Langit di atas Elysium Islands hari itu seperti sedang menangis. Sinar matahari menembus lapisan awan dengan kejam. Aroma-aroma manis di udara menipis. Ketenangan pecah berkeping-keping. Sesuatu yang mirip ketakutan dan ancaman, merembes keluar.
Second Aircraft bukan lagi terbang berputar-putar di sekitar atas pulau dengan hutan lebat itu, melainkan bergeser ke posisi stabil mengarah kepada pedang agung di atas pulau. Mesin-mesin menderu sedikit lebih kencang. Meriam di bagian depan sepasang sayap, terangkat. Mulai terisi oleh peluru padat.
“Kapten Theodore!”
Pilot aircraft menghubungi melalui saluran radio yang tersambung dengan alat komunikasi di telinganya.
Namun, Theodore tak bisa menjawab.
“Ini telah menjadi amanat Kapten Aaron sejak Marshmallow datang ke Second Aircraft.”
Bohong. Theodore tak mau memercayainya. Namun, dia juga seorang kapten. Seseorang yang bertanggung jawab atas keselamatan para anggota Sanctuary. Namun, bukan berarti dia harus membiarkan meriam aircraft mengarah kepada Owsey seperti itu.
Theodore harus berpikir. “Sebentar. Tunggu… sebentar saja,” dia memerintah, tetapi suaranya lemah.
Pedang agung berangsur menghilang kembali ke udara seiring Owsey berhenti bergerak. Theodore buru-buru meluncur untuk menangkap anak itu sebelum terjatuh ke tanah. Black panther menghilang kembali di belakangnya, menyisakan hembusan angin hangat sisa-sisa kekuatan besarnya.
Dugaan masuk akal, meski dengan taruhan besar, oleh Theodore benar. Owsey adalah wadah, bukan pengendali. Saat tali kekang energi hydra di dalam tubuh terlepas, kekuatan meledak hanya untuk beberapa saat, sebelum kesadaran melemah oleh energi hydra yang menyerangnya.
“Tuan Atlas! Senjatamu makan tuan, kau tahu!” Theodore meluncur kembali ke aircraft dengan Owsey di tangannya. Di belakang, George membawa Aaron di punggung—tak sadarkan diri. Sementara anak-anak buah lain menyusul sambil melaporkan bahwa seluruh centipede monster telah dihabisi. Setelahnya, Second Aircraft melaju kencang meninggalkan tempat itu. Keadaan darurat.
Sanctuary Research Tower dipenuhi kepanikan setelahnya. Orang-orang berlalu lalang di lorong dengan langkah bergegas. Salah satu ruangan lebar, ramai oleh bunyi berbagai peralatan medis bersahutan cepat. Laporan-laporan dengan nada panik dan terburu terucap setiap beberapa detik sekali. Disusul oleh perintah demi perintah dari Atlas, tegas dan tergesa.
Owsey dan Aaron diletakkan dalam satu ruangan sama. Harapan Atlas, kapten itu dapat segera menutup segel kembali ketika tersadar. Namun, dia tidak kunjung bangun. Racun centipede monster di dalam tubuhnya cepat-cepat dikeluarkan sampai bersih. Luka lebar di dada dan punggung belakang diperbaki segera sambil pasokan darah segar dipompa. Lalu ditutup perban tebal melingkar, menyambung ke pundak.
Beberapa cairan disuntikkan untuk mendorong kesadaran agar segera pulih. Atlas berulang kali memeriksa beberapa monitor, mengawasi perubahan keadaan tubuhnya. Namun, masih saja, membaik dengan terlalu lambat. Belum cukup. Belum cukup!
Sementara sudut lain ruang, Owsey terbaring di ranjang. Monitor-monitor pemantau di sekitar berbunyi cepat. Beberapa titik di tubuhnya tertancap alat medis dengan ujung sangat kecil, menembus dan mengobati sedemikian rupa, membantu DNA-nya agar beregenerasi lebih cepat.
Lebih cepat dari energi hydra yang menyerang untuk merusak DNA-nya tanpa henti—harapan mereka. Namun, energi hydra di dalam tubuh Owsey terlalu kuat. Meledak-ledak seperti kelaparan, menghancurkan banyak dan makin banyak bagian dari DNA anak itu.
Petugas medis dan semua alat itu, tidak melakukan apa pun selain mengulur waktu. Kondisinya berangsur memburuk. Organ-organ tubuh mulai melemah. Jantung, paru-paru. Aliran darah melambat. Napas beberapa kali nyaris terhenti. Seluruh kulit makin pucat.
“Tuan Atlas.”
Saat timnya memanggil bukan lagi dengan tergesa, melainkan sebuah nada putus asa, Atlas tahu bahwa upaya mereka di ambang pintu mustahil antara sia-sia dan harapan naif. Garis-garis di monitor nyaris lurus. Angka-angka terpampang mendekati nol.