Eureup

wina widiawati
Chapter #13

Sari

---

* SARI ?*

Jam 16.00

*Bu Hayyah* masih pingsan di lantai loteng. 

Di tanganku... *tali asli* Sari. Dingin. Berat. Bau amis darah kering 28 tahun.

*Mbak Vanny* narik aku turun. "Fai. Kita harus baca diary itu. Full. Sekarang."

*Pak Ustadz* ngangguk. "Kita harus tau dia siapa. Kenapa dia segitu bencinya."

Kami bertiga duduk di ruang tamu. *Diary Sari* kebuka di meja.

Sampulnya sobek. Tulisannya berantakan. 

Aku mulai baca. Suara gemetar.

---

*17 Agustus 1998* 

_Hari ini umur aku 22. Mama ngusir Dito. Katanya miskin nggak pantas sama aku. Aku cinta Dito. Mama nggak ngerti._

*18 Agustus 1998* 

_Mama maki-maki aku tiap hari. "Kamu jelek. Kamu nggak laku. Mati aja kamu". Aku sakit, Ma..._

*19 Agustus 1998* 

_Aku nggak mau hidup lagi. Dito udah pergi. Mama benci aku. Kamar 4 ini gelap banget. Tapi tenang..._

*20 Agustus 1998* 

_Malam ini aku berniat gantung diri. Pakai tali di loteng. Setelah percobaan memutus urat nadi tak berhasil karena anak kecil itu. Maafin aku Dito. Maafin aku... Mama...

_Oh iya. anak kecil masuk ke Kamar 4. Dia nangis. Dia bilang jangan lakuin itu 'temenin aku ya, aku juga kesepian’ Aku jawab. Iya. Aku temenin. Pas kamu gede ya dek..._

Aku nutup diary. Napas habis. Aku mengingat kejadian itu. Seorang perempuan yang melukai tangannya dengan pisau. Baru tergores dikit darah yang berceceran dilantai tak seberapa, dengan lilin dan boneka dihadapannya.

"Jadi..." bisikku. "Dia benar-benar nunggu aku… karena aku anak kecil itu?”

Mbak Vanny ngangguk. Air matanya jatuh. "Ternyata kamu satu-satunya yang punya perjanjian sama dia sebelum dia meninggal.”

”Jadi janji itu ada, dan itu disaat dia masih ada.” Fai menangis

Pak Ustadz nunjuk halaman belakang. "Ada lagi."

Aku buka. Halaman paling belakang. Tulisannya beda. Lebih baru. Bukan tinta. Kayak... dicakar.

_TANGGAL NGGAK ADA_ 

_Aku mati. Tapi aku nggak pergi. Mama ngurung aku di koper. 28 tahun. Sakit, Ma._

_Mama bohong. Mama bilang mau nebus dosa. Tapi Mama kasih cewek lain tiap 3 tahun. Bukan Mama._

_Aku lapar. Aku kesepian. 28 tahun._

_Terus dia dateng lagi. Fai. Umur 22. Sama kayak aku mati. Mukanya sama. Kesepiannya sama._

Lihat selengkapnya