Evermore

Dear An
Chapter #3

Kesempatan Tak Terduga

Harmony Psychology berdiri tegak di jantung kota Seoul, sebuah pusat ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan pekerja yang serba cepat. Bangunan tiga lantainya merupakan perpaduan estetis antara beton modern bertekstur dengan dinding kaca dan baja yang berkilauan. Sebuah tangga lurus membentang dengan apik di luar gedung, elemen yang sengaja Hana rancang sebagai daya tarik utama, menghubungkan pintu masuk dengan area parkir di bawahnya.

Park Hana menapaki tangga itu dengan tegas. Ketegasan tersebut berpadu kontras dengan kehangatan senyum yang selalu ia kenakan, memberikan kesan tenang kepada siapa pun yang melihatnya. 

Begitu pintu kaca otomatis terbuka, Hana disambut aroma terapi sandalwood dan lavender. Lobi Harmony Psychology didominasi oleh lantai marmer putih dan interior minimalis bernuansa krem. Palet warna tersebut sengaja dipilih untuk menciptakan suasana nyaman bagi para klien yang datang. Tepat di depannya, meja resepsionis panjang membentang dengan tulisan Harmony Psychology yang elegan menyambutnya.

Hana menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Di sepanjang lorong, beberapa rekan sejawat berlalu-lalang dan sesekali menyapanya. Dari balik meja resepsionis, seorang staf memberikan senyum ramah yang langsung dibalas Hana dengan anggukan kecil. Tak jauh dari sana, beberapa psikolog tampak berdiskusi serius sebelum memulai sesi konseling, sementara staf administrasi sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja mereka.

Suasana pagi di tempat itu terasa cukup sibuk, tetapi tetap teratur. Hana terus melangkah sambil membalas setiap sapaan yang ditujukan kepadanya dengan senyum hangat.

Tiba di depan ruang kerjanya, Hana berhenti sejenak. Jemarinya menggenggam kenop pintu logam yang terasa dingin sebelum memutarnya. Begitu pintu terbuka, ia melangkah masuk dan menutupnya kembali.

Ruangan itu cukup sederhana, tetapi tertata rapi. Meja kerja berada di dekat jendela, dipenuhi beberapa berkas klien dan buku-buku referensi psikologi yang tersusun di salah satu sisinya. Tempat itu sudah menjadi bagian dari keseharian Hana.

Hana meletakkan barang bawaannya, lalu duduk di depan komputer. Ia menyalakan layar dan mulai memeriksa catatan dari sesi sebelumnya. Jemarinya bergerak di atas keyboard, memperbarui catatan klinis sambil sesekali berhenti untuk menelaah data dan perkembangan kondisi masing-masing klien. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya di lorong perlahan menghilang. Perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada pekerjaan di hadapannya. 

Di dalam ruangan yang kedap suara itu, hanya ketukan keyboard yang terdengar, sesekali diselingi gumaman pelan Hana ketika menemukan sesuatu yang perlu diperiksa kembali.

BRAK!

Keheningan kantor seketika buyar. Pintu ruangan Hana menghantam dinding dengan keras setelah didorong secara keras, diikuti sebuah teriakan yang melengking nyaring.

“Hanaaaaa-yaaaa!”

Hana terperanjat. Jemarinya seketika berhenti di atas keyboard. Ia mengangkat kepala dan menoleh ke arah pintu. Suara hantaman yang tiba-tiba itu membuat dadanya berdebar, sementara pandangannya tertuju pada pintu.

Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan penampilan yang cukup mencolok. Blazer dan celana palazzo berwarna merah terang yang dikenakannya tampak serasi, semakin menonjolkan kesan percaya dirinya. Senyum lebar terukir di wajahnya, seolah suara hantaman yang baru saja mengagetkan Hana bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Melihat siapa yang datang, Hana hanya mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya. “Pelan-pelan, Kim Miyeon Biseo-nim. Anda mengganggu ketenangan karyawan lain,” tegurnya dengan suara tenang, namun tegas.

Hana kembali mengarahkan pandangannya ke layar monitor. Ia berusaha melanjutkan pekerjaannya, meski konsentrasinya sudah telanjur buyar.

Miyeon terkekeh, lalu melangkah dengan santai. “Maaf, Hana Sajang-nim,” ucapnya dengan nada manja.

“Ada apa?” tanya Hana singkat tanpa menoleh.

Miyeon menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam kegembiraan yang nyaris meluap. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia meletakkan sebuah berkas tebal tepat di atas meja Hana. “Ini dia,” bisiknya.

Hana melirik berkas itu dari sudut matanya, lalu menunjuknya dengan dagu. “Apa ini?” tanyanya penasaran.

“Aduh, Hana-ya!” Miyeon menjerit tertahan, masa bodoh dengan formalitasnya sebagai sekretaris. Ia mencondongkan tubuh ke depan dengan mata berbinar. “Akhirnya, kita mendapat tawaran kerjasama konseling dengan agensi TigerLab!”

Detik itu juga, Hana membeku. Jemarinya yang tadi bersiap mengetik kini menggantung di udara. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Miyeon dengan mata terbelalak. Hana tahu betul siapa itu TigerLab—agensi raksasa hiburan nomor satu di Korea yang menaungi deretan idola dan aktor papan atas, termasuk Cyber Tyrab, boyband Korea yang popularitasnya telah menembus pasar dunia.

Lihat selengkapnya