Ruangan rapat eksklusif di lantai tertinggi Gedung TigerLab berdiri megah di jantung metropolitan Seoul. Cahaya pagi menjelang siang menerobos masuk melalui dinding kaca panorama yang hampir melingkari ruangan, dan memperlihatkan pemandangan metropolitan yang menakjubkan.
Di tengah ruangan, berdiri meja oval panjang dari marmer hitam yang mengilap, memantulkan cahaya emas dari matahari yang mulai meninggi. Di sekeliling meja, berjejer kursi eksekutif berlapis kulit hitam berkualitas tinggi yang terlihat sangat nyaman, empuk, dan mewah. Saat ini, masing-masingnya sudah ditempati oleh para petinggi perusahaan, semuanya diselimuti aura otoritas yang begitu dingin.
Di depannya, sebuah layar raksasa resolusi tinggi, tertanam di dinding, memancarkan cahaya biru yang terang. Grafik pertumbuhan TigerLab terpampang jelas di sana. Garis kurva itu naik ke atas, membuktikan TigerLab memonopoli seluruh pangsa pasar K-Pop.
Di singgasana kekuasaan tertinggi, Jihoon duduk dengan punggung tegak di ujung meja marmer hitam legam yang tampak sedingin es. Sosoknya yang tak bergeming memantul pekat pada permukaan meja yang mengilap, menciptakan bayangan gelap yang tampak mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya. Di hadapannya, papan nama hitam berukir—Choi Jihoon, Chief Executive Officer—yang tampak berkilau.
Jihoon mengenakan setelan jas double-breasted biru tua dengan motif garis vertikal tipis yang membingkai tubuhnya dengan rapi, menciptakan siluet yang lebih jenjang dan berwibawa. Di balik kerah jasnya, kemeja putih bersih yang kontras berpadu sempurna dengan dasi diagonal bernuansa merah tua dan biru tua. Rambut hitamnya tersisir klimis, membingkai wajah dengan garis rahang tajam seperti pahatan seniman ulung. Namun, sepasang mata biru safirnya yang mematikan itu begitu dingin dan menusuk, terlihat berkilat tajam di bawah pantulan meja marmer.
Jemari Jihoon kini mencengkeram erat lengan kursi kulit, menciptakan derit samar yang memecah keheningan ruangan. Tatapannya bergerak perlahan, dingin dan penuh perhitungan. Ia membagi fokusnya antara grafik pertumbuhan perusahaan yang melesat tajam di layar monitor dan wajah-wajah tegang para direksi yang duduk membeku di depannya.
Jihoon menyesuaikan letak dasinya dengan gerakan yang sangat lambat. Melihat tindakan itu, para direksi menahan napas, tak ada satu pun yang berani bersuara. Di tengah ketegangan itu, Jihoon menyandarkan punggungnya dengan santai, namun tatapannya tetap menghunjam tajam.
Choi Minjae, Direktur Divisi Pelatihan dan Pengembangan, berdeham pelan sebelum memulai diskusi. “Choi Sajangnim, setelah proses seleksi dan pelatihan ketat, kami telah menetapkan lima peserta pelatihan untuk debut. Menurut saya, tahun ini adalah target yang tepat meluncurkan idola baru, mengingat agensi tidak meluncurkannya selama lima tahun. Bagaimana pendapat Anda?” tanyanya hati-hati.
Jihoon tidak langsung menjawab. Ia hanya menggerakkan telunjuknya di permukaan marmer meja. “Bagaimana dengan potensi mereka?” suaranya datar, namun menuntut jawaban.
“Potensi mereka tidak perlu diragukan. Mereka sudah matang secara talenta, dan yang paling penting, mereka siap secara mental,” tegas Minjae, menatap balik mata safir itu dengan keyakinan yang dipaksakan.
Jihoon menggerakkan tubuhnya sedikit ke depan, lalu sorot matanya menghunjam Minjae dengan tajam dan dingin. “Anda yakin?” bisiknya dengan suara berat dan rendah. “Jika masih ada celah—entah itu dalam kemampuan, kesigapan mental, atau standar perusahaan yang belum tercapai sepenuhnya. Tunda debutnya. Saya tidak menoleransi kegagalan.”
Minjae tertegun sejenak, lalu ia menegakkan punggung, menatap CEO-nya tanpa gentar. “Bukankah Anda sendiri yang telah menguji materi mereka secara langsung? Anda tahu kualitas mereka luar biasa. Jika kita terus menunda, kita akan kehilangan momen emas ini. Apa lagi yang kita tunggu, jika persiapan mereka sudah mencapai seratus persen?” sanggahnya.
Ruangan itu seketika menjadi dingin. Para direksi lain yang sedari tadi menyimak langsung menundukkan kepala, memaku pandangan pada catatan di depan mereka, takut terjebak dalam adu argumen antara dua sosok yang paling berpengaruh di TigerLab tersebut. Jihoon terdiam, rahangnya mengetat, dan suasana mencekam mulai menyelimuti ruangan.
Melihat ketegangan yang kian memuncak, Cha Sooyeon—Direktur HRD—segera memecah suasana dengan menginterupsi. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu meletakkan berkas tebal di tangannya ke atas meja marmer.
“Mohon izin, Choi Sajangnim,” ucap Sooyeon tenang. “Saya ingin memberikan perspektif dari sisi kesejahteraan artis kita. Daripada terburu-buru meluncurkan grup baru tahun ini, bukankah lebih bijak jika kita fokus pada manajemen beban kerja idola yang sudah ada? Jadwal world tour mereka saat ini sangat padat. Kita tidak boleh lupa bahwa mereka manusia, bukan sekadar aset penghasil uang yang bisa diperas tenaganya tanpa batas.”
Jung Hanmin, Direktur Keuangan, hanya menarik sudut bibirnya. Pandangannya bahkan tidak beralih dari grafik saham yang terus merayap naik di layar monitor.
“Justru itulah strateginya, Cha Bujangnim,” potong Hanmin dengan santai. “Meluncurkan grup baru, justru akan memberikan jeda bagi grup senior kita tanpa harus mengorbankan pangsa pasar. Grup baru akan menstabilkan arus kas saat para senior beristirahat. Dengan begitu, pendapatan tetap terjaga dan nilai saham kita akan terus melambung tinggi.”
Sooyeon mengangguk tipis, namun matanya menatap tajam ke arah Hanmin. “Jika mekanismenya seperti itu, saya bisa mempertimbangkannya. Namun, jika peluncuran grup baru dan jadwal world tour senior dilakukan bersamaan, saya menolak keras.” Ia menjeda ucapannya, memberi penekanan pada tiap kata yang keluar. “Risiko beban operasional yang berlebih akan berujung pada kekacauan internal. Terlebih lagi, publik tidak akan tinggal diam. Mereka akan melabeli kita sebagai agensi yang mengeksploitasi artisnya. Reputasi perusahaan kita menjadi taruhannya.”
Minjae segera menimpali, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Anda tidak perlu khawatir berlebihan, Cha Bujangnim. Saya sudah merencanakan semuanya. Saya pastikan transisi ini berjalan mulus tanpa membuat artis kita merasa dieksploitasi.”
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Minjae atau Hanmin, tatapan Jihoon terkunci pada Sooyeon. “Cha Bujangnim, bagaimana hasil sesi konseling idola kita dengan pihak psikolog?” tanyanya, memecah ketegangan.
Sooyeon segera bergerak sigap. “Secara keseluruhan, hasilnya memuaskan, Choi Sajangnim. Namun, ada beberapa nama yang menunjukkan tingkat stres yang mengkhawatirkan akibat tekanan publik dan beban kerja yang berlebihan. Semua detailnya sudah saya lampirkan di sana,” ucapnya sembari mendorong berkas itu.
Jihoon menerima berkas tersebut. Jemarinya membalik halaman dengan tenang. Matanya menyapu ringkasan di halaman depan dengan cepat, hingga tiba-tiba, gerakan tangan itu terhenti. Tatapannya terpaku pada satu nama. Ada secercah kilat kesenangan yang melunak di balik sorot mata safir itu, sebelum akhirnya wajah Jihoon kembali mengeras, sedingin es.