Evermore

Dear An
Chapter #4

Satu Nama

Ruangan rapat eksklusif di lantai tertinggi Gedung TigerLab berdiri di tengah hiruk-pikuk Seoul. Cahaya pagi menjelang siang menerobos dinding kaca panorama yang hampir mengelilingi ruangan, menampilkan pemandangan kota yang membentang luas.

Di tengah ruangan, sebuah meja oval panjang dari marmer hitam menjadi pusat perhatian. Di sekelilingnya berjejer kursi eksekutif berlapis kulit hitam yang telah ditempati para petinggi perusahaan. Masing-masing duduk dalam diam, menunggu rapat dimulai.

Ketika pintu ruangan terbuka, seluruh perhatian langsung beralih kepada Jihoon yang baru saja masuk. Ia berjalan menuju kursinya di ujung meja, lalu duduk dengan punggung tegak. Papan nama hitam bertuliskan Choi Jihoon, Chief Executive Officer terletak tepat di hadapannya.

Di belakangnya, layar raksasa yang tertanam di dinding menampilkan grafik pertumbuhan TigerLab. Garis kurva yang terus menanjak menunjukkan posisi perusahaan yang semakin kuat di industri K-Pop.

Jihoon mengenakan setelan jas double-breasted biru tua dengan motif garis vertikal tipis yang membingkai tubuhnya dengan rapi. Kemeja putih bersih berpadu dengan dasi diagonal bernuansa merah marun. Rambut hitamnya tersisir rapi, menonjolkan garis rahang tegas pada wajahnya. Sepasang mata biru safirnya menyapu seluruh ruangan tanpa banyak ekspresi.

Jemarinya sempat mencengkeram lengan kursi, lalu perlahan mengendur. Tatapannya beralih dari grafik di layar menuju para direksi yang duduk di hadapannya.

Jihoon membenahi letak dasinya dengan tenang. Gerakan sederhana itu cukup membuat beberapa orang di meja rapat menahan napas. Setelahnya, ia menyandarkan punggung dan menunggu siapa yang akan membuka pembicaraan.

Choi Minjae, Direktur Divisi Pelatihan dan Pengembangan, berdeham pelan sebelum akhirnya bersuara. “Choi Sajangnim, setelah proses seleksi dan pelatihan yang cukup ketat, kami telah menetapkan lima peserta pelatihan untuk debut. Menurut saya, tahun ini adalah waktu yang tepat untuk meluncurkan grup baru, mengingat agensi belum meluncurkan grup idola selama lima tahun. Bagaimana pendapat Anda?” tanyanya hati-hati.

Jihoon tidak langsung menjawab. Telunjuknya hanya mengetuk permukaan meja sekali. “Bagaimana dengan potensi mereka?” tanyanya datar.

“Potensi mereka tidak perlu diragukan. Mereka sudah matang secara talenta dan, yang paling penting, siap secara mental,” jawab Minjae tegas, meski sorot matanya menyimpan sedikit keraguan.

Jihoon sedikit mencondongkan tubuh. Tatapannya tertuju lurus kepada Minjae. “Anda yakin?” tanyanya dengan suara rendah. “Jika masih ada celah, entah dalam kemampuan, kesiapan mental, atau standar perusahaan yang belum tercapai sepenuhnya. Tunda debutnya. Saya tidak mentoleransi kegagalan.”

Minjae terdiam sejenak, kemudian menegakkan punggung. “Bukankah Anda sendiri yang telah menguji mereka secara langsung? Anda tahu kualitas mereka luar biasa. Jika kita terus menunda, kita akan kehilangan momentum. Apalagi yang kita tunggu jika persiapan mereka sudah mencapai seratus persen?” sanggahnya.

Ucapan Minjae membuat suasana di ruang rapat berubah. Beberapa direktur yang semula sibuk dengan berkas masing-masing kini mengangkat pandangan, tetapi tak seorang pun berani ikut menyela. Mereka hanya saling melirik sekilas sebelum kembali diam.

Jihoon tidak segera menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Minjae, membuat ketegangan di dalam ruangan semakin terasa. Tak seorang pun ingin ikut terseret dalam perdebatan di antara keduanya.

Rahang Jihoon mengeras. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Cha Sooyeon, Direktur HRD, segera mengambil alih pembicaraan.

“Mohon izin, Choi Sajangnim,” ucap Sooyeon tenang. Ia meletakkan berkas tebal di atas meja. “Saya ingin memberikan perspektif dari sisi kesejahteraan artis. Daripada terburu-buru meluncurkan grup baru tahun ini, bukankah lebih bijak jika kita fokus pada manajemen beban kerja idola yang sudah ada? Jadwal world tour mereka saat ini sangat padat. Kita tidak boleh lupa bahwa mereka manusia, bukan sekadar aset perusahaan.”

Lihat selengkapnya