---
Aku nggak pernah percaya sama cerita tindihan.
Ibu bilang, “Itu ereup-ereup, Dek. Setan dudukin dada.”
Bapak cuma ketawa, “Kurang doa sebelum tidur.”
Teman-temanku di kos bilang, “Kurang olahraga aja kamu.”
Mereka semua salah.
Karena yang dudukin dadaku jam 3 pagi itu... nggak pernah mau pergi.
Namaku Fai. 22 tahun. Mahasiswa semester akhir yang kos di Bandung, tepatnya di Jalan Cigadung. Kosanku tua. Catnya ngelupas, pintunya bunyi, dan kamar mandinya selalu bau apek meskipun udah disikat tiap hari.
Aku pindah ke sini tiga bulan lalu. Murah. 600 ribu sebulan, udah termasuk wifi yang lemot dan air yang kadang coklat. Pemilik kos, Bu Hayyah, bilang kamar ini paling sepi. “Anak-anak lain nggak betah. Katanya pengap.”
Aku suka sepi. Sepi itu tenang.
Setidaknya, begitu pikirku... sampai malam itu.
*Malam Pertama*
Jam 11 malam. Aku rebahan, scroll TokTok sampai mata perih. Lampu kamar udah aku matiin, cuma sisa lampu tidur warna kuning dari marketplace 15 ribuan.
Aku pejamin mata.
Gelap.
Lalu... berat.
Bukan berat selimut. Tapi berat kayak ada yang numpang duduk di atas rusukku. Napasku langsung sesak. Dadaku kayak ditindih batu 20 kilo.
Aku mau teriak. Mulutku kebuka, tapi nggak ada suara yang keluar. Mau gerakin tangan, kaki rasanya ditanam. Mataku melek, tapi yang kulihat cuma plafon kos yang retak-retak.
Dan di ujung kasur... ada bayangan.
Hitam. Tinggi. Duduk. Kepalanya nunduk, ngadep ke arahku. Aku nggak bisa lihat mukanya. Cuma bisa denger napasnya.
_Hah... hah... hah..._
Napas itu berat. Basah. Kayak orang habis lari. Tapi dia nggak gerak sama sekali. Cuma duduk. Nindihin aku.
Di kepalaku cuma satu kata: _Jin._
Aku merem paksa. Baca Ayat Kursi. Bismillah... Bismillah...
Sekitar 30 detik yang rasanya 30 tahun, berat di dadaku hilang. Aku langsung duduk, napas ngos-ngosan, keringat dingin. Lampu tidur masih nyala. Kos masih sepi.