Eureup

wina widiawati
Chapter #12

Loteng Kos

---

*LOTENG KOS* 

Jam 13.00 siang. 

Dewi masih pingsan di klinik. Lehernya ada bekas 5 jari. 

Aku diem di ruang tamu. Otak kosong. 

Pilihan: Aku mati jam 03.03... atau 10 cewek mati.

"Enggak," kata *Mbak Vanny*. Dia banting meja. "Nggak ada pilihan mati. Kita cari cara lain."

*Pak Ustadz* ngangguk. "Di diary Sari bilang ada cara ngurung dia lagi. Kita cari."

*Bu Hayyah* diem. Mukanya pucat. "Loteng udah kebuka. Nggak ada apa-apa lagi di situ."

"Bohong Bu," kataku. Aku berdiri. "Ada yang Bu sembunyiin."

Aku langsung naik ke loteng lagi. Bertiga. Sama Mbak Vanny sama Pak Ustadz.

Loteng pengap. Debu tebel. Baunya kayak kuburan.

Koper Sari masih kebuka. Kosong. Baju, diary, tali udah dibawa turun.

Aku ngeraba-ngeraba lantai loteng. Kayu lapuk.

"Di sini," bisikku. Ada papan kayu yang longgar.

Mbak Vanny congkel pake obeng. _KRAK!_

Bawah papan... ada kotak seng kecil. Berkarat. Dikunci gembok.

"Ini apa Bu?!" teriakku ke bawah.

Bu Hayyah di tangga langsung mundur. "Jangan dibuka!"

Telat.

Pak Ustadz gedor gemboknya pake batu. _DUG! DUG!_ Patah.

Kotak dibuka.

Isinya: 

1.  Foto lama. Banyak. 

2.  Surat nikah. 

3. 1 boneka kain. Jelek. Matanya dijahit.

Aku ambil foto paling atas.

Foto *Bu Hayyah* muda. Umur 30an. Sama cewek. Mirip banget.

"Sari?" bisik Mbak Vanny.

Aku ngangguk. "Ini... ini anak Ibu?”

Bu Hayyah di tangga diam. Terus nangis. "Iya..."

Lihat selengkapnya