Senja di atas Elysium Islands hari ini seperti sebuah permen mangga yang pecah. Cahaya oranye kemerahan memenuhi langit barat, memantul berkilauan seluas lautan pesisir. Pasir-pasir pantai sesekali terhempas oleh hembusan angin yang jauh lebih kencang daripada biasa.
Kedua aircraft milik Sanctuary melayang tinggi di udara dengan posisi sejajar. Mesin-mesin di kedua sayap depan menderu. Empat buah machine gun milik First Aircraft terangkat, membidik kejauhan. Sepasang meriam di Second Aircraft diisi oleh peluru berat.
Bunyi-bunyi memekik mulai terdengar dari kejauhan. Mendekat seperti sebuah mimpi buruk di bawah hujan tengah malam. Perlahan terlihat, makhluk-makhluk mendekat, dalam sebuah formasi deretan bagai rahang besar hendak menerkam.
Deskripsi ciri-ciri monster dari laporan Theodore dalam rapat di Sanctuary Executive Hall waktu itu mulai terlihat dengan lebih jelas. Ada sepasang sayap besar dan lebar, kepala kecil dengan paruh—menyerupai burung vulture. Enam kaki dan sepasang capit, badan beruas, ekor melengkung ke atas dengan ujung tajam—seekor scorpion besar diangkut di kaki masing-masing burung.
Deru tembakan dan ledakan meriam bersahut-sahutan, meninggalkan gema lantang seluas cakrawala, begitu penuh di telinga. Sebagian kecil dari rombongan monster berhasil dijatuhkan ke laut. Namun, kebanyakan berhasil menerobos setelah manuver-manuver menukik dengan mulus.
Belasan demi belasan pasang monster mencapai pesisir. Scorpion dilempar ke pantai. Sepasang capit mereka terbuka, siap mengoyak. Ekor panjang melengkung ke depan, mengancam dengan ujung lancip yang mampu menyengat dan mengeluarkan bisa. Kepala hingga badan sepanjang enam meter, disusul ekor dengan panjang serupa.
Sementara para vulture melanjutkan terbang tinggi di sekitar, memantau sekaligus mengacaukan ketenangan area udara di atas, mempersempit area leluasa para anggota Sanctuary untuk bertarung. Setiap kepakannya menciptakan angin besar, akibat tinggi mereka mencapai sepuluh meter dengan bentang sayap jauh lebih masif. Mereka memekik sekali lagi, seperti cemoohan atas kekalahan para manusia yang tinggal menunggu waktu. Vulture adalah burung pemakan bangkai. Monster-monster itu hadir di sana, menunggu setiap tubuh untuk kehilangan nyawa, untuk dilahap.
Sejauh ini, vulture menjadi monster paling besar dari Crimson Moon yang pernah ditemui oleh Sanctuary. Sedikit melampaui panjang blue ringed octopus—itu pun mereka muncul secara individu atau berdua paling maksimal. Sementara rombongan vulture dan scorpion ini benar-benar menyerupai pasukan perang.
Theodore memimpin pasukan untuk meluncur turun dari aircraft. Sabit dengan dua bilah, muncul tepat di genggaman tangan. Dengan sebuah ayunan, dia menyerbu monster-monster scorpion bersamaan dengan pasukan dari kedua aircraft menyusul tepat di belakang
Sedetik setelah itu, black panther miliknya ikut muncul dari udara. Telah sepenuhnya pulih dari insiden terakhir kali. Meraung lantang dan menggema, mengacaukan angin di sekitar para vulture. Mulut terbuka lebar-lebar, taring tajam terpampang jelas. Melesat untuk melahap satu persatu vulture dalam gigitan kuat.
Di tepian pintu bagian bawah Second Aircraft, Aaron bersiap turun. Seragamnya tidak sempurna. Tidak ada topi baret. Jas ditinggalkan agar tidak menekan luka di dada dan punggungnya yang masih diperban. Hanya cape hitam—ungu palatinate pada bagian dalam—di atas kemeja abu-abu nyaris polos dan celana hitam panjang.
“Anda yakin untuk ikut turun, Kapten Aaron?” George memandangnya penuh khawatir. Dia bukan meragukan kemampuan sang kapten, melainkan tak menginginkannya terluka makin parah. “Anda masih belum sepenuhnya pulih. Aku yakin semua pasukan tak akan keberatan meski hanya mendengar komando Anda dari dalam aircraft.”
“Tak perlu mengkhawatirkanku, George.” Aaron meluncur turun, tanpa menunggu jawaban. Pedang panjang dengan bilah besar muncul di tangan, seiring makin dekat dengan salah satu scorpion. Mengarah lurus ke bawah, kemudian membelah monster menjadi dua dari ujung ekor hingga kepala.
Pertarungan terus berlangsung. Senjata-senjata para anggota Sanctuary beradu dengan capit-capit dan ekor lancip scorpion. Para vulture memekik tiap beberapa saat sekali dengan nada merendahkan, kaki bercakar menghempas siapa pun yang terbang terlalu tinggi. Sebagian berujung diterjang oleh black panther raksasa untuk dikoyak di antara taring-taring tajam. Kedua aircraft tanpa henti menembak ke arah rombongan baru dari lautan.
Namun, jumlah mereka tak kunjung habis. Malah makin terbambah. Lonceng sebesar aircraft, milik Aaron, bergedung berulang kali. Namun, baru kali ini, para monster tidak sepenuhnya mematung, gerakan mereka hanya separuh melambat. Crimson Moon sungguh telah menciptakan monster-monster baru yang mengungguli Sanctuary.
“Aaron!” Theodore berhenti sebentar ke sisi rekannya. Senja telah berubah menjadi malam. Performa para anak buah sudah mulai turun, padahal jumlah para musuh belum juga berkurang. “Kita tidak bisa terus-menerus seperti ini. Pasukan tak akan bertahan selamanya. Para monster mulai menekan kita mundur perlahan-lahan!”
Aaron kehabisan kata-kata. Belum pernah Sanctuary sampai terpojok begini. Biasanya, kemenangan demi kemenangan selalu tercapai dengan mudah. Namun, kali ini? Terdesak? Puluhan tahun dikenal sebagai pelindung Elysium Islands, Sanctuary sekarang diambang kekalahan? Sulit dipercaya. Namun, musuh-musuh di hadapan mereka, unggulnya juga sulit dipercaya.
Selama Sanctuary bertahan di zona aman, Crimson Moon menyusun strategi diam-diam. Tahu-tahu sekarang mereka bisa mendepak Sanctuary dengan mudah. Dan semua telah terlambat bagi Sanctuary yang tidak pernah melakukan apa pun—kecuali andai eksperimen Atlas tidaklah pernah dihentikan, andai dia tak melakukan kesalahan hingga insiden besar waktu itu terjadi.