Eureup

wina widiawati
Chapter #7

Cekek

---

*CEKEK*

Aku pingsan 2 jam di masjid.

Pas melek, udah jam 5 subuh. Langit masih item.

Leherku sakit banget. Kayak habis digantung.

"Pelan-pelan Neng," kata *Pak Ustadz*. Dia nyuapin aku air putih.

Aku mau megang leher. Tapi Mbak Vanny nahan tanganku. "Jangan Fai."

"Kenapa Mbak?" 

Mbak Vanny ngeluarin kaca kecil dari tasnya. Cermin rias.

Aku ngeliat ke kaca.

Langsung mual.

Di leher depan aku... ada bekas 5 jari. Biru kehitaman. Dalam banget. Kayak dicengkram pake tenaga orang dewasa.

Tapi ini beda sama lebam di dada. Ini... ada goresan kuku. 5 garis merah. Baru.

"Itu... itu dia," bisikku. "Sari yang cekek aku tadi."

Pak Ustadz ngangguk pelan. "Dia ninggalin tanda, Neng. Tanda milik."

Aku langsung nangis. Nggak kenceng. Cuma air mata doang. "Aku mau pulang Pak... aku mau ke rumah di Cililin..."

"Nggak bisa," potong Pak Ustadz. Cepet. "Kalau kamu pergi sekarang, dia ngikut. Dan bisa jadi korban kamu orang rumah kamu."

Darahku dingin. 

"Terus aku harus apa?" Teriakku. "Mati di sini?!"

Mbak Vanny peluk aku dari belakang. "Shhh... kita cari jalan keluar. Bareng-bareng."

Jam 6 pagi, kami balik ke kos. Naik ojek. Bertiga. Nggak ada yang berani diem.

Sepanjang jalan, aku ngerasa ada yang ngeliatin dari spion. Tapi pas noleh... kosong.

Sampai di kos, *Bu Hayyah* udah nunggu di teras. Bawa sapu.

"Mau kemana kalian jam segini?" bentaknya.

Mbak Vanny langsung maju. "Bu! Kamar 4 angker! Fai ditempelin!"

Lihat selengkapnya