Evermore

Dear An
Chapter #2

Sebuah Kebetulan

Keheningan yang pekat masih menyelimuti rumah, seolah fajar belum sepenuhnya menyentuh kota Seoul. Di dalam kamar yang dipenuhi aroma terapi lavender, Park Hana membuka mata. Alarm di ponselnya yang terletak di atas nakas bahkan belum berbunyi, tetapi ia sudah terbangun lebih dulu.

Ia bergerak hati-hati, meraih ponsel untuk mematikan alarm sebelum sempat mengusik lelap si kembar yang tidur bersisian di ranjang sebelah. Hana menyibak selimut, merapikan pakaian tidurnya, lalu melangkah keluar kamar. Dinginnya lantai marmer menusuk telapak kaki telanjangnya, namun ia mengabaikannya dan terus melangkah menuju dapur.

Sesampainya di dapur, Hana segera menyiapkan sarapan untuk kedua anak yang masih terlelap. Ia memilih menu sederhana dan bergizi—nasi goreng kimchi dan omelet hangat yang lembut.

Hana mengikat rambut ke belakang, membasuh tangan, lalu menyalakan kompor. Sembari menunggu nasi matang di dalam penanak nasi, tangannya cekatan mengiris kimchi, bawang bombai, dan sayuran segar di atas talenan kayu.

Tak lama kemudian, asap tipis mulai mengepul dari atas wajan beroleskan minyak wijen. Aroma pedas, gurih, dan asam yang khas seketika menguar, memenuhi ruang dapur dan mengusir hawa dingin sisa semalam.

Di sela kesibukannya menumis bahan-bahan sarapan, pikiran Hana melayang pada jadwal padat yang telah menunggunya di gedung agensi TigerLab. Sebagai psikolog klinis, ia bertugas mendampingi para aktor, idol, hingga peserta pelatihan yang berada di bawah naungan manajemen tersebut.

Di tengah gemerlap industri hiburan Korea Selatan yang serba cepat dan menuntut kesempurnaan, Hana tahu betapa rapuhnya kehidupan orang-orang di balik panggung. Tekanan untuk selalu tampil sempurna sering kali menyisakan beban yang tak terlihat. Bagi Hana, mendampingi mereka melewati tekanan dan menjaga kesehatan mental bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati.

​"Mama! Wanginya enak sekali!"

Sebuah suara serak khas bangun tidur meluncur ceria dalam bahasa Korea, membuyarkan lamunan Hana.

Hana menoleh dan mendapati Haejun, putra kecilnya, sudah berdiri di ambang pintu dapur. Langkah anak laki-laki itu masih gontai, sementara jemari mungilnya sibuk mengucek mata untuk mengusir sisa kantuk. Di belakangnya, Jiyoon, sang kembaran, mengekor sembari memeluk boneka kelinci merah muda dengan rambut cokelat tua yang mencuat kusut.

​"Anak-anak Mama yang pintar sudah bangun?" sapa Hana hangat sembari menata piring di atas meja. "Cepat cuci muka dan gosok gigi dulu, ya. Sarapan spesial sudah siap."

​"Siap, Mama!" seru Haejun sembari menarik tangan adiknya menuju kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, ketiganya telah berkumpul di meja makan. Suasana dapur berubah riuh oleh celoteh si kembar. Hana memperhatikan kedua anaknya dengan tatapan penuh kasih, sesekali mengusap remah makanan di sudut bibir Jiyoon.

Usai sarapan, Hana kembali memastikan kedua anak itu siap berangkat. Ia menyisir rambut panjang Jiyoon, lalu mengikatnya menjadi dua kucir kuda. Setelah selesai, Hana beralih pada Haejun yang berdiri di depan cermin, merapikan rompi seragam masih sedikit miring.

“Mama, hari ini yang jemput kita dari sekolah, kan?” tanya Haejun tiba-tiba.

Tangan Hana yang sedang membetulkan kancing seragam Haejun terhenti sejenak. Ia membungkuk hingga sejajar dengan kedua anak itu, lalu mengusap pipi mereka satu per satu.

“Mama belum bisa janji, Sayang. Hari ini jadwal konseling Mama di agensi sangat padat,” ucapnya lembut. “Kalau sesi konseling selesai lebih awal, Mama pasti datang menjemput. Namun, kalau tidak sempat, Tante Miyeon yang akan datang. Tidak apa-apa, ya?”

Haejun dan Jiyoon saling berpandangan. Gurat kecewa sempat melintas di mata kecil mereka, tetapi keduanya akhirnya mengangguk patuh.

“Tidak apa-apa, Ma. Yang penting Mama tidak lupa makan siang,” bisik Jiyoon polos.

Ucapan sederhana itu membuat hati Hana terenyuh. Ia langsung memeluk kedua anak itu erat.

Lihat selengkapnya