---
*BU HAYYAH DIAM*
Jam 00.01.
Aku sendirian di *Kamar 4*.
Mbak Vanny beneran kabur. Tasnya hilang. Kasurnya kosong.
Di dinding, tulisan darah: _Tolong... temenin aku... -Fai_ sama _Aku di sini kok ;) -Sari_
HP retak di kolong bunyi lagi. _Ting. Ting. Ting._
Aku nggak liat. Aku udah tau isinya. Ancaman jam 03.03.
Leherku sakit. Bekas cekekan 5 jari itu makin biru. Kayak mau nancep ke dalam.
"Aku nggak mau mati..." bisikku. "Aku nggak mau..."
Jam 00.30.
Aku nendang pintu. _DUG!_ _DUG!_ _DUG!_
"BU HAYYAH!!! KELUAR!!!"
Kos sepi. Semua anak kos ngunci pintu. Takut.
Aku lari ke ruang tamu Bu Hayyah. Gedebak gedebuk.
Pintu kebuka. _Kriiit..._
*Bu Hayyah* muncul. Baju daster. Mukanya datar. Kayak udah nunggu.
"Mau apa jam segini?"
Aku dorong dia. Masuk. "JELASIN! SEKARANG!"
Bu Hayyah nggak marah. Dia duduk di kursi rotan. "Duduk."
"Enggak!" Aku teriak. "7 cewek mati di Kamar 4! Saya korban ke-8?! Enak aja Bu!"
Bu Hayyah diem 5 detik. Terus dia ngeluarin buku tua tadi lagi.
"Baca," katanya. Ndorong buku ke aku.
Aku buka. Tangan gemetar.
Halaman 1: *Sari, 22th, 1998. Meninggal gantung diri.*
Halaman 2: *Rina, 22th, 2001. Meninggal gantung diri.*
Halaman 3: *Dewi, 22th, 2004. Meninggal gantung diri.*
...
Sampai halaman 7: *Vanny, 22th, 2023. Kabur. Status: Gagal.*
Halaman 8 kosong. Ada pulpen di atasnya.
"Isi," kata Bu Hayyah. "Nama kamu. Fai."
Aku lempar bukunya. "NGGAK!"