Eternal Sanctuary: The Marionette

Adinda Amalia
Chapter #7

Chapter 07: Sword of Guillotine

Gedung-gedung Sanctuary Research Tower tenang dan cemerlang oleh pelukan cahaya pagi menjelang siang. Angin masih segar, membawa semangat-semangat dan keceriaan permulaan hari. Gumpalan awan di langit Elysium Islands kali ini sedang jarang-jarang, memamerkan langit sebersih senyuman murni.

Second Aircraft milik Sanctuary terbang berputar-putar menemani langit. Gagah dan bangga. Kehadirannya seperti sayap-sayap yang mengayomi. Bayangan lebar tercipta menjadikan simbol perlindungan abadi yang tak akan pernah dikalahkan oleh waktu.

Di atap gedung rumah sakit, sebuah pesawat kecil dari First Aircraft bertengger. Theodore tahu-tahu ikut muncul saat Aaron sedang mengantar Owsey untuk pemeriksaan rutin dengan Atlas. Toh, sejauh ini pasukannya hanya sedang patroli tanpa ada misi tertentu.

“Warna matanya berubah?” Di tepian ranjang periksa, Owsey duduk di pangkuan Theodore dengan sepasang tangannya menyilang di depan tubuh persis seperti cara memeluk boneka—ide si kapten tentu saja. Atlas tadi sudah menegurnya agar anak itu duduk sendiri, apalagi selama pemeriksaan, tetapi Theodore mana mungkin mendengarkan.

Atlas merapikan kembali beberapa peralatan medis yang baru selesai digunakan untuk memeriksa Owsey. “Benar,” katanya. Kemudian, sambil mencatat kondisi anak itu di sebuah tablet.

“Jake juga menyinggungnya selepas menjaga Owsey kemarin. Jadi, ini memang bisa terjadi, Tuan Atlas?” Theodore meremas pelan kedua pipi anak itu menggunakan satu tangan sebentar, lalu kembali memeluknya dengan dua lengan protektif.

“Lihatlah Aaron,” kata Atlas. “Perubahan warna mata Marshmallow bukanlah sembarangan, melainkan mendekati warna mata Aaron. Begitu pula dengan lainnya: bentuk mata, alis, bibir, postur tubuh, tinggi badan. Seiring waktu, akan jelas bahwa dia akan mewarisi lebih banyak ciri-ciri Aaron.” Dia kemudian meletakkan tablet di meja, memijat keningnya karena terpikir sesuatu, “Semoga saja tidak dengan sifat menyebalkannya….”

Theodore menatap Owsey dan Aaron—yang sedang berdiri di sudut ruang—lekat-lekat secara bergantian. “Agaknya Owsey memang terlihat seperti Aaron. Masih begitu samar kemiripannya, tetapi sudah terasa serupa.” Kemudian, dia menatap Atlas kembali. “Karena keberadaan DNA Aaron di dalam tubuhnya, ya?”

“Benar,” jawa Atlas. “Sekarang DNA milik Aaron juga ikut berpartisipasi dalam membentuk Owsey sedemikian rupa. Sederhananya, mereka seorang ayah dan anak. Seperti yang kukatakan waktu itu.”

“Eh….” Theodore tersenyum, seperti seorang teman sejak masa kecil yang ikut senang oleh kelahiran putrinya, tetapi juga menyiratkan bahwa dia tak akan pernah berhenti membahas hal ini hanya untuk mengganggu Aaron.

“Bisakah Anda tidak mengatakan soal itu terang-terangan?” Aaron membuang muka dengan gusar.

Atlas langsung meliriknya dengan galak dan tak suka. “Jangan mengatakannya seperti itu di depan Owsey.”

Seketika, Aaron agaknya makin geram dan gelisah. Dia tahu maksud Atlas, dan untuk sesaat dia benar-benar takut andai barusan sungguh melakukan kesalahan ceroboh begitu besar. Dia mengerang, agak lirih, tetapi cukup ditekan, “Bukan berarti aku tak menyukainya!”

Theodore cekikikan sebentar. Anak di pangkuannya sungguh tidak menangkap maksud ucapan mereka barusan, sehingga dia bisa lanjut menyenggol batas kesabaran Aaron. “Kalau begitu, kau sungguh malu-malu?”

“Ini mendadak, kau tahu.”

Aaron sudah nyaris memutuskan untuk beranjak meninggalkan ruangan, saat sebuah pesan datang dari atasan. Bunyinya langsung menarik perhatian orang-orang lain di ruangan. Dia memeriksa. Misi darurat untuk pasukan di Second Aircraft

“Nah, saatnya dia bekerja.” Atlas menatap agak tajam pada Theodore. “Lepaskan dia.” Agaknya masih kesal akan betapa pembantahnya Theodore tadi—dan setiap hari lebih tepatnya.

Sambil cemberut dibuat-buat, Theodore menurunkan Owsey. Setelahnya, dia beralih kepada Aaron. “Selagi di sini, aku akan membantu. Tak perlu berterima kasih, aku hanya ingin sedikit bersenang-senang—patroli harian membosankan. Lagi pula, kalian tak akan pernah tahu kapan satu tambahan manpower akan sangat berguna.” Dia tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.

Sebuah pesawat kecil yang seharusnya kembali ke First Aircraft, justru ikut terparkir di ruang kargo Second Aircraft. Sedikit mempersempit, tetapi masih bisa terakomodasi dengan sangat baik. Kendaraan raksasa milik Sanctuary itu kemudian meninggalkan kompleks bangunan Sanctuary Research Tower.

Lihat selengkapnya