---
*EPILOG*
*1 Minggu Setelah Jam 03.03*
Kos *Bu Hayyah* sepi.
Plang "DIKONTRAKKAN MURAH sudah dicopot. Ganti plang: "TUTUP SELAMANYA".
Aku duduk di teras. *Mbak Vanny* di sebelah. Bawa teh anget.
Leherku udah normal. Nggak ada bekas 5 jari lagi.
"Jadi... udah beneran pergi?" tanyaku.
Mbak Vanny ngangguk. "Iya. Pak Ustadz udah doain tanah ini 7 hari. Udah anget lagi."
Kami diam. Denger suara ayam.
*Bu Hayyah* keluar dari dalam. Bawa koper.
Rambutnya udah putih semua. 1 minggu kayak tua 10 tahun.
"Fai," kata Bu Hayyah. “Ibu... mau pamit."
Aku berdiri. "Mau kemana Bu?"
"Ke pesantren," kata Bu Hayyah. "Tebus dosa 28 tahun. Kos ini... mau Ibu wakafin jadi mushola."
Mbak Vanny diem. Terus ngangguk. "Bagus Bu."
Bu Hayyah ngeliatin aku. Lama. "Maaf ya Fai. Ibu udah jadiin kamu tumbal."
Aku geleng. "Udah Bu. Sari udah maafin. Saya juga udah."
Bu Hayyah nangis. Peluk aku kenceng. "Terima kasih Nak..."
Dia lepas. Naik angkot. Pergi.
Nggak noleh lagi.
Jam 15.00.
Aku sama Mbak Vanny masuk ke *Kamar 4* terakhir kali.
Kamarnya kosong. Kasur udah dibuang. Dinding udah dicat putih. Tulisan darah udah hilang.
Tapi di pojok... ada 1 barang.
*Boneka kain*. Yang kebakar minggu lalu.
Tapi ini boneka baru. Bersih. Matanya nggak dijahit.
Di tangannya... ada kertas kecil.
Aku ambil.
Tulisannya: _Makasih udah nemenin aku Fai ;) Jaga diri ya. -Sari_
Aku diem. Air mata jatuh.
Mbak Vanny peluk aku dari belakang. "Dia pergi dengan tenang, Fai."
Aku ngangguk. "Iya Mbak..."
---
*3 Bulan Kemudian *
Aku udah pindah kos baru. Jauh dari kos angker.
Kerja di toko baju. Hidup normal.
HP baru. Nggak ada nomor +62 803 ***_ lagi.
Malam ini jam 23.00.