---
*KORBAN KE-7*
Jam 05.17 subuh.
Aku melek di lantai ruang tamu *Bu Hayyah*. Leher sakit. Napas sesak.
Sobekan kertas di tangan: _Aku pilih mati. -Fai_
Balasan Sari: _Oke ;) Ketemu jam 03.03 ya._
"Ya Allah..." bisikku. Suara serak.
Pintu depan _kriiit..._ kebuka.
*Mbak Vanny* masuk. Napas ngos-ngosan. Bawa tas gede. Keringetan.
"Fai!" Dia langsung lari. Peluk aku. "Kamu nggak apa-apa?!"
Aku geleng. Nangis. "Mbak... ninggalin aku..."
"Maaf," Mbak Vanny nangis juga. "Aku panik. Aku takut. 3 tahun lalu kayak gitu juga."
Aku dorong dia pelan. "Kenapa balik?"
"Karena aku nggak mau kamu mati kayak 6 cewek lain," bisik Mbak Vanny. "Aku korban ke-7 yang gagal. Kamu korban ke-8 yang mau mati."
Aku diem.
Mbak Vanny narik aku berdiri. "Cerita. Sekarang. Pas aku kabur 3 tahun lalu, apa yang kejadian?"
Aku ceritain semua. Dari HP, telpon, masjid, sampe Bu Hayyah ngasih 2 pilihan.
Mbak Vanny dengerin. Mukanya makin pucat.
"3 tahun..." bisiknya pas aku selesai. "Dia minta kamu jadi tumbal hidup 3 tahun?"
Aku ngangguk. "Atau mati sekarang."
Mbak Vanny duduk. Leher. "Aku... aku juga dikasih pilihan itu, Fai."
Aku kaget. "Mbak juga?"
"Iya. Hari ke-4 aku di *Kamar 4*," kata Mbak Vanny. Air matanya jatuh. "Bu Hayyah bilang: 3 tahun, atau gantung diri. Aku milih kabur."
"Terus Sari diem?"
"Enggak," Mbak Vanny geleng. "3 hari aku lari ke kampung. Tiap malem jam 03.03 dia dateng. Entah mimpi atau eureup-eureup. Dia cek aku. Bangun-bangun leher biru."
Mbak Vanny buka kerah bajunya.
Di lehernya... ada bekas samar. 5 jari. Udah pudar, tapi masih ada.
"Aku kira aku selamat," lanjut Mbak Vanny. "Tapi 2 minggu di kampung... adik aku umur 22... dia bunuh diri. Gantung diri di kamar."
Darahku dingin.