---
*Akhir Perjanjian*
Jam 19.04.
Kos gelap total. Cuma ada lilin di tengah lingkaran kami.
*Sari* berdiri di tengah. Wujudnya normal. Umur 22. Baju putih. Nggak ada tali di leher.
Dia ngulurin tangan ke *Bu Hayyah*.
_"Peluk aku, Ma. Sekali aja. Terus aku pergi,"_ bisiknya. Suaranya... kayak anak kecil.
*Bu Hayyah* gemetar. Air mata banjir. "Nak... Mama... Mama takut..."
"Bu!" teriakku. "Ini kesempatan terakhir! 8 jam lagi dia ambil aku!"
*Pak Ustadz* megang bahu Bu Hayyah. "Ibu. Itu anak Ibu. 28 tahun dia nunggu ini."
*Mbak Vanny* nangis. "Bu, jangan egois lagi..."
Bu Hayyah ngeliatin aku. Ngeliatin Sari. Ngeliatin *tali asli* di lantai.
Tangan Sari masih ngulur. Nggak turun.
_"Fai,"_ Sari noleh ke aku. _"Kalau Mama nggak berani... kamu yang peluk aku ya. Gantiin Mama. 3 tahun. Aku janji nggak sakitin kamu."_
Darahku dingin.
"Enggak," kataku. "Kamu harus maafin ibumu dulu. Bukan aku."
Sari senyum. Sedih banget. _"Dia nggak pernah peluk aku pas hidup. Kenapa harus sekarang?"_
Jam 20.00.
Isya.
Bu Hayyah masih diam. Kaki kayak dipaku.
Sari pelan-pelan nurunin tangannya. Mukanya mulai berubah.
Dari cantik... jadi hancur. Lidah keluar. Mata melotot.
_"Oke,"_ suaranya jadi berat. Gema. _"Kalau gitu... aturannya."_
Angin kenceng. Lilin mati. _Sreeet!_
Gelap.
"BU!" teriakku.
_DUG!_ Suara jatuh.
Lampu nyala lagi. _Blar!_
Bu Hayyah pingsan di lantai. Napas ngos-ngosan. Di lehernya... bekas 5 jari. Biru. Baru.
Sari udah hilang.
Di dinding, tulisan darah baru: _Kamu milih Fai, Ma ;) Pinter._
Jam 21.00.
Kami panik. Bu Hayyah nggak sadar-sadar.
"Dia udah milih," bisik Mbak Vanny. "Dia milih nyerang Ibu, bukan peluk."
Pak Ustadz ngecek nadi Bu Hayyah. "Masih hidup. Tapi... lemah.”
Aku genggam tangan Bu Hayyah. "Bu... bangun... peluk dia... selametin kami..."
Bu Hayyah melek pelan. "Fai..."
"Bu, belum telat," kataku. "Jam 03.03 masih lama. Panggil dia lagi."
Bu Hayyah geleng. "Aku... aku nggak bisa Fai. Aku pengecut..."