kau tahu, pemantauan rutin.” Theodore bangkit dari sofa setelah sebuah cubitan lembut di pipi Owsey. “Jangan merindukanku, ya Jake?” Dia tertawa, bercanda.
Mereka bertiga meninggalkan ruang. Dan, bahkan saat langkah-langkah tiga orang itu menyusuri lorong, suara tengil Theodore disusul oleh gerutuan kesal Atlas belum-belum sudah samar terdengar lagi. Setiap mereka dipertemukan, agaknya memang tak akan pernah ada ketenangan.
Pesawat kecil meluncur dari badan Second Aircraft, terbang menuju arah Lautan Elysium.
George dan Jake sama-sama beralih ke Owsey selepas tersisa mereka bertiga di ruang santai. Anak itu sudah agak familiar dengan George. Mereka berada dalam aircraft yang sama setiap hari. Menjalankan misi bersama beberapa kali ketika Aaron harus turun tangan.
Jake. Anak itu hanya pernah melihatnya satu dua kali ketika ada misi gabungan kedua aircraft. Itu pun, mereka belum pernah berinteraksi langsung satu sama lain. Sekali pun Jake sendiri hanya sempat melirik anak itu sesekali.
Di dekat meja, Jake berdiri menatap Owsey. “Aku tak tahu cara mengurus anak kecil. Mengapa Kapten Theodore memintaku untuk ikut menjaganya?” Dia menggerutu sebal. “Dasar orang menyebalkan itu.”
Sementara, George berjongkok di lantai, dekat tepian sofa, agar anak itu tak kesulitan hanya untuk menatapnya. “Owsey, Owsey,” panggilnya ceria dan hangat, sangat penuh kasih sayang. “Dia namanya Jake. Berikan salam seperti yang kuajarkan saat kita mengunjungi Prof Atlas terakhir kali.”
Tatapan anak itu bergeser dari George kepada seseorang di dekat meja. Sesaat, belum ada kata-kata keluar dari bibirnya. Hanya muka datar dan tak tertarik. Namun, kemudian, suaranya terdengar juga, “Selamat pagi.”
George kegirangan. “Bagus!”
“Pagi, Owsey.” Jake menjadi mengamati anak itu. Saat di tengah misi dulu, dia semata menganggapnya sebagai anak kecil pada umumnya. Namun, begitu memerhatikan lebih dekat dan jeli seperti ini, barulah dia sadar bahwa apa yang para kapten katakan tentangnya adalah benar: menyerupai boneka.
Tatapan lurus, tanpa ekspresi, nyaris tak bergerak.
“Oh.” Jake menyadari sesuatu. “Ketika menatap Owsey, mengingatkanku kepada Kapten Aaron.”