Eternal Sanctuary: The Marionette

Adinda Amalia
Chapter #11

Chapter 11: Holding A Small Hand

Hembusan angin memeluk setiap sudut dan sisi-sisi tanah bumi Elysium Islands. Hangat, manis, seperti permen kapas. Fajar telah naik menjadi pagi. Menyapa dengan sebuah ucapan selamat dan tawa girang lebar.

Pengumuman resmi pihak Sanctuary telah turun kepada penduduk, bahwa monster-monster yang menyerang sudah ditaklukan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Pelindung mereka akan selalu bisa diandalkan.

Sementara kepada para anggota Sanctuary, petinggi mengirim pesan lebih spesifik: kemenangan telah diraih dan status keamanan Elysium Islands turun menjadi waspada—hanya sebagai antisipasi sampai keadaan benar-benar terpantau dan bisa dipastikan telah aman kembali.

First Aircraft tidak meninggalkan pesisir sejak kemarin malam. Bahkan mendekat ke ujung Lautan Elysium untuk mengobservasi Samudera Elysia-Abyssal. Monster-monster vulture dan scorpion tak lagi terlihat sama sekali.

Bukan berarti kemenangan telak memang. Sanctuary dan Crimson Moon sudah seperti musuh bebuyutan selama puluhan tahun. Hanya saja, dari upaya penyerangan kemarin, terbukti Sanctuary masihlah lebih unggul dan kompeten untuk melindungi Elysium Islands lebih lama lagi.

Sementara itu, Second Aircraft terbang rendah di atas kompleks bangunan Sanctuary Research Tower. George menemani Owsey menjenguk Aaron setelah semalam dia harus menenangkan anak itu karena nyaris tidak bisa tidur.

Saat pintu kamar intensif rumah sakit dibuka, Owsey menghampiri Aaron yang berbaring dengan berbagai peralatan medis terpasang. Lapisan perban di badannya makin lebar, dari pundak, dada, sampai di perut bagian atas. Bila bukan anggota Sanctuary, mana mungkin orang ini bertahan hidup dengan luka selebar dan separah itu mengoyak badannya.

Owsey tahu-tahu pipinya telah basah oleh air mata. Dia sesenggukan lembut, cara menangis yang jauh lebih kalem dibandingkan anak seumuran. Dia memandang Aaron dari kaki sampai kepala. Sebelah tangan terangkat seperti ini memegang untuk menenangkan, tetapi tak tahu bagaimana caranya.

Senyuman tipis muncul di sudut bibir Aaron. Suaranya lemah dan tak berdaya, “Mengapa menangis?” Dia meraih tangan anak itu yang terangkat, ditarik pelan ke arahnya untuk dicium lembut sebentar. “Aku tak apa.”

Di sisi lain, pesawat kecil dari Second Aircraft terparkir di sudut halaman Sanctuary Executive Hall. Tenang dan damai, dibalut cahaya yang masih hangat. Sesekali diterpa oleh hembusan angin lembut.

Ruangan rapat sangat tenang kali ini. Kelima petinggi hadir. Atlas duduk di sudut lain meja, berseberangan dari mereka. Di layar, terdapat foto-foto saat pedang agung muncul di udara dan momen ketika seluruh monster telah musnah. Di samping, ada pula laporan kondisi Aaron saat ini.

“Kami memaklumi keputusan mereka untuk menurunkan Marshmallow ke pertarungan kemarin, meskipun secara aturan adalah illegal setelah eksperimenmu diberhentikan paksa,” salah seorang petinggi bicara.

Petinggi lain menambahkan, “Sanctuary menjadi sangat tangguh dengan keberadaan anak itu. Semula sebagai wadah, tetapi sekarang kau bisa memastikan bahwa dia mampu mengendalikan energi hydra sebanyak itu di dalam dirinya?”

“Benar,” Atlas menjawab tegas dan percaya diri. “DNA Aaron yang terikat pada energi hydra yang tertanam di tubuhnya, pelan-pelan memengaruhi DNA anak itu sendiri. Sekarang DNA Marshmallow menjadi cukup kuat mengendalikan energi hydra. Hal ini di luar hipotesis awal saya, tetapi dapat diteliti lebih lanjut untuk menguak potensi lebih besar.”

“Sangat menarik,” sahut petinggi satunya lagi.

Petinggi di sebelahnya mengangguk. “Kemenangan Sanctuary dalam pertarungan besar kali ini, adalah berkat kekuatan luar biasa Marshmallow. Tidak lain karena peran besarmu.”

Lihat selengkapnya